“Jalan Pulang”: Pesan-Pesan Filosofis dalam Puisi

Usep Mohammad Ishaq

Peneliti PIMPIN Bandung

Bagi Plato, falsafah dan puisi adalah dua hal yang bertentangan, di mana yang pertama adalah tentang kebenaran, ilmu, dan perenungan, sedangkan yang kedua tak lebih dari kepura-puraan dan alat untuk menipu dan mengelabui orang. Di zaman modern puisi banyak dihargai dan dipuja meski hampa dari makna, bahkan romantisme berselera rendah dan erotisme yang dibungkus dengan kata-kata membujuk mampu menyihir fikiran untuk menganggapnya kebaikan. Puisi telah menyimpang menjadi sekedar permainan kata-kata dan kombinasi istilah serta bunyi-bunyian yang tidak biasa, yang tampaknya semakin tak bermakna justru semakin  dihargai. Para penyair yang  seharusnya paling mengetahui meletakkan kata pada tempat yang sebenarnya (ādib), justru menjadi orang yang paling bertanggung jawab pada kerusakan makna. Seperti para pesulap, tujuannya tidak lebih jauh dari sekadar menghibur dan memberi rasa takjub. Sebagaimana dinyatakan Mohd. Affandi Hassan mereka hanya menggunakan kombinasi pretensi intelektual, retorik peragaan, dan fatamorgana bahasa sebagai senjata. Al-Qurʾān sendiri mengecam penyair-penyair seperti ini yang hanya asyik dengan kata dan tenggelam dalam lamunan fatamorgana bahasa. Di sisi lain filsafat modern telah kehilangan selera kepada keindahan bahasa, bahasa hanya dimaknai sebegai struktur logika semata-mata sehingga dengan demikian puisi dan filsafat mengambil jalan yang berbeda.

Di tangan manusia berbudi luhur dan beradab, puisi dan falsafah tidaklah sedemikian berbeda. Puisi hanyalah cara membawakan pesan kebenaran yang kadang tak tersampaikan melalui cara berbahasa yang terlalu ketat dan kaku seperti dalam prosa, buku-buku, dan jurnal-jurnal ilmiah. Justru dengan puisi, falsafah yang sering dianggap berwajah suram tampil dengan keindahan dan gairah yang menggugah kesadaran pembaca. Mereka tahu meletakan kata pada tempatnya yang pantas sehingga makna tersampaikan dengan tepat. Puisi menjadi taman adabi kombinasi keindahan kata-kata dan keluhuran makna. Mereka beradab pada kata yang dengannya mereka ingin menanamkan adab pada pembacanya. Manusia menjadi manusia karena kemampuannya berbahasa. Ketinggian, keindahan, ketepatan, dan kebermaknaan berbahasa dalam berpuisi mencerminkan ketinggian kemanusiaan seseorang. Demikian juga bahwa peradaban-peradaban yang tinggi dicirikan dengan puisi-puisi yang luhur dan berpengaruh.

Saat ini tidak banyak puisi yang membawa pesan-pesan mendalam dan filosofis, suatu genre yang bisa disebut sebagai puisi intelektual atau puisi filosofis. Sir Muhammad Iqbal dan Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas adalah di antara sedikit sarjana besar yang  juga penyair kontemporer dalam genre tersebut. Bagi Iqbal misalnya puisi tidak lain adalah filsafat yang berkobar, ia menuliskan:

Jika kebenaran

Tak punya semangat berkobar

Itulah filsafat yang datar

Jika ia punya nyala api

Itulah puisi

(‘Filsafat dan Puisi’, Pesan Dari Timur, M. Iqbal)

Jalan Pulang”, dan karya-karya puisi beliau yang lain, adalah karya terbaru dari seorang cendekiawan dan pakar pendidikan terkemuka asal Malaysia Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud tidak diragukan merupakan puisi dalam genre ini. Puisi-puisi dalam “Jalan Pulang” yang diterbitkan oleh penerbit Himpunan Keilmuan Muslim Malaysia ini (HAKIM, Kajang, Selangor, 2020) bukanlah bacaan yang terlalu abstrak dan sulit untuk difahami tetapi dalam saat yang sama memiliki lapis-lapis makna. Setiap kata, kalimat, dan bait puisinya telah dipilih untuk memberi pesan amat mendalam. Karena tujuan puisi-puisi semacam ini tidak lain adalah mendidik dan menggugah pembaca, memberi pencerahan dan peringatan, mensucikan jiwa, menanamkan adab, membangunkan ummat dan bangsa. Melalui puisi, pesan-pesan filosofis mampu dipancarkan dengan berbagai dimensi dan makna yang berbeda tetapi serasi, seperti sebutir permata yang memantulkan sinar dari satu sumber cahaya pada berbagai sudut berbeda, seperti juga puisi. Simaklah misalnya cuplikan salah satu puisi beliau:

Sebiji pasir, jika mengenal makna diri

Menyatu menjadi gunung memacak bumu

Sebiji kelapa mampu mengembangkan sebuah kepulauan

Setiap bahagian mensejahtera khidupan

Dalam bait ini beliau ingin menyampaikan bahwa kita sebagai manusia adalah lemah dan tidak memiliki daya upaya, tetapi jika ia mengenal dirinya dan bersama-sama dengan manusia-manusia lain bersatu padu mengerahkan segala daya upayanya maka ia akan menjadi ummah yang kuat yang mampu melaksanakan amanah besar dari Tuhan untuk mensejahterakan bumi. Sementara itu dalam puisi bertajuk ‘Dirasuk Dengki’ penulis ingin mengingatkan akan bahaya penyakit dengki karena ia telah banyak merusakan umat ini sehingga berpecah belah melemahkan umat Islam dalam segala seginya, sehingga dengannya ummat yang agung ini menjadi permainan bangsa-bangsa lain, menjadi buih di lautan dan makanan rebutan di atas meja sebagaimana diperingatkan Baginda Nabi yang Mulia dalam hadithnya. Dalam puisi tersebut dituliskan :

Jiwa yang dirasuk dengki

Menggelepar melihat yang lain cemerlang tinggi

Hati yang dijangkiti cemburu

Bergelumang di dalam lumpur hasad tidak menentu

Pasir disatukan dengan makna diri kejadian

Bisa menggunung tinggi menembus awan

Gunung yang tidak menangkap erti diri

Bagai pasir di pantai dipijak kaki

Bangsa saling berhasad dengki

Cemburu buta tanpa sebab hakiki

Hati dan jiwa jahil sejarah sendiri

Dipermainkan semua yang pintar berstrategi.

Puisinya ‘Mata Yang Tidak Bisa Melihat’ mengingatkan generasi muda khususnya untuk mengenal warisan agung yang mereka sering lupakan, yaitu warisan berharga ilmu dan peradaban, dan agar berhati-hati untuk tidak silau dengan peradaban lain sehingga ia menukar warisannya yang agung itu dengan kerikil yang tidak berharga karena buta akan warisannya sendiri.

Aku melihat sekumpulan insan

Membayar harga tinggi membeli kerikil

Menggadai sangat murah tanah terakhir

Warisan leluhur bernilai jutaan

Peringatan ini mengingatkan kita pada puisi Iqbal:

Karena pandangan pendeknya

Manusia sudi menjadi budak

Dalam dirinya ia memiliki kekayaan

Namun menyerahkan seluruhnya pada raja-raja

Oleh karena penghambaan ini

Ia menjadi lebih buruk dari anjing

Suatu pesan yang dapat kita lihat dalam karya-karya Prof Wan Mohd Nor Wan Daud yang lain dan juga karya Prof. SMN Al-Attas misalnya dalam Risalah Untuk Kaum Muslimin agar kita perlu mengenali warisan para ulama dan sarjana terdahulu agar tidak silau dengan peradaban Barat sehingga tidak bisa membedakan yang buruk dengan yang baik.

Sebagai sarjana yang amat peduli dengan pendidikan, beliau juga mengingatkan arah tujuan pendidikan modern yang semakin hari semakin jauh dari pesan Islam bahwa pendidikan utamanya harus menghasilkan manusia yang baik dan beradab. Pendidikan dan institusi pendidikan saat ini terlampau menekankan aspek kegunaan manusia dalam masyarakat; Pendidikan untuk mengejar selembar ijazah dan pekerjaan semata-mata. Lebih jauh pendidikan menjadi bisnis untuk mengejar keuntungan dan rangking. Beliau menuliskan dalam ‘Ingkar Ilmu’:

Ilmu dan pendidikan galak diperkilangkan

Nilai Ilmuan ditimbang jumlah dana dan penerbitan

Permainan halus teknokrat mengejar laba

Hampa menyelami hakikat semesta

Pesan ini bukanlah hal baru. Penulis secara teguh dan konsisten telah menyatakannya dalam berbagai karya seperti Budaya Ilmu: Suatu Penjelasan. Dalam karyanya ini Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud menyatakan:

 “ilmu harus dituntut dan diamalkan untuk menjadi manusia yang baik dari pandangan adan masyarakat. Jika tujuan mencari ilmu semata-mata adalah untuk mendapatkan pekerjaan, manakala pekerjaan yang dicita-citakan dan diusahakan demi kekayaan dan keselesaan hidup, atau kemasyhuran, atau kekuasaan, atau gandingan antara pelbagai tujuan tersebut, dan jika dilihat olehnya bahawa pekerjaan, kekayaan, kemasyhuran, kekuasaan dan keselesaan dapat dicapai tanpa kecemerlangan ilmiah… maka dia tidak akan gigih menuntut ilmu dan mengamalkan ilmunya kecuali untuk mendapatkan ijazah…(Wan Mohd Nor Wan Daud, Budaya Ilmu: Suatu Penjelasan, 1991)

Sekali lagi, pesan ini mengingatkan pesan yang sama dari Sir Muhammad Iqbal ketika beliau menulis dalam Javid Namah:

Pendidikan tak lagi mengenal tujuannya.

Karena pupusnya kegairahan, terrenggutnya jiwa dari keindahan alam, tiada bunga mekar di rantingnya.

Anak-anak muda telah dididik menjadi itik!

Bila ilmu tidak membawa kehangatan pada hidup, maka hati tidak akan menemukan kebahagiaan dalam ilham yang dibawa ilmu

“Jalan Pulang” membahas berbagai dimensi kehidupan termasuk juga politik. Dalam pandangan penulis, politik bukan sesuatu yang kotor dan harus dijauhi sebagaimana sering difahami sebagian kalangan, tetapi dalam saat yang sama ia hanya akan memberi kemaslahatan apabila dipandu dengan suluh ilmu dan keimanan yang dibawa para ulama yang benar dan agung:

Politik berkat apabila agama benar didaulat

Bukan dituduh pembawa mudarat;

Apabila warisan keturunan dijulang terbilang

Bukan dituduh penghalang kemajuan;

Apabila yang datang menumpang meraih sejahtera

Setelah cemas dilambung ganas samudera

Dan mereka akan selalu bersyukur kasih

Pada segala budi terhulur suci bersih.

Meski “Jalan Pulang” membahas tema-tema besar, Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud juga menyelipkan satu pembahasan yang barangkali dianggap kecil namun sebenarnya amat penting, yaitu penghargaan dan pemuliaan beliau terhadap sosok ibu sebagaimana beliau persembahkan satu puisinya bertajuk “Ibu”:

Bagaimana kita akan membalas jasa

Melalui penat peritnya kita mengadap dunia

Setiap sel bonda menghidupkan kita

Dari inti kemanusiaannya

Sosok bunda merupakan figur amat penting dalam kehidupan penulisnya. Sebagai pendidik Prof Wan Mohd Nor Wan Daud sering juga mengingatkan untuk senantiasa mengenang, menghormati, dan berbakti kepada ibu meskipun kita telah menjadi seorang yang terpandang di dalam kehidupan masyarakat. Pesan ini tidak lain adalah juga pesan suci Baginda Nabi yang mengutamakan penghormatan kepada Ibu kepada ummatnya. Sebagai salah seorang murid Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud, kami menyaksikan bahwa beliau bukan sekadar menulis puisi untuk konsumsi intelektual dan sumbangan karya sastra semata, tetapi ia adalah salah satu sarana beliau dalam memberi pesan-pesan dan nasihat kepada para muridnya khususnya, dan masyarakat pada umumnya, ketika ia tidak bisa sepenuhnya tersampaikan dalam kalimat-kalimat biasa. Tidaklah berlebihan apabila seorang pendakwah dan intelektual muslim terkemuka Amerika Serikat Syaikh Hamza Yusuf ketika menyebutkan bahwa apabila anda menjumpai guru anda menggunakan puisi sebagai sarana, maka anda telah menemukan kelas terbaik dalam hidup anda. Hal ini karena puisi adalah bukan sekadar luapan intelektual penulisnya, tetapi juga melibatkan emosi, hati, passion, dan kesungguhan seorang pendidik.

Jalan Pulang” ini lahir dalam keadaan masyarakat yang kering dari nilai-nilai ruhaniah keagamaan terutama dalam pendidikan, kegiatan ilmiah, politik, dan kebudayaan yang telah jauh tersasar dari nilai-nilai luhurnya. “Jalan Pulang” sebagaimana namanya barangkali adalah jalan untuk kembali pada keluhuran tersebut, jalan untuk mencapai kebahagiaan, kebangkitan diri dan masyarakat, jalan yang bisa menghantarkan pada kemajuan dan kebahagiaan yang hakiki. Karena itu karya Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud ini bukan hanya penting untuk dibaca tetapi harus direnungkan dan terutama diamalkan dalam kehidupan diri dan masyarakat.

Tulisan ini sudah dipublikasi di Kumparan sebelumnya di sini.

1 Komentar

  1. Banyak banget sekarang puisi yang hampa dari makna meskipun dari segi bahasa bagus.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.