Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer: Syarat dan Prasyaratnya

Catatan Ngaderes Buku Islam dan Sekularisme Terbitan PIMPIN, 2010, Bersama Ustadz Usep Mohamad Ishaq, Ph. D., Pertemuan ke-23, halaman 164-167.

Oleh: Juris Arrozy

…Tanpa mengetahui guru-guru sejati dari masa lalu dan tanpa dibimbing oleh mereka, hampir tidak mungkin kita sampai pada pemahaman dan ilmu yang benar mengenai Islām dan pandangan alamnya.1

Sebelum menjawab persoalan-persoalan kontemporer, Profesor Al-Attas menekankan tentang betapa pentingnya bagi kita umat Muslim untuk memahami pencapaian para ulama besar di masa lalu dan kembali terhubung kepada tradisi keilmuan dalam Peradaban Islam. Inilah bahasan dalam kegiatan ngaderes rutin buku Islām dan Sekularisme yang kembali digelar pada hari Sabtu, 11 Juli 2020.

Pembacaan telah sampai pada halaman 164 dan beberapa bulan terakhir hingga pertemuan yang ke-23 ini, ngaderes berlangsung secara daring (online) dikarenakan oleh situasi pandemi yang tengah melanda. Seperti kata peribahasa, “Tidak ada rotan, akar pun jadi”, meskipun Ustadz Usep Mohamad Ishaq, yang mengampu ngaderes ini, dan para peserta kuliah sadar betul akan pentingnya talāqi (tatap muka secara langsung) dalam melestarikan budaya ilmu, namun dalam keadaan yang seperti sekarang, tatap muka di dunia maya sementara ini adalah cara yang paling sesuai.

Di bab ini Profesor Al-Attas mewanti-wanti kepada kita agar jangan meninggalkan tradisi keilmuan Islam di masa lampau akibat silau dengan pemikiran dan produk-produk kontemporer yang belum tentu sebanding dengan yang lama. Beliau menganalogikannya dengan kisah Aladdin dan Lampu Ajaib:

…dan kita tidak boleh jatuh ke dalam kesalahan isteri Aladdin yang jahil, menukarkan yang tua dengan yang baru, tanpa menyadari nilai yang tak terkira dan mutu yang menakjubkan dari lampu lama yang jauh melampaui nilai semua lampu baru yang dijadikan satu.2

Dalam mensyarah halaman tersebut, Ustadz Usep juga memberi catatan bahwa dalam melihat karya agung di masa lampau tidak terbatas kepada ʻulūm al-dīn  saja seperti karya Imam Al-Syafi‘i dalam bidang fiqh atau Imam Al-Asy‘ari dalam bidang kalām, tetapi juga ilmu-ilmu umum karya para saintis Muslim, seperti Ibn Al-Haytsam, Al-Biruni, Al-Khawarizmi dan lainnya. Karena, kita perlu memahami serta meneladani bagaimana sikap serta cara pandang mereka terhadap “ilmu umum” (sains, filsafat dan sebagainya).

Fakta saat ini, sedikit sekali kita dapati seorang ilmuwan Muslim yang menggeluti bidang sains yang menguasai pandangan alam (worldview) Islam sebagaimana para ilmuwan Muslim terdahulu. Malah, sekarang banyak di antara mereka yang karyanya mendunia, tetapi hanya menjadi pengekor sains Barat saja termasuk menganut juga pandangan hidupnya yang sebenarnya bertentangan dengan pandangan hidup Islam. Sebaliknya, sedikit pula kita mendapati asātīdz yang mendalami cabang sains tertentu mulai dari aspek filosofis hingga ke praktisnya.

Maka dari itulah, ilmu pengetahuan kontemporer perlu diperiksa kandungan sampai seluk-beluknya menggunakan worldview Islam, memisahkan nilai-nilai dan konsep-konsep yang bertentangan dengan Islam, lalu, kalau diperlukan, memasukkan nilai-nilai dan konsep-konsep Islam ke dalamnya. Agar mampu melakukannya, ada tiga hal yang dibutuhkan menurut Dr. Adi Setia:

  1. Mendalami ilmu-ilmu Islam dan pandangan alam (worldview) Islam.
  2. Tidak awam dan justru aktif dalam perbincangan ilmu-ilmu modern.
  3. Memahami sejarah pencapaian para sarjana Muslim di masa lalu agar tidak mengislamkan dari nol.

Beliau menyampaikan tiga hal di atas dalam salah satu kelas Philosophy of Science sewaktu Ustadz Usep menempuh studi doktoral di Centre for Advanced Studies on Islam, Science and Civilisation – Universiti Teknologi Malaysia (CASIS-UTM, sekarang Raja Zarith Sofiah Centre for Advanced Studies on Islam, Science and Civilisation atau RZS-CASIS UTM). Tiga hal tersebut sangatlah penting, apalagi kini terdapat sebagian orang yang cenderung untuk memahami konsep Islamisasi Profesor Al-Attas menjadi sekadar “labelisasi”. “Supaya tidak jatuh kepada hal semacam itu, perlu tiga pengetahuan itu”, tutur Ustadz Usep.

Kehilangan satu saja dari ketiga pilar tersebut akan menghasilkan dampak yang negatif. Misalnya, seorang saintis Muslim yang hanya memahami sains modern saja tanpa memahami pandangan alam Islam dan filsafat Barat dapat terjebak pada “ayatisasi” alias mencocok-cocokan temuan sains dengan ayat Al-Qur’an dan justifikasi buta terhadap segala perkembangan sains serta teknologi di Barat yang dianggapnya tidak akan pernah berbenturan dengan ajaran Islam. Pun juga sejarawan sains Islam yang tidak memahami pandangan alam Islam akan mereduksi sains Islam sebatas sebagai kelanjutan dari sains Yunani dan Barat, tanpa menyadari akan adanya perbedaan dalam aspek filosofis di antara keduanya. 

Penjelasan Dr. Adi Setia sangat sinkron dengan gagasan Islamisasi Prof. Al-Attas yang mendefinisikannya sebagai “pembebasan manusia yang diawali dari pembebasan dari tradisi-tradisi yang berunsurkan kekuatan ghaib (magic), mitologi, animisme, kebangsaan-kebudayaan yang bertentangan dengan Islām, dan sesudah itu pembebasan dari kungkungan sekular terhadap akal dan bahasanya”.3

Amran Muhammad menulis langkah-langkah atau proses dalam menerapkan gagasan Islamisasi sains ini sebagaimana dikutip oleh Dr. Tiar Anwar Bachtiar dalam disertasinya tentang Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) yang di antaranya adalah:

  1. Pembebasan individu dari pemikiran magis, mitologis, animis, kultur anti-Islam dan sekular. Khusus yang terakhir biasa juga disebut sebagai dewesternisasi.
  2. Mengislamkan bahasa karena bahasa lah yang mempengaruhi akal dan worldview seseorang.
  3. Islamisasi pandangan alam (worldview).
  4. Lahirnya ilmu-ilmu yang telah terislamkan, karena ilmu berada dalam akal manusia dan bukan di luar diri mereka.4

Proses di atas membutuhkan tiga pengetahuan yang dikemukakan oleh Dr. Adi setia, ditambah lagi dengan penguasaan ilmu bahasa. Karena, bahasa adalah merupakan refleksi dari suatu konsep atau pandangan alam. Penggunaan istilah-istilah dari sesuatu secara tepat akan membawa kita kepada pemahaman tentang sesuatu itu dengan tepat pula.

Tetapi, ketiadaan ilmuwan yang terlibat secara saksama dengan aspek-aspek empirik yang terperinci dari sains modern telah menjadi penyebab kemandekan Islamisasi itu sendiri. Dalam artikelnya Three Meanings of Islamic Science, Dr. Adi Setia mengungkapkan:

I think one of the main reasons for this already more than three decades’ old operational impasse is that the major writers on Islamic science (or on the Islamization of Science) have not engaged (or have not meant to engage) closely with the detailed, empirical aspects of the various disciplines of modern science as they are presently taught and practiced by Muslim scientists the world over.5

Oleh karena itu, hanya memahami perkara filosofis sains Islam dan Barat saja tidaklah cukup tanpa terjun ke bidang praktis atau operasionalnya.

Kalau tidak dijalankan atau diwujudkan, maka wacana Islamisasi sains ini hanya akan dianggap sebagai gagasan reaksioner semata yang gagal dalam memahamkan orang-orang tentangnya dan lebih jauh lagi untuk memberikan mereka pengetahuan akan maksud asalnya. Masih dalam makalah yang sama, Dr. Adi Setia menyatakan:

I think that is the true operative essence of Islamic science: that it has to be involved in an apologetic, proactive construction of empirico-conceptual frameworks for interpreting and interacting with the world in a way that is self-consciously inspired by, and hence, in harmony with, the ethico-cognitive principles of Islam…In the absence of this proactive, operative vision, Islamic science will continue to be viewed by scientists, including religiously pious Muslim scientists, as purely reactionary to the ‘normal’ state of affairs, and thus fail to draw them into understanding and furthering its ‘abnormal’, radical cause.6

Untuk itu, menurut Dr. Adi Setia, dalam merealisasikannya dibutuhkan para saintis pelopor yang cemerlang, memiliki ketajaman berfikir untuk mengusahakan integrasi sains secara kritis ke dalam kerangka konseptual pandangan alam Islam serta berkemampuan untuk menganalisis atau menjelaskan hubungan kognitif, metodologis dan aksiologisnya dalam integrasi penelitian saintifik untuk masa kini dan masa mendatang.7

Jadi, Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer tidak hanya memerlukan wawasan yang komprehensif mengenai pandangan alam Islam, filsafat Barat, disiplin ilmu yang ingin diislamisasi, bahasa Arab, sejarah peradaban dan tradisi keilmuan Islam, sejarah peradaban Barat dan sebagainya, tetapi juga kualitas atau potensi seorang saintis dan kemampuan atau tekad untuk mewujudkannya secara praktis.

Islamisasi sains bukanlah program yang bisa terlalu disederhanakan menjadi semacam “12 langkah jitu Islamisasi”. Terlebih lagi, menurut Profesor Al-Attas, ilmu sejatinya berada dalam diri sang ilmuwan. Oleh karena itu, Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer sejatinya adalah islamisasi diri sang ilmuwannya.

Setelah mengikuti sesi ngaderes Islām dan Sekularisme ini, penulis termenung, betapa banyak PR peradaban yang menanti, namun betapa terbatasnya kapasitas diri dan waktu yang dimiliki. Kerja seperti ini adalah ʻamal jamāʻī, maka dari itulah, sebagai salah satu ikhtiyarnya, Profesor Al-Attas membangun International Institute of Islamic Thought and Civilisation (ISTAC) yang kemudian dilanjutkan oleh para muridnya melalui CASIS. Karena, dibutuhkan sekelompok ulama, saintis dan ilmuwan yang memahami pandangan alam Islam sehingga sanggup untuk berinteraksi dengan dinamika keilmuan kontemporer tetapi tetap menjaga erat hubungan dengan tradisi keilmuan Islam.

Maka, kegiatan ngaderes Islām dan Sekularisme inipun jika dilihat dari level makroskopik barulah sebatas batu bata kecil yang diletakkan sebagai fondasi yang terdiri dari pemahaman pandangan alam Islam, masalah umat Islam saat ini, hakikat peradaban Barat dan sebagainya. Setelah itu, masih banyak lagi usaha yang perlu dilakukan. Untuk itu, mari kita berdoa agar proyek besar ini terus berlanjut, berestafet kepada generasi selanjutnya, dan yang paling penting apapun kontribusi kita terhadap proyek ini haruslah ikhlas karena Allah semata. 

Editor: Muhamad Ridwan


Catatan Kaki


  1. Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Islām dan Sekularisme, (Bandung: PIMPIN, 2010), hlm. 164. 

  2. Ibid

  3. Ibid, hlm. 56. 

  4. Tiar Anwar Bachtiar, Respon Pemikiran INSISTS (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations) terhadap Pemikiran Islam Liberal di Indonesia Tahun 2003-2012, Disertasi Doktoral, (Depok: Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2015), hlm.278-281. 

  5. Adi Setia, Three Meanings of Islamic Science: Toward Operationalizing Islamization of Science, dalam Islam & Science, Vol. 5, No. 1, (2007), hlm. 24-25. 

  6. Ibid, hlm.27,29. 

  7. Ibid, hlm. 39. Perkataan aslinya adalah sebagai berikut: This reformulation, in order to be realized, will necessarily require leading Muslim scientists of high, contemplative (as opposed to merely technical) acumen to work toward a critical integration of the scientific endeavor into the conceptual framework of the Islamic worldview, and the concomitant explication of the cognitive, methodological and axiological implications of such integration for present and future empirical scientific research

Total Page Visits: 1216 - Today Page Visits: 4

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.