Riya’ dan Ikhlas di Mata Hujjatul Islam

Source: goodreads.com

Penulis: Fatih Madini

Tazkiyatun Nafs

Tazkiyatun nafs merupakan esensi dalam ajaran Islam itu sendiri,” ujar Ustadz Nirwan Syafrin di awal pemaparannya dalam sesi pertama Seri Kajian Ramadhan: Tazkiyatun Nafs bertajuk “Riya dan Ikhlas Menurut Imam al-Ghazali yang diselenggarakan oleh PIMPIN pada hari Sabtu, 17 April 2021 pukul 15.30-17.15 WIB.

Salah seorang pendiri INSISTS itu menjelaskan bahwa jatuh-bangunnya suatu peradaban, umumnya juga disebabkan oleh baik-tidaknya jiwa manusianya. Itulah mengapa kata “aflaha” (berhasil/berjaya) disematkan oleh Allah bagi orang yang senang menyucikan jiwanya (QS 87: 14 & 91: 9) dan “khaaba” (merugi) bagi yang sebaliknya (QS 91: 10).

Beliau mengutip al-Harits al-Muhasibi dalam Adab an-Nufus-nya yang mengibaratkan aktivitas tazkiyatun nafs sebagai pondasi. Antara meninggalkan keburukan dan mengerjakan kebaikan memang tak boleh dipisahkan. Tapi ia lebih menekankan yang pertama. Lebih jauh al-Muhasibi mengatakan:

“Terkadang mungkin saja sebuah bangunan yang runtuh menyisakan pondasinya. Tapi jika pondasi runtuh mustahil sebuah bangunan masih berdiri. Maka barang siapa yang tidak bersuci sebelum beramal, sesungguhnya keburukan akan mencegahnya dari memperoleh manfaat dan kebaikan. Maka meninggalkan keburukan lebih utama bagi seseorang baru kemudian mencari kebaikan. Karena meninggalkan keburukan lebih berat dibandingkan dengan melakukan ketaatan. Seorang hamba tidak dimestikan untuk melakukan seluruh kebaikan. Tapi, tidak ada kejahatan yang bisa dipilihnya untuk tidak ditinggalkan. Barangsiapa yang meninggalkan keburukan, otomatis ia telah mendapat kebaikan. Tapi, setiap orang yang berbuat baik belum tentu terhindar dari keburukan”.(Sebagaimana orang yang shalat belum tentu tidak riya’. Tapi meninggalkan riya’, otomatis menjadi ikhlas).

Merujuk pada Ihya’-nya Imam al-Ghazali, Ustadz Nirwan menyampaikan bahwa tazkiyatun nafs merupakan fardhu ‘ain, karena sulitnya manusia menghindari dorongan-dorongan penyakit hati. Namun, tidak mungkin bisa membersihkan hati, kalau tidak tahu penyakit hati. Mulai dari definisi sampai batasan-batasannya.

Pada hakikatnya, proses tazkiyatun nafs meliputi tiga hal: (1) Takhalli (membersihkan kotoran terlebih dahulu, dalam konteks ini riya’). (2) Tahalli (menghiasi hati yang kosong dari kotoran itu dengan sifat-sifat baik, dalam hal ini ikhlas). (3) Tajalli (Tampaklah pancaran cahaya dari hatinya berkat hiasan tadi).

Pembahasan riya’ dan ikhlas di kajian ini berkisar pada kitab Ihya’ ‘Ulumiddin. Sebagaimana diketahui, Ihya’ dibagi menjadi empat bidang oleh al-Ghazali: ‘ibadat, ‘adat, muhlikat dan munjiyat.

Bab mengenai riya’ terdapat dalam aspek muhlikat (hal-hal yang membinasakan). Sedangkan ikhlas ada dalam munjiyat (hal-hal yang menyelamatkan).

Riya’

Ustadz Nirwan menuturkan bahwa banyak firman Allah yang berbicara seputar riya’. Misalnya, al-Ma’un: 4-7, al-Insan: 9, dan al-Kahfi: 110. Hadits pun demikian. Contohnya, “Yang paling aku takuti dari umatku adalah syirik kepada Allah, bukan karena menyembah matahari, bulan dan berhala, tapi ketika ia mempersembahkan amal kepada selain Allah dan syahwat tersembunyi.” (HR. Ibnu Majah).

Esensi riya’ adalah mencari kedudukan di hati manusia atau perhatian darinya dengan ibadah. Kalau bukan ibadah, maka bukan riya’ yang diharamkan dan tidak dapat pahala. Tentu ibadah yang dimaksud bukan hanya ibadah mahdhah saja.

Objeknya, antara lain: fisik, pakaian, perkataan, perbuatan, pengikut atau sesuatu yang eksternal. Riya’ adalah pamer. Sebab, kelima objek itu tidak akan ia “riya’kan” kalau kelima-limanya tidak mempunyai kelebihan.

Menariknya, Imam Ghazali membagi riya’ menjadi empat tingkatan. Pertama, sama sekali tidak diniatkan untuk dapat pahala, tapi semata-mata karena manusia. Ia sangat tercela di sisi Allah.

Seperti orang yang shalat karena manusia dan sedekah karena takut dicela manusia. Keberadaannya di tengah manusia memicunya untuk riya’. Bahkan tanpa wudhu pun ia akan shalat selama ada dilihat orang. Padahal kalau sedang sendiri, “ogah-ogahan”.

Kedua, masih ada niat untuk cari pahala, tapi keinginan itu lemah sekali. Jadi, tujuan cari pahalanya itu tidak memicunya untuk beramal. Yang bisa adalah tujuan selain itu. Kalau sedang sendiri, nyaris tidak dilakukan.

Ketiga, tujuan pahala dan tujuan selainnya sama. Kalau terpisah, tidak jadi beramal. Tapi kalau bersatu, akan memantiknya untuk beramal. Namun, tetap saja, mau terpisah atau tidak, dua-duanya masuk dalam kategori riya’.

Keempat, niatnya sudah karena Allah dan mau dapat pahala tapi masih ada tujuan selainnya. Tujuan lainnya hanya untuk penguat saja. Sehingga ketika sedang sendiri pun, ia tetap beribadah. Hanya saja, ketika orang lain melihat, ia tambah semangat beramal. Inilah tingkatan terendah dari riya’.

Ikhlas

Sebagaimana riya’, Ustadz Nirwan mengatakan bahwa al-Ghazali juga mengutip beberapa ayat terkait ikhlas seperti al-Bayyinah: 5 dan al-Kahfi: 110. Begitu pula Hadits. Misalnya yang berbunyi: “Ikhlas itu adalah salah satu rahasia dari rahasi-rahasiaku, aku menitipkannya kepada hati orang-orang yang aku cintai di kalangan hambaku” dan “Ada tiga hal yang mana hati seorang mukmin tidak akan terkecoh, (salah satunya adalah) hati yang ikhlas beramal karena Allah.”

Beliau melanjutkan, umumnya ikhlas punya dua makna: (1) Seimbang antara apa yang ada di dalam (hati) dan luar diri (amal). (2) Membersihkan amal dari semua kotoran, sedikit ataupun banyak, sehingga ketika ia beramal tujuannya betul-betul hanya untuk akhirat dan taqarrub ilallah, tidak ada yang lain. Intinya, tujuannya suci: hanya untuk taqarrub ilallah.

Kalau ada perbuatan dengan motivasi mulia di atas tapi disertai unsur lain sehingga amal yang kita perbuat terasa lebih ringan dan nikmat, maka sungguh amalnya sudah keluar dari keikhlasan.

Berarti, tidak bisa dikatakan ikhlas atau keluar dari batas ikhlas ketika niat untuk meraih ridha Allah atau beribadah dalam rangka mendekatkan diri kepada-Nya diselingi dengan niat-niat duniawi lainnya seperti niat ingin mendapat manfaat fisik dari puasa, jalan-jalan ketika haji, terhindar dari akhlak buruk tatkala membebaskan budak, dan lain sebagainya.

Wakil rektor UIKA Bogor ini menerangkan pendapat Imam al-Ghazali bahwa metode meraihnya tidak lain dan tidak bukan adalah dengan memutuskan syahwat diri dan dunia, dan beralih pada akhirat. Semata-mata untuk akhirat dan Allah. Dengan begitu ikhlas akan mudah didapat.

Tidak bisa orang itu ikhlas kecuali ia benar-benar cinta kepada Allah dan akhriat sebagai tujuan utamanya. Sehingga tidak ada sedikitpun rasa cinta terhadap dunia.

Keinginannya untuk Allah dan akhirat itu seperti qadha’ hajat, natural, tidak dibuat-dibuat apalagi dipaksakan, dan tanpa penyesalan. Ia menginginkan makanan bukan karena itu makanan, melainkan supaya tubuhnya kuat ibadah.

Imam Hujjatul Islam mengingatkan supaya kita tidak terjebak dengan tipuan ikhlas. Misalnya orang berilmu (dan merekalah yang paling cenderung terjebak).

Mereka mengatakan bahwa tujuannya adalah menyebarkan agama Allah, tapi dalam hatinya ada perasaan gembira kalau pendapatnya diikuti banyak orang, senang kalau dia mendominasi, gembira kalau dapat pujian, dll.

Ahli ibadah pun demikian. Dalam sebuah kisah ada seseorang yang sudah shalat di shaf depan selama 30 tahun. Tapi suatu hari ia shalat di shaf kedua. Karena itu, ia malah merasa tidak enak dengan komentar atau pandangan orang lain. 

Begitu juga dengan ahli ibadah yang senang beri’tikaf di masjid yang bagus dan bersih. Lalu setan mendorongnya untuk berlama-lama disana. Katanya ia mau mendapat keutamaan i’tikaf. Padahal diam-diam ia senang berlama-lama karena keindahan dan kenyamanan masjid itu (inilah salah satu contoh syahwat tersembunyi).

Artinya, menjadi ikhlas itu tidak gampang. Butuh proses dan tahapan yang panjang. Saking susahnya, al-Ghazali sampai berucap, mengetahui esensi ikhas dan mengamalkannya adalah lautan yang dalam, banyak orang yang tenggelam.

Hanya pribadi yang terpilih dan orang-orang yang dikecualikan oleh Allah (dalam ayat “illa ibadakal mukhlashin”) saja yang mampu meraihnya.

“Bahkan orang yang mengatakan atau merasa dirinya ikhlas pun bisa jadi tidak ikhlas. Begitu juga dengan orang yang bilang, “udah diikhlaskan saja lah,” ujar murid Prof. al-Attas itu di akhir paparannya.

Penutup

Pujian, adalah fitrah manusia. Tapi, tidak berarti fitrah itu harus disenangi. Memang, ketika manusia berusaha mendapat pujian, dia akan berusaha berbuat sesuatu yang hebat dengan kesungguhan yang menyertainya.

Tapi sebagai manusia yang lemah dan tidak berdaya, tidaklah pantas menerima pujian melainkan hanya Tuhanlah yang berhak mendapatkannya.

Oleh karena itu setiap mendapat sanjungan ataupun pujian, jangan pernah bangga dan merasa hebat. Sebab itulah penyakit hati. Tapi pandanglah pujian itu sebagai tantangan bagi kita untuk istiqamah dalam keikhlasan dan juga sebagai sesuatu yang tidak seharusnya kita dapatkan.

Itu sebabnya kita dituntut untuk berkata al-hamdulillah. Karena memang Dialah yang sudah semestinya mendapatkan pujian dari makhluk yang telah Ia ciptakan dengan penciptaan yang terbaik di muka bumi ini.

Untuk ikhlas memang sulit. Tapi tidak mustahil. Lagipula, bukankah lebih baik mencoba dan berusaha daripada tidak sama sekali.

(Tulisan ini merupakan rangkuman dari sesi 1 seri kajian Ramadhan: Tazkiyatun Nafs yang diselenggarakan oleh PIMPIN dengan tema “Riya dan Ikhlas Menurut Imam al-Ghazali”, dibentangkan oleh Dr. Nirwan Syafrin pada Sabtu, 17 April 2021/5 Ramadhan 1442).

Editor: Muhamad Ridwan

Total Page Visits: 3270 - Today Page Visits: 3

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.