Prof. H.M Rasjidi; Pemikir yang Melewati Zamannya

Oleh:

Rushdie Kasman

(Peneliti PIMPIN)

 

Suatu hari di tahun 1958, orientalis kaliber dunia bernama Prof. Joseph Schacht memberikan ceramah di Universitas Mc Gill, Kanada. Secara terbuka, Schacht menyatakan bahwa hukum Islam adalah arbitrage, karena waktu itu tidak ada hukum tertulis yang dijadikan tempat mencari keadilan. Dengan kata lain, karena Nabi Muhammad SAW tidak mendirikan pemerintahan tapi hanya membentuk ummah, maka segala perselisihan diselesaikan menurut arbitrage. Karena itulah, kata-kata yang dipakai untuk mengetengahkan suatu sengketa adalah hakama yang berarti “penengah” wasit, dan bukan qadha yang berarti memutuskan. Hal itu sama saja dengan mengatakan bahwa nabi Muhammad SAW tidak pernah menyusun suatu konsep kenegaraan.

Mendengar pidato Schacht itu, seorang associate professor berkulit sawo matang dan berwajah teduh itu menyampaikan sanggahan. Lelaki sawo matang itu menyatakan bahwa Prof. Schacht keliru memahami bahasa Arab. Kata hakama dan qadha di dalam Al Qur’an merupakan sinonim, dua kata yang mempunyai arti sama. Sanggahan lelaki berkulit sawo matang itu membuat suasana menjadi gempar. Karena, ada orang yang secara lantang menyanggah pemikir ternama sekaliber Schacht. Dan, lelaki sawo matang yang berwajah teduh itu adalah Professor Haji Muhammad Rasjidi.

Demikian pengantar dalam acara bedah Buku, Empat Kuliah Agama Islam Pada Perguruan Tinggi, yang diadakan oleh DISC UI di Masjid Al Ukhuwah Al Islamiyah. Pembicara yang dihadirkan siang itu, antara lain DR. Adian Husaini, dari INSIST dan Prof. Akhyar, dari UI namun beliau berhalangan hadir.

Secara pribadi, ustadz Adian -sapaan akrab ustadz Adian Husaini- menyanjung kehadiran buku Empat Kuliah Agama Islam Pada Perguruan Tinggi Prof H,M Rasjidi, sebab sangat tepat waktu, disaat gencar-gencarnya pemikiran sekularisme yang tumbuh pada masa orde baru. Dan, beliau juga mengakui mulai membaca buku Prof Rasjidi sejak masih duduk di semester satu.

Prof. H.M RASJIDI

Prof. HM Rasjidi adalah Seorang yang memiliki pribadi yang tenang, tidak berapi-api dalam berceramah atau pidato dan seseorang yang memiliki kemampuan meliputi, Hadits, Qur’an, Syariah, filsafat, dan menguasai paham Kejawaan. Tegas Ustadz Adian.

Menurut ustadz Adian, Pada tahun 1972 hingga 1974, sekularisasi menjadi bagian dari proyek yang dikembangkan oleh Pemerintah. Pada saat itu, Prof. Rasjidi banyak menulis karya-karya ilmiah yang mengkritisi Pemerintah.

Tahun 1972 Prof Rasjidi menulis sebuah buku untuk mengkritisi Nurcholish Majid. Sesuatu yang cukup menarik adalah pada saat itu Nurcholish Madjid baru lulus S1, tegas ustadz Adian.

Tahun 1974, Prof Rasjidi melakukan kritik keras terhadap buku Harun Nasution, yang berjudul Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya yang digunakan sebagai buku wajib di IAIN. Satu hal yang menarik, antara Harun Nasution dan Prof Rasjidi adalah kedekatan antara mereka berdua. Ibu Rasjidi menuturkan, bahwa kedekatan keluarga mereka dengan Harun Nasution, sudah seperti keluarga. Bahkan, saat Harun Nasution melakukan studi di Mc Gill, karena rekomendasi dari Prof Rasjidi.

Prof Rasjidi merupakan orang pertama yang menjadi associate Professor di Mc Gill, Kanada. Pada saat itu, dia pernah mengkritik pemikiran Prof Joseph Schacht –pemikir orientalis yang terkenal saat itu. Bagi ustadz Adian, buku Empat Kuliah Agama Islam Pada Perguruan Tinggi berdasar data-data referensi yang sangat sarat.

Pak Rasjidi adalah tokoh besar, tapi namanya tidak seterkenal pemikir-pemikir lain, seperti Nurcholish dan Harun Nasution, karena Prof Rasjidi kurang akrab dengan media. Pemikiran Prof Rasjidi kala itu sangat keras dalam mengkritisi masalah sekularisasi. Ustadz Adian mengistilahkan, Prof Rasjidi saat itu mengikuti jalan yang tidak popular, karena pada saat itu pemerintah lagi sedang akrab dengan masalah Sekularisasi.

Buku Prof Rasjidi dapat dikatakan sebagai salah satu satu buku yang melampaui zamannya. Pada Bab pertama, Prof Rasjidi membahas tentang, Apakah Agama Masih diperlukan?

Menurut ustadz Adian, kalimat “Agama tidak diperlukan lagi” memiliki dua makna tafsiran, pertama, agama memang tidak dibutuhkan lagi atau disingkirkan dari kehidupan atau agama perlu dipinggirkan. Analisa ini sengaja diangkat karena pada saat itu merebaknya pengaruh Komunisme, Sekularisme, Postivisme dan Saintisme yang berupaya mengarahkan kesimpulan bahwa agama tidak diperlukan lagi. Akan tetapi, pada bab ini Prof Rasjidi mampu membuktikan dengan analisa tajamnya, bahwa agama tetap dibutuhkan.

Pada Bab kedua, dibahas tentang, Apakah Semua Agama Sama?

Pada saat menulis buku ini, istilah Pluralisme belum popular. Istilah pluralisme saat itu baru dikenalkan oleh beberapa pemilkir, seperti Ahmad Wahib dalam catatan hariannya. Prof Rasjidi mampu membuktikan bahwa semua agama tidak sama.

Bab  ke Tiga, Pengelompokkan Agama-Agama di Dunia

Prof Rasjidi membagi agama dalam dua kelompok besar, yaitu agama-agama Dunia dan agama samawy, yang terdiri atas Yahudi, Kristen dan Islam

Dan, pada bab teakhir, Prof Rasjidi menegaskan bahwa Agama Islam adalah Agama Samawi yang terakhir.

Terkait masalah pengelompkkan agama, Ustadz Adian kurang sependapat dengan Prof Rasjidi. Beliau lebih sependapat dengan pendapat Syed Naquib Al Attas yang membagi agama dalam dua kelompok besar, yaitu Culture Religions dan Revelation Religion. Dan, Islam adalah tegas ustadz Adian, mengutip perkataan SMN, Islam is the only genuine revelation religion.

Dalam acara bedah buku tersebut, ustadz Adian Husaini berkali-kali memuji analisa ilmiah Prof. HM Rasjidi. Dan bagi beliau, analisa pemikiran Prof. Rasjidi telah melampui zamannya.

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.