Ringkasan Ngaderes Buku Islam dan Sekularisme hlm. 93 – 101

Tema dominan yang mewarnai pertemuan ini ialah mengenai konsep keadilan yang seterusnya memiliki kaitan dengan marātib ilmu. Pada pembahasan kali ini disentuh juga mengenai cardinal virtues atau nilai-nilai kebajikan yang bersumber dari keadilan (justice) yaitu: keberanian (courage), kesederhanaan (temperance) dan kebijaksanaan (wisdom). Kemampuan manusia untuk bersikap adil pada diri sendiri akan melahirkan sifat-sifat mulia ini yang akan membawa seseorang pada kebebasan (diri) yang sesungguhnya. 

Berbeda dengan agama dan filsafat lain, Islam sangat mengutamakan tindakan adil pada diri sendiri. Keadilan dalam Islam tidak hanya dimaknai ketika seseorang berhubungan dengan orang atau pihak lain, melainkan terlebih dahulu dan terutama ialah hubungan seseorang dengan dirinya sendiri. Mengutip kalimat Prof Al-Attas, “kita menjawab dengan tegas dan menambah lebih jauh bahwa keadilan dan ketidakadilan memang bermula dan berakhir dengan diri”. Dengan demikian konsep zalim sebagai lawan dari bertindak adil ialah bermula dari diri sendiri, sehingga apabila seseorang berbuat zalim terhadap orang lain berarti terlebih dahulu ia telah berbuat zalim terhadap dirinya. 

Jikapun ada konsep zalim dalam peradaban lain mengenai tindakan menyakiti diri sendiri atau bahkan fenomena bunuh diri misalnya, tindakan buruk yang disematkan pada pelakunya semata-mata dalam konteks perannya sebagai warga negara dan bukan sebagai diri individu. Sehingga ketidakadilan tersebut jikapun dapat dipandang demikian buruk, ialah karena dampak yang ditimbulkannya kepada negara dan masyarakat yang turut terugikan dengan perilaku tersebut.

Perbuatan tidak adil terhadap diri memiliki perhatian yang sangat besar dalam Islam bahkan ia menjadi dasar atas kesaksian anggota tubuh seperti mata, lidah, tangan, kaki dan anggota tubuh yang lain di hari akhir kelak. Setiap diri kita akan dimintai pertanggung jawaban apakah selama di alam dunia semua ‘modal’ yang ‘dipinjamkan’ Allah Subhanahu wa Ta’ala digunakan sebagaimana Sang Pemilik kehendaki? Keadilan yang berujung pada kebahagiaan seorang insan hanya bisa dicapai apabila ia menggunakan segala potensi yang ada padanya untuk memenuhi tujuan penciptaannya.

keadilan secara tidak langsung menyatakan ilmu tentang tempat yang benar dan tepat untuk sesuatu benda atau suatu makhluk; tentang yang benar sebagai lawan kepada salah; berlawanan dengan kerugian spiritual; tentang kebenaran sebagai lawan kepada kepalsuan.”

Oleh karena keadilan terkait rapat dengan ilmu akan segala sesuatu, maka berusaha untuk adil terhadap ilmu adalah penting. Sikap ini akan membawa seseorang pada hikmah atau kebijaksanaan. Adil terhadap ilmu dapat dicapai dengan mengenali jenis dan maratib ilmu. Ilmu terbagi menjadi dua jenis; (1) ilmu ma’rifah yang merupakan karunia dari Allāh disebabkan karena ketaatan seseorang yang sering disebut sebagai ilmu laduni dan (2) ‘ilmu yang diperoleh dari hasil usaha manusia secara langsung yang disebut ilmu kasbi. Ilmu jenis pertama menempati kedudukan paling penting dalam Islam, sebab ilmu ini tidak bisa dicapai manusia melalui upaya rasionalnya, ilmu jenis ini diberikan Allah melalui wahyu yang sampai kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alayhi wasallam sehingga hanya bisa diterima oleh manusia apabila mereka melakukan perbuatan penyembahan dan ketaatan kepada-Nya. Ilmu jenis pertama ini, apabila dapat benar-benar dihayati oleh setiap muslim dan diamalkan dalam perbuatan pengabdian kepada Allah Swt., maka ia bisa mencapai derajat yang paling tinggi yaitu ihsan sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits Rasulullah Saw. 

Jenis ilmu kedua (‘ilm) ialah ilmu yang dapat diusahakan pencapaiannya melalui akal dan pancaindera seseorang, ia juga bisa bersifat diskursif dan deduktif baik melalui pengalaman maupun pengamatan manusia. 

Prof al-Attas memberikan analogi menarik yang dapat memudahkan pembaca untuk memahami kedua jenis ilmu yang pada bagian lain disebut juga sebagai ‘ilmu pengenalan’ untuk jenis ilmu pertama dan ‘ilmu pengetahuan’ untuk jenis ilmu kedua. Perumpamaan hubungan kedua jenis ilmu tersebut ialah seperti hubungan seseorang dengan tetangganya. Ilmu jenis kedua (ilmu pengetahuan/’ilm) seperti halnya gambaran seseorang yang diperoleh melalui pengamatan dan pemerhatian semata mengenai tetangga yang tak dikenalnya. Sebaik apapun pengamatan yang dilakukan, sulit untuk seseorang mendapat informasi secara utuh, benar dan sempurna, kecuali bila seseorang tersebut mendapat konfirmasi langsung melalui pengakuan si tetangga. Cara ini hanya bisa didapatkan melalui pengenalan dan komunikasi langsung dengannya. Mengenalnya secara pribadi akan memudahkan seseorang mendapatkan konfirmasi mengenai hal-hal yang telah diamati sebelumnya.

Pengenalan yang berbeda daripada sekedar pengetahuan  inilah yang dimaksud prof al-Attas sebagai jenis ilmu pertama (ma’rifat). Mudah untuk memahami mengapa kedudukan jenis ilmu ini lebih tinggi, sebab ilmu-ilmu yang sebelumnya telah diketahui mendapatkan kepastian kebenaran dan kedudukannya secara langsung justru melalui jenis ilmu pertama ini. Dihubungkan dengan perumpamaan tadi, ilmu pengenalan dicapai ketika seseorang telah mengenal betul tetangganya dan atas perkenan tetangga yang telah menjadi karibnya, ia bersedia menyatakan keadaan, perasaan dan kondisi dirinya sendiri.

“Karena ilmu seperti itu sepenuhnya bergantung kepada kemurahan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan memerlukan banyak usaha serta perbuatan dan amalan pengabdian kepada Allah, sebagai prasyarat untuk kemungkinan mencapainya.”

Ilmu-ilmu syariah ada pada level ini, sehingga ketika seorang Muslim mempelajari apa yang disebut dengan ‘ilmu agama’ serta mengamalkan praktik-praktik yang terkandung di dalamnya, sebenarnya ia telah memperoleh ilmu yang diterangkan secara langsung itu, yang diberikan begitu saja melalui risalah Baginda Nabi Muhammad Shalallahu ‘alayhi wasallam dan bukan sekedar penelusuran akal, pengamatan juga pengalaman pribadi seseorang. Oleh karena itu, seorang Muslim meski ia awam, namun apabila ia menuntut dan melaksanakan ilmu yang termasuk fardhu ‘ain ini, sebenarnya ia telah dibekali oleh sesuatu yang berharga sebagai modal dirinya dalam mengarungi kehidupan. 

“…setiap manusia Islam sesungguhnya berada pada tingkat permulaan dari ilmu yang pertama itu; ia bersiap di Jalan yang Lurus (al-sirat al-mustaqim) menuju kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Tulisan ini merupakan catatan dari Acara Ngaderes Islam dan Sekulariame bersama Usep Mohamad Ishaq, Ph.D.

Editor: Usep Moh. Ishaq, Ph.D
Penulis : Sakinah Fithriyah

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.