Makna Alam dan Relasinya dengan Manusia: Sebuah Kajian Semantik

Source: semanticscholar.org

Penulis: Fachri Khoerudin (Mahasiswa Pascasarjana UNIDA Gontor)

Ketertarikan manusia untuk mencari tahu tentang segala hal yang berhubungan dengan alam, baik itu dari segi hakikat, penciptaan, maupun mekanismenya, sudah ada sejak dahulu. Tercatat, para filsuf sejak pra-Socrates seperti Thales, Anaximenes, Anaximandros dan para filsuf lainnya menjadikan alam sebagai objek kajian. Mereka membicarakan tentang apa, bagaimana dan dari apa alam tercipta.

 Termasuk ketika berbicara tentang hubungan antara manusia dan alam; apakah antara manusia dan alam hanya sebatas hubungan “rantai makanan” dan “objek eksploitasi” belaka, atau ada unsur-unsur lain yang tidak kalah pentingnya dari dua hal itu? Jawaban atas pemahaman tentang alam adalah merupakan salah satu poin dari tujuh pertanyaan mendasar manusia yang bisa menentukan cara pandang mereka. Setidaknya, itulah yang dikatakan James Sire dalam The Universe Next Door (Sire, 2009: 22).

Islam, sebagai agama yang komperhensif, tentu memiliki cara pandang tersendiri ketika membicarakan persoalan rumit ini. Pemaknaan alam bisa dilihat dari penjabaran yang paling sederhana, yakni kajian semantik atau bahasa.

Makna kata alam sebenarnya dapat ditelusuri ketika para ahli tafsir menafsirkan kata “al-ʻālamīn” dalam surat al-Fatihah ayat yang kedua. Ada sebuah definisi yang menarik dari Ibnu Katsir ketika menyebut bahwa makna ʻālam ialah setiap yang ada selain Allah ‘azza wa jalla (kullu mawjūdin siwā’Llāhi ‘azza wa jalla) (Ibn Katsir, 1999 M: 131). Konsekuensi logis dari definisi ini menjadikan cakupan alam menjadi sangat luas, karena setiap yang diciptakan disebut sebagai alam. Bumi dan langit, surga dan neraka, malaikat dan jin adalah alam, termasuk manusia itu sendiri.

Karena definisi alam seperti itu, maka peta hierarkinya bukan lagi “manusia-alam” tetapi “Allah-alam”. Artinya, manusia sebagai bagian dari alam tidak boleh terlepas dari dimensi ketuhanan. Segala upaya manusia harus selalu tunduk kepada perintah-Nya, terikat kepada-Nya, menyembah dan memuji-Nya sesuai dengan apa yang diisyaratkan oleh surat al-Fatihah ayat kedua (alamdu: segala puji). Inilah pesan dari ayat tersebut. Dari relasi alam menuju implikasi memuji dan mengabdi pada Ilahi.

Lebih lanjut, sebagai bagian dari alam yang diciptakan oleh Allah, manusia sepatutnya memanfaatkan alam (baca: bumi) dengan penuh kebijaksanaan dan pertanggungjawaban serta berlandaskan perintah dan larangan-Nya. Aturan-aturan yang mengatur manusia dalam hubungannya dengan alam harus selalu diterapkan dan diikuti sebagai pengejawantahan, bahwa manusia sebenarnya adalah ciptaan-Nya, selaku bagian dari alam itu sendiri sebagaimana pula hewan, tumbuhan, batu, sungai dan sebagainya. Manusia hanyalah diberi amanah sebagai wakil (khalīifah) Allah untuk mengurus, bukan pemilik.

Tentang kebermaknaan alam, juga dapat dilihat dari derivasi kata. Al-Attas menyebut kata العالم (al-ʻālam) satu derivasi dengan kata العلم (al-ʻilm) yang berarti, alam tidak berhenti pada dirinya sendiri sehingga kosong dari makna (meaningless). Tetapi lebih jauh dari itu, alam menyiratkan sebuah tanda bahwa ada Hakikat Terakhir Yang Mutlak, yakni akan wujudnya Yang Berkuasa atas segala di balik dirinya. Sebab final dan efisien tidak mungkin dipisahkan dari alam. Mungkin cara pandang Islam ini dapat diungkapkan lewat puisi Iqbal, “Jika mata mampu menembus warna tulip dan mawar, maka pandangan kami jauh menembus hati bunga-bunga”.

Senada dengan itu, Raghib al-Asfahani menyebutkan bahwa ada kemungkinan kata ʻālam berasal dari kata ʻalāmah (علامة) yang memiliki konsekuensi logis bahwa apapun yang diciptakan oleh Allah, maka itu adalah tanda-tanda kekuasaan-Nya dan sepantasnya bagi manusia yang melihatnya meyakini dan mengimani atas kekuasaan Allah tersebut. (al-Asfahani, 1412 H: 581-582).

Satu ungkapan menarik lainnya datang dari ulama asal Turki, Abul Fida. Lewat tafsirnya Rūh al-Bayān. Ia menyebut dua fungsi penciptaan alam. Pertama, sebagai sarana agar manusia survive dalam menjalani hidupnya. Kedua, sebagai pelita cahaya yang menerangi dirinya untuk mengetahui permulaan dan akhir tujuan. Maknanya, alam memiliki potensi untuk memahami proses perjalanan kehidupan manusia; berawal dari-Nya, berakhir pada-Nya. (Fida, T.th: 145)

Berbeda dengan cara pandang Barat ketika melihat dan menjelaskan posisi manusia dihadapan alam. Misal, bagi Harvey Cox, disenchantment of nature adalah merupakan asas kewajaran yang mesti diterima manusia dalam proses sekularisasi (Cox, 2013: 22), demistifikasi atas simbol yang sakral merupakan salah satu ciri dalam proses ini. “Breaking of all supernatural myths and sacred symbol”, ungkapnya.   

Maka, dari penjelasan tersebut bisa ditarik kesimpulan bahwa antara worldview (pandangan alam/wujud/hidup) Barat dengan Islam sangatlah berbeda. Harmoni antara khāliq dan makhlūq tidak dapat ditemukan dalam pandangan hidup Barat yang begitu materialistik. Sebaliknya, dalam pandangan hidup Islam, harmoni seperti itu sangat mudah ditemukan karena memang tujuan terciptanya alam adalah sebagai tanda-tanda fisikal yang membuktikan kekuasaan Allah Subhānahu Wa Taʻālā.

Editor: Muhamad Ridwan

Total Page Visits: 1225 - Today Page Visits: 1

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.