Mengenal Salah Satu Unsur Penting dalam Peradaban Barat: Faham Tragedi

(Catatan Ngaderes Buku Islam dan Sekularisme, cetakan Bahasa Indonesia, 2010, hlm. 173-176 bersama Ustadz Usep Mohamad Ishaq, Ph. D)

Penulis: Muhamad Ridwan (Manajer Program PIMPIN) dan Sakinah Fithriyah (Peneliti PIMPIN)

Ini adalah pertemuan yang kedua sejak sampai kepada bab terakhir buku Islam dan Sekularisme, yakni tentang “Dewesternisasi Ilmu” atau bisa disebut juga sebagai “penafibaratan ilmu”. Untuk dapat menerapkan pembahasan dari bab ini, pertama-tama Profesor Syed al-Attas mengajak kita untuk mengenali seluk beluk dari Peradaban Barat. 

Melalui tilikannya yang sangat jeli, Profesor al-Attas menemukan bahwa selain sekularisme, dualisme dan humanisme, ada pula tragedi yang juga menjadi inti, ruh, watak dan ciri dari peradaban Barat tersebut. Unsur-unsur inilah yang kemudian membentuk konsep ilmu serta arah tujuannya dalam kebudayaan mereka, termasuk juga perumusan isi dan sistematika penyebarannya.

Ilmu yang di dalamnya sudah diresapi oleh unsur-unsur Barat ini kemudian disebarluaskan ke seluruh dunia, lalu orang-orang yang tidak tahu akan kandungan dalam ilmu tersebut menerimanya begitu saja tanpa curiga. Ilmu ini, kata Profesor al-Attas, bukanlah ilmu yang sejati karena sudah tercemar oleh penafsiran Barat yang berlandaskan unsur-unsur yang telah disebutkan di atas. Maka, menurut beliau, ilmu yang berasal dari mereka itu mesti dipisahkan dan diasingkan dari tubuh ilmu pengetahuan.

Dalam pertemuan kali ini, Ustadz Usep Mohamad Ishaq secara khusus menerangkan salah satu unsur saja yang perlu kita kenali dari peradaban Barat hasil pengamatan Profesor al-Attas itu, yakni tentang konsep tragedi. Bagi kebanyakan orang, termasuk kami sangatlah sulit untuk memahami konsep tersebut. Maka dari itulah, sesi khusus semacam ini kita perlukan untuk dapat mempelajarinya dengan lebih mendalam.

Tragedi adalah perasaan dramatis dalam bentuk imitasi secara artistik dari sebuah peristiwa secara serius. Namun, menurut Profesor al-Attas, tragedi bukanlah sekadar seni drama yang dimainkan dalam teater, film, sastra, opera dan sebagainya, tetapi juga difahami menurut falsafah sebagai drama kehidupan yang dilakoni dalam pengalaman serta kesadaran insan yang menolak agama dan berpaling dari Tuhan. Semangat peradaban Barat yang menggambarkan dirinya seperti Prometheus—anak Titan yang bernasib tragis dalam mitologi Yunani—adalah ibarat Sisyphus—seorang raja yang juga bernasib tragis dalam mitologi Yunani—yang digunakan oleh Albert Camus untuk menggambarkan psikologi orang-orang Barat. Kedua tokoh tersebut mengalami tragedi atau kesengsaraan yang tiada berujung, demikian pula orang-orang Barat yang menganggap bahwa hidup ini hanyalah tragedi atau kesengsaraan yang terus berulang-ulang. Bahkan, rutinitas hidup yang mereka jalani setiap harinya bisa jadi begitu menyiksa.

All is well” atau “Semua akan baik-baik saja” seperti kata Camus sebenarnya hanyalah semboyan kosong untuk menghibur diri saja. Pada hakikatnya, ungkap Profesor al-Attas, tidak semuanya baik. Sisyphus diceritakan menjalani hukuman mendorong bongkahan batu besar ke atas puncak gunung, tetapi ketika telah sampai puncak, batu itu menggelinding kembali jatuh ke bawah dan ia harus mendorongnya lagi ke atas, lalu ketika sampai puncak lagi, batu tersebut jatuh kembali dan ia pun harus mulai mendorongnya lagi dari bawah. Demikian seterusnya berulang-ulang tiada akhirnya. Profesor al-Attas menyatakan bahwa mereka tidak akan pernah benar-benar bahagia dalam keadaan yang seperti Sisyphus itu. Oleh karenanya, gagasan dari Camus untuk menikmati kesengsaraan tragedi supaya lepas dari lingkaran tragedi itu sendiri adalah suatu kemustahilan.

Untuk mengikis rasa sengsaranya itu, mereka juga berusaha untuk menghibur dirinya secara terus-menerus melalui kenikmatan-kenikmatan indrawi atau jasmaniah, terutama melalui seni drama tragedi yang dituangkan dalam karya sastra, musik, teater dan film. Mereka menganggapnya ampuh dalam menghasilkan rasa takut dan kasihan dengan sedemikian rupa sehingga rasa itu dapat dibuang keluar dari diri dan menimbulkan kelegaan (katharsis). Dengan kata lain, menikmati seni drama tragedi dapat memurnikan jiwa karena adanya pelepasan emosi (purgation).

Maka dari itulah, kisah-kisah tragis begitu mendominasi dalam karya-karya fiksi sastra, teater dan film Barat, mulai dari yang klasik hingga yang kontemporer. Di antara kisah-kisah yang dikenang sepanjang masa adalah Oedipus Rex, Sisyphus, Prometheus dan karya-karya Shakespeare semisal Hamlet, Macbeth dan Romeo and Juliet. Drama-drama tersebut sampai kini terus-menerus diulang, diadaptasi dan diperbaharuhi versinya. Adapun ciri-ciri dari seni drama tragedi di antaranya yaitu: 

  • Siksaan, penderitaan, hukuman, rasa malu dan sesal yang berterusan, tidak pernah berakhir dan tidak ada jalan keluar.
  • Menimpa seseorang atau seorang karakter dari kalangan tinggi atau ditinggikan atas pencapaiannya yang memiliki rasa bangga berlebihan (sombong) atau ambisi, menganggap dirinya hebat (hubris) yang mengantarkannya pada kejatuhan atau kemalangan karena ia salah mengambil keputusan akibat salah menilai (hamartia).
  • Mengandung kesalahan menilai karena tergoda oleh peluang (kairos) yang akhirnya mengakibatkan keburukan seperti rasa malu, hina dan penderitaan yang tidak berkesudahan (ate).
  • Biasanya terdiri dari 3 babak: act I, act II, act III
  • Disampaikan dalam bahasa puitis untuk menggugah rasa dan membangkitkan emosi jiwa.

Menurut Profesor al-Attas, kebudayaan dan cara pandang mereka ini diinspirasi oleh sejarah Adam dan Hawa. Tetapi, Bangsa Barat mendapatkan kisah yang telah diselewengkan, ditambah lagi, mereka keliru dalam memahaminya sehingga mereka memandang bahwa Adam Sang Bapak Manusia yang diturunkan ke dunia dan menanggung dosa asal (original sin) yang diwariskan kepada keturunannya itu bernasib tragis. Ini bertolakbelakang dengan pandangan Islam yang meyakini bahwa Nabi Adam ʻalayhi’l-salām memang sebelumnya telah dipersiapkan untuk menjadi khalifah di muka bumi dan dosanya telah diampuni karena Allah menerima taubatnya.

Pencarian ilmu tanpa henti berlandaskan sekularisme yang didorong oleh keadaan ragu dan tekanan batin akibat dualisme pun adalah bagaikan tragedi Sisyphus. “Pencarian itu tak ubahnya suatu permainan serius, yang tidak pernah berhenti, seolah-olah untuk mengalihkan jiwa dari tragedi kegagalan”, ujar Profesor al-Attas. Artinya, penelitian-penelitian yang mereka lakukan demi menemukan jawaban atas persoalan-persoalan manusia sepanjang masa itu seolah-olah tidak lain hanya untuk mengelak dari kegelisahan dan tekanan batin yang mereka alami. Tetapi, keraguan yang meliputi diri mereka adalah penghalang yang mencegah mereka untuk memperoleh jawaban mengenai hakikat kehidupan. Mereka tidak pernah benar-benar mencapai makna ataupun menemukan keyakinan teguh yang akan mengokohkan jiwa dan memberikan ketenteraman hati. Pengembaraan dalam alam fikiran dan renungan yang tiada berakhir itu hanya sedikit meringankan derita akibat keadaan jiwa mereka yang tegang. Sisyphus pun dianggap sebagai lambang kebesaran jiwa yang bernilai mulia. “Maka tak heran, dalam Kebudayaan Barat, tragedi begitu disanjung-sanjung sebagai salah satu nilai yang paling mulia dalam drama kewujudan manusia!”, pungkas Profesor al-Attas.

Sebagaimana telah disebutkan di atas, tragedi sebenarnya adalah hasil dari pengingkaran terhadap Tuhan dan agama yang kemudian menjelma sebagai worldview manusia Barat berkenaan dengan ilmu pengetahuan, manusia, nasib dan kehidupan. Profesor al-Attas menyatakan hal ini dalam bukunya, Risalah untuk Kaum Muslimin yang ia tulis sebelum Islam dan Sekularisme: “Faham tragedi kehidupan ini disebabkan oleh kehampaan kalbu akan ni’mat iman”. Oleh karena itu, cara untuk lepas dari tragedi hanya bisa diperoleh melalui iman berlandaskan keyakinan yang didapat dari ilmu sejati dan pandangan hidup yang benar.

Total Page Visits: 155 - Today Page Visits: 3

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.