Ringkasan Ngaderes Buku Islam dan Sekularisme hlm. 153-160

Para sarjana serta cendekiawan Muslim yang menganut sekularisme dan menderita kehilangan adab telah menyebabkan permasalahan yang serius dalam tubuh umat Islam. Hal ini berdaya mengubah apa yang telah kita anggap sebagai sumber dan sebab luaran dari dilema kita, menjadi sebab dalaman karena para sarjana dan cendekiawan ini telah menjadi wakil-wakil kebudayaan Barat dalam tubuh kaum Muslimin. 

Melalui mereka yang telah terbaratkan itu, sifat ilmu fardhu ‘ayn dan kaidah pendekatannya dikacaukan dengan sifat ilmu dan kaidah pendekatan fardhu kifayah. Rumusan-rumusan mereka bukan hanya akan menyebabkan proses deislamisasi dalam fikiran umat Islam, tetapi juga membuat kehilangan adab sebagai kenyataan yang tersebar luas. Hal ini tidak saja berpotensi untuk menghasilkan kekeliruan teoritis, tetapi juga kesalahan praktis yang nyata.

Deislamisasi ini terjadi begitu jelas dan parah khususnya di Malaysia dan Indonesia yang memang telah berlaku sejak zaman kolonial. Deislamisasi yang dilakukan kepada orang-orang Islam oleh pemerintah penjajah Barat beserta para pemikir kolonial dilakukan dengan beberapa cara, di antaranya adalah: (1) Menceraikan hubungan pedagogi antara Kitab Suci al-Qur’an dan bahasa setempat dengan cara membangun sistem pendidikan sekular di mana suku dan kebudayaan tradisional lebih ditekankan. (2) Memasukkan ke dalam fikiran sarjana dan cendekiawan Muslim filsafat dan berbagai cabang ilmu sains yang telah tersekularkan, juga melalui ilmu-ilmu humaniora seperti antropologi, sosiologi, linguistik, psikologi, dan prinsip serta kaidah pendidikan. Cabang-cabang ilmu ini menjadi semacam senjata epistemologi yang membawa deislamisasi ke dalam fikiran umat Muslim. 

Pelajaran bahasa dan kesusasteraan yang merupakan sendi-sendi budaya bagi pengenalan dan penguatan islamisasi, terkena imbas yang besar sehingga menjadi masalah yang utama. Romanisasi bahasa dari yang semula berhuruf Arab, menjadi jalan berangsur-angsur pemisahan hubungan leksikal dan konseptual antara umat Islam dengan sumber Islam sehingga banyak konsep penting berkaitan dengan Islam dan pandangan alamnya kehilangan kejernihan dan menjadi kabur.

Maka, bidang-bidang  ilmu linguistik dan antropologi pun diperkenalkan sebagai sarana metodologi untuk pelajaran bahasa dan kebudayaan. Nilai serta model Barat juga mewarnai disiplin filologi untuk pelajaran kesusasteraan dan sejarah. Sehingga pada gilirannya, wartawan dan para penulis juga turut menyumbang kepada kecacatan nilai dan ungkapan kesusasteraan yang dibangun oleh Islam. Syed Muhammad Naquib al-Attas menyatakan:

“Penempatan yang salah pada pengaturan yang murni rasional oleh para sarjana dan cendekiawan yang tidak cukup dilengkapi dengan ilmu tentang Islam dan pandangan alamnya, cenderung menurunkan Islam hingga setingkat dengan agama yang lain, sehingga Islam seakan-akan menjadi tajuk yang tepat untuk filsafat dan sosiologi agama”.

Beliau juga mengatakan:

“Jika para sarjana dan cedekiawan Muslim yang sekular membiarkan dirinya bingung dan dibiarkan mengelirukan pemuda Islam dalam ilmu, maka deislamisasi fikiran orang Islam akan berlangsung terus dengan kegigihan dan dilaksanakan dengan lebih hebat, dan akan mengikuti jalan sekularisasi yang sama pada generasi mendatang”.

Deislamisasi fikiran umat Islam ini mengakibatkan berbagai hal yang sangat serius, di antaranya:

1. Menyebabkan perpecahan kesadaran di dalam solidaritas umat; pemisahan orang Islam masa lalu dari kesadaran orang Islam masa sekarang, 

2. Menyebabkan terbinanya suatu sistem pendidikan yang dirancang, dari tingkat yang dasar sampai yang tertinggi, untuk melestarikan ideologi sekular; 

3. Membangkitkan berbagai bentuk cauvinisme dan sosialisme

4. Menghidupkan kembali semangat Jahiliyah yang menganjurkan kembali kepada nilai dan tradisi kebudayaan pra Islam, dll.

Profesor al-Attas menekankan bahwa yang dimaksud kehilangan adab tidak hanya berarti kehilangan ilmu, tetapi juga kehilangan upaya dan kemampuan untuk mengenali dan mengakui para pemimpin yang sejati. Para pemimpin di sini yang paling utama ialah pemimpin dalam ilmu, yakni ulama Islam yang memiliki kearifan intelektual dan spiritual serta budi, para sarjana, para wali dan orang-orang yang bijaksana yang sebenarnya masih berbicara kepada kita melalui karya-karya mereka, mengajar, memperingatkan dan membimbing kita. Hanya orang yang mengenal dan mengakui kedudukan mereka sajalah yang akan memperoleh keuntungan darinya. Sedangkan mereka yang tidak mengakuinya, mencoba menyejajarkan diri dengan kemuliaan mereka bahkan sampai merendahkan martabat mereka, tidak akan memperoleh keuntungan. 

Menempatkan para pemimpin sejati pada tempat yang sangat tinggi dan menempatkan diri kita di bawah mereka bukanlah berarti memuja mereka. Sujudnya para malaikat kepada Nabi Adam alayhissalam tidak berarti bahwa malaikat menyembah Nabi Adam alayhissalam. Itu karena para malaikat tidak memandang kepada tanah liat yang merupakan asal kejadian Nabi Adam alayhissalam, tetapi mereka mengenali dan mengakui ruh yang dihembuskan Allah ke dalam diri beliau serta ilmu yang Allah anugerahkan kepadanya. Hanya Iblis yang melihat Adam sekadar tanah liat semata dan menolak untuk mengakui keunggulan hakikat Adam ‘alayhissalam. Ia memandang hina bersujud di depannya meskipun itu atas kehendak Allah.


Tulisan ini merupakan catatan dari Acara Ngaderes Islam dan Sekulariame bersama Usep Mohamad Ishaq, Ph.D.

Editor : Muhammad Ridwan
Penulis : Sakinah Fithriyah

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.