Islam: Wasathiyah atau Moderat?

 

radikal

Oleh: Muhamad Ridwan*

Peneliti PIMPIN Bandung

Pengertian al-Wasa dan Ummatan Wasaṭan

{وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا}
Dan demikian Kami menjadikan kalian (umat Islam) ummatan wasaṭan (umat yang adil dan pilihan) agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan manusia) dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kalian…” (Surat al-Baqarah: 143).

Pada ayat yang dikutip di atas terdapat kata “وسَط (wasa)” yang bila merujuk kepada Lisān al-‘Arab-nya Syaikh Ibn Manzhur, artinya adalah sesuatu yang berada di antara dua titik ujung atau dua kulminasi. Sebagaimana menunggangi hewan untuk bepergian adalah lebih baik di badan bagian tengahnya (punggungnya) daripada di bagian kepala atau belakangnya. Beliau mengutip sebuah hadits: خيار الأمور أوسطها (Sebaik-baik perkara adalah pertengahannya). Dan makna dari Ummatan wasaṭan dalam ayat diatas adalah umat yang adil atau yang terbaik.[1]

Umat yang adil berarti seimbang, tidak zalim dan tidak biadab[2] karena senantiasa meletakkan segala sesuatu pada tempatnya sehingga memenuhi haknya masing-masing serta tidak ekstrem ke kanan atau ekstrem ke kiri. Kata Imam Fakhruddin ar-Razi, الوسط ialah kebenaran yang kedudukannya jauh dari dua titik ekstrem (ifrādan tafrī). Keadilan disebut sebagai وسط karena tidak memihak kepada salah satu kubu yang melampaui batas itu. Umat pertengahan adalah ibarat mata atau bagian tengah dari seuntai kalung yang biasanya menjadi tempat diletakkannya batu permata. Umat ini pun bersikap pertengahan dalam agama; tidak berlebihan maupun tidak lalai/abai.[3]

Syaikh Wahbah az-Zuhaili menafsirkan Surat al-Baqarah ayat 143 di atas bahwa Islam adalah pertengahan diantara dua perkara; tidak terlalu keras dan tidak terlalu permisif, tidak jumud maupun tidak terlalu longgar, tidak berlebihan, tidak fanatik buta, tidak menyepelekan, kesalingterhubungan ajarannya antara materi dengan spiritual, menghendaki keseimbangan lalu mewujudkannya pada setiap urusan dan sebagainya. Umat Muslim ialah umat pertengahan yang adil dan umat pilihan yang kelak menjadi saksi kebenaran bagi umat lain.[4]

Perbedaan Antara Wasaṭiyyah dengan Moderat

Wasaṭiyyah adalah sifat dari umat pertengahan itu sendiri dan istilah ini sering dikaitkan dengan istilah “moderat”. Sebagai umat yang mewarisi tradisi keilmuan yang sangat berhati-hati dalam penggunaan istilah-istilah kunci, kita perlu mencermati kedua penggunaan istilah ini.

Menteri Agama RI dan berbagai kalangan termasuk para sarjana Muslim sering menyerukan moderasi Islam pada beberapa kesempatan acara.[5] Penggunaan istilah “moderat” dan menyandingkannya dengan “Islam” adalah merupakan sebuah kerancuan dan kekeliruan. Islam dengan sendirinya merupakan agama yang mengandung sifat adil dan tidak ekstrem, karenanya ia tidak perlu dimoderasi karena sudah sempurna sejak awal mulanya.[6] Kalaupun ingin menggunakan istilah moderasi, maka yang tepat adalah “moderasi pemahaman umat Islam”, bukan “moderasi Islam” yang merujuk pada ajaran Islam itu sendiri.

Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, Direktur Pascasarjana Unida Gontor, dalam Rakerda MUI Provinsi Jawa Timur di Aula Asrama Haji Sukolilo Surabaya, Jawa Timur, menyatakan bahwa istilah moderat tidaklah sama dengan istilah wasaṭiyyah. Muslim moderat menurut Barat adalah dengan ciri-ciri Muslim yang tidak anti semit dan pro kesamaan agama-agama (menganut pluralisme/relativisme agama), kritis terhadap Islam (mempertanyakan dan menggugat otoritas serta sesuatu yang mutlak dan telah tetap), menganggap Nabi Muhammad tidak mulia dan tidak perlu diikuti, pro kesetaraan gender, menentang jihad, menentang kekuasaan Islam, pro pemerintahan sekuler, pro Israel, tidak merespons terhadap kritik-kritik kepada Islam dan Nabi Muhammad, anti pakaian Muslim, tidak suka jilbab, anti syariah dan anti terorisme[7] serta pro-humanisme universal.[8] Sedangkan Wasaṭiyyah tidaklah seperti demikian. Ciri-ciri Muslim Moderat yang disebut di atas itu malahan sangat bertentangan dengan konsep Islam dan makna wasaṭiyyah itu sendiri. Islam tidak menganut relativisme atau pluralisme agama, skeptisisme, feminisme, sekularisme, humanisme dan lainnya sebagaimana yang terkandung dalam istilah moderat itu.

Justru, moderat dalam konsep serta pemahaman Barat itu bukanlah sifat pertengahan atau adil yang terkandung dalam wasaṭiyyah. Segala sesuatu telah ditetapkan kedudukannya masing-masing oleh Allah[9], maka sikap yang menganggap bahwa kebenaran mutlak itu tiada dan memperlakukannya sebagai relatif, meletakkan kebenaran yang sah dan mapan di tempat keraguan, levelling atau penyamarataan sesuatu yang tabiat dan hakikatnya tak setara, tidak mengenal maupun tidak mengakui autoritas bahkan menentangnya, mengenyampingkan Tuhan dan agama serta lebih mengutamakan akal juga pandangan manusia adalah tindakan biadab yang meletakkan serta memperlakukan sesuatu bukan pada kedudukannya yang tepat sehingga yang terjadi adalah timbulnya kekacauan (disorder). Oleh karena itu, tindakan tersebut justru adalah merupakan ketidakadilan, kezaliman dan ekstremisme.

Tawāsuṭ Antarsesama Muslim

Dari istilah wasaterbentuk kata واسط (wāsiṭ) atau  واسطة(wāsiṭah) yang artinya yaitu tempat yang berada di tengah-tengah atau batas pertengahan.[10] Kata “wasit” telah diserap ke dalam bahasa Indonesia. Pada umumnya, wasit yang kita ketahui adalah seorang yang menjadi hakim atau yang menengahi suatu pertandingan olahraga. Seorang wasit harus adil dalam menjalankan tugasnya dan menjadi pertengahan di antara dua kubu yang berlawanan. Berkaitan dengan itu, jika mengaku sebagai bagian dari umat pertengahan ini, maka tidak boleh lupa bahwa selain menjadi wasit bagi umat lain, kita juga adalah wasit atau yang menjadi pertengahan di antara sesama saudara kita yang Muslim.

Agar dapat menjadi wasit yang baik, penting sekali untuk mengetahui struktur atau tingkatan-tingkatan dalam pemikiran Islam agar dapat menyikapi perbedaan pendapat antar sesama Muslim secara tepat. Dr. Ugi Suharto, dosen di Buraimi University, Oman yang menyusun struktur ini kemudian menjelaskannya dalam Special Lecture yang diselenggarakan oleh Institut Pemikiran Islam dan Pembangunan Insan (PIMPIN) pada hari Ahad, 23 Juli 2017 di Bandung bahwa tingkatan pemikiran Islam yang paling tinggi adalah Worldview (pandangan alam) yang mana di dalamnya mencakup akidah yang pokok, selanjutnya ada akidah level kedua, yaitu kalām, lalu di level ketiga ada uṣūl fiqh dan fiqh (amal ibadah), kemudian di tingkat paling bawah adalah cabang dari fiqh semisal politik, ekonomi dan sebagainya.

Penulis buku Pemikiran Islam Liberal: Pembahasan Isu-isu Sentral dan Keuangan Publik Islam: Reinterpretasi Zakat Dan Pajak ini menyatakan bahwa pada tingkatan yang paling atas tiada perbedaan diantara umat Muslim, misalnya pandangan mengenai keesaan Allah, kerasulan Sayyiduna Muhammad Saw., kebenaran Al-Qur’an, dan sebagainya. Seluruh umat Muslim bersatu pada level pemikiran yang paling tinggi ini. Tetapi, semakin bawah tingkatan, maka akan semakin banyak perbedaan pandangan. Lantaran itu, tingkatan dibawah worldview perlu disikapi dengan toleransi, lapang dada, tidak kaku serta tidak bersikap keras karena sudah tabiatnya pasti berbeda.

Dosen yang pernah mengajar di International Institute of Islamic Thought and Civilization-International Islamic University Malaysia (ISTAC-IIUM) dan University College of Bahrain (UCB) ini menegaskan bahwa kita harus berhenti saling mengafirkan dan bertengkar dalam masalah kalām—akidah level kedua—karena urusan ini telah selesai ratusan tahun lalu, jangan dimunculkan kembali. Antara Asy’ariyyah maupun Atsariyyah boleh merujuk kepada kitab al-Farq bayna al-Firāq karya Imam ‘Abd al-Qahir al-Baghdadi atau kitab Lawāmi’ al-Anwār al-Bahiyyah karya Syaikh Abu al-Aun al-Safarini. Mereka tidak memvonis kufur satu sama lain. Hal inilah yang dilakukan oleh para ulama terdahulu, mereka memahami bahwa masalah ini memang termasuk akidah, tetapi bukan yang paling pokok. Adapun kalam-kalam rusak dari golongan Mu’tazilah, Khawarij, Murji’ah, Syi’ah (yang tidak berkeyakinan bahwa al-Qur’an telah di-taḥrīf) dan lainnya yang berbeda dalam masalah akidah level kedua ini juga tidaklah dikafirkan, tetapi ulama lebih mengategorikannya sebagai ahlul bid’ah. Bid’ah sebenarnya berawal dari perkara akidah ini, bukan dalam fiqh. Imam al-Bukhari pun masih mengambil riwayat dari orang-orang Mu’tazilah dalam kitab ṣahih-nya selama mereka tidak aktif dalam mendakwahkan kesesatannya.

Beliau menekankan bahwa kita juga jangan terus-menerus berselisih, debat, dan bersikap terlalu keras dalam urusan fiqh. Kita telah melihat dimana sejak ratusan tahun lalu bagaimana orang-orang bertikai dan berpecah belah karena masalah ini. Persoalan halal-haram, tata cara ibadah dan lainnya ada yang termasuk ikhtilāf dalam fiqh, karenanya bukan merupakan persoalan tingkat tertinggi. Fiqh ini menempati urutan ketiga dalam struktur pemikiran Islam.

Selanjutnya, beliau berpesan bahwa jangan pula perbedaan pandangan dan analisis politik terlalu dimasukkan ke dalam hati sehingga kita dibuatnya kecewa. Memang, dalam urusan politik ini ada beberapa hal yang termasuk ke dalam akidah pokok, tapi kita mesti tahu bahwa ada juga yang termasuk ke dalam cabang dari fiqh yang mana terbuka peluang perbedaan pendapat di dalamnya. Kita seharusnya belajar dari sejarah antara Sayyiduna Ali karramallāhu wajhah yang sampai berperang dengan Muawiyah radhiyallāhu ‘anhu hanya karena berbeda pendapat dalam masalah politik ini. Kita pun perlu menyimak sejarah pertumpahan darah dalam pergantian kekuasaan dari dinasti Umayyah kepada dinasti Abbasiyyah, juga bagaimana Syi’ah awalnya muncul dari masalah politik, tetapi mereka mengangkat perselisihan ini ke tingkat atas yang lama-lama naik ke level kalām atau akidah yang bertentangan dengan paham Ahlussunnah wal Jamā’ah.

“Kalau saja memandang Muslim lain dengan worldview, niscaya kita akan memandang dengan pandangan rahmah (kasih sayang),” tutur Dr. Ugi. Apabila mampu mengamalkannya, maka kita akan menjadi wasit  atau tempat pertengahan yang baik; tidak memicu pertikaian dan permusuhan di level-level yang sepele dan memang sudah tabiatnya banyak perbedaan asumsi di kalangan ulama. Kita akan adil dan beradab yang berarti menempatkan masalah sesuai dengan tingkatannya, tidak menyepelekan juga tidak membesar-besarkan. Perkara-perkara yang wajib diperlakukan sebagai wajib dan yang sunnah diperlakukan sebagai sunnah, sesuai kedudukannya masing-masing. Semua perbedaan disikapi secara seimbang dan tepat. Bilamana menjumpai selisih pandang pada level bawah maka tidak mengangkatnya keatas, melainkan kembali kepada worldview yang menyatukan dan seluruh umat Muslim sepakat tentangnya.

Persoalan-persoalan kalām maupun fiqh dan cabangnya tidak adil bila dibesar-besarkan hingga menjadikannya seolah-olah perkara akidah yang pokok (worldview) sehingga yang berbeda divonis sesat atau kafir. Pada umumnya, persoalan furū’iyyah hanya sebatas khaṭa’ dan ṣawāb. Maka, umat pertengahan itu bijaksana atau beradab dalam menilai, meletakkan serta memperlakukan permasalahan-permasalahan tersebut. Oleh karenanya lah umat ini disebut sebagai umat yang adil.

Penutup

Dr. Ugi memperingatkan bahwa berlainan dengan memandang perbedaan antarsesama Muslim yang biasanya tidak sampai kepada tingkatan paling atas, yakni worldview, maka terhadap paham-paham atau isu-isu yang datangnya berasal dari Barat seperti free thinking, human rights, LGBT, sosialisme, gender equality, neo-liberalisme, dan sebagainya mestilah diangkat ke tingkat atas. Hampir semua dari paham-paham tersebut menyangkut masalah-masalah sosial, tetapi ia mesti ditinjau dari sudut worldview-nya karena produk ilmu dan pemikiran yang berasal dari mereka itu dihasilkan dari worldview yang khas, tersendiri dan bertentangan dengan worldview Islam. Istilah “moderat” seperti yang telah dibahas diatas adalah salah satu contohnya.

Cara pandang terhadap struktur pemikiran Islam dan istilah-istilah serta konsep-konsep dari Barat ini berkaitan erat dengan adab. Adapun ketiadaan adab, menurut Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas sebagaimana dikutip oleh Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud, justru akan menyuburkan tumbuhnya pelbagai bentuk ekstremisme yang modal utamanya adalah kebodohan. Di antara situasi yang menjadi pemicunya adalah definisi autentik menjadi hancur dan sebagai gantinya, kita mewarisi slogan yang kabur berkedok konsep. Kemudian ketidakmampuan untuk mendefinisikan, mengidentifikasikan dan mengangkat masalah lalu memberikan solusi yang benar. Akibatnya, muncul pseudo-problem; reduksi masalah menjadi sebatas faktor-faktor politik, sosial-ekonomi dan hukum belaka.[11]

Sebaliknya, apabila menerapkan konsep adil dan beradab, yakni tidak moderat (baca: ekstrem) seperti Barat yang sekuler-liberal, tukang levelling atau menyamaratakan segala sesuatu, longgar terhadap agama, meminggirkan Tuhan/agama dan lebih mengutamakan persepsi manusia, gemar mendekonstruksi agama, meniadakan kebenaran mutlak, meragukan atau menentang autoritas dan kebenaran yang telah sah dan mapan; juga tidak ekstrem di sisi lainnya, yakni ghuluw atau berlebihan dan terlampau keras dalam beragama yang membesar-besarkan permasalahan-permasalahan sepele serta menganggap semua kebenaran adalah mutlak, maka kita termasuk ke dalam ummatan wasaṭan (umat pertengahan) yang merupakan khairu ummah (umat yang terbaik).

Allāhu a’lam bi al-ṣawāb.

*)Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Usep Mohamad Ishaq atas saran-sarannya yang berharga dalam tulisan ini.

[1] Syaikh Ibn Manzhur, Lisān al-‘Arab, jilid 6, (Kairo: Dār al-Ma’ārif), t.t., h. 4831, 4832, 4833.

[2] Zalim adalah lawan dari adil dan biadab adalah lawan dari adab. Kata “biadab” terdiri dari satuan bahasa Persia “bi” yang artinya tanpa atau ketiadaan. Serta dari istilah Arab, “adab”. Maka, biadab artinya yakni tidak beradab. Syed Muhammad Naquib al-Attas mendefinisikan bahwa adab adalah disiplin tubuh, jiwa dan ruh; disiplin yang menegaskan pengenalan dan pengakuan tempat yang tepat dalam hubungannya dengan kemampuan dan potensi jasmaniah, intelektual dan ruhaniah; pengenalan dan pengakuan akan realitas bahwa ilmu dan wujud ditata secara hierarkis sesuai dengan berbagai tingkat (marātib) dan derajatnya (darajāt). Pemenuhan adab dalam diri seseorang dan masyarakat mencerminkan kondisi keadilan. Keadilan itu sendiri adalah pencerminan kearifan (ḥikmah) yang artinya adalah ilmu dari Allah tentang tempat yang tepat dan layak bagi segala sesuatu. Lihat: Syed Muhammad Naquib al-Attas, The Concept of Education in Islam: A Framework for an Islamic Philosophy of Education (Konsep Pendidikan dalam Islam: Suatu Rangka-Pikir Pembinaan Filsafat Pendidikan Islam), terj. Haidar Bagir, (Bandung: Mizan, 1996), h. 49 dan 53.

[3] Imam Fakhruddin al-Razi, Tafsīr al-Fakhr al-Rāzī al-Mushtahīr bi al-Tafsīr al Kabīr wa Mafātīh al-Ghayb, jilid 4, (Beirut: Dār al-Fikr), 1981, h. 107-108.

[4] Syaikh Wahbah al-Zuhaili, al-Tafsīr al-Wasīṭ, (Damaskus: Dar al-Fikr), 2001, h. 64-65.

[5] Salah satunya lihat: Benny, “Menag Serukan Moderasi Islam di Kongres Ulama Muda Muhammadiyah”, https://kemenag.go.id/berita/read/506737/menag-serukan-moderasi-islam-di-kongres-ulama-muda-muhammadiyah, diakses pada 5 Februari 2018 pukul 15.00.

[6] Surat al-Maidah ayat 3: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu”. Kemudian lihat: Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism, (Kuala Lumpur: International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC)), 1993, h. 107.

[7] Ini adalah stigmatisasi bahwa Islam membawa ajaran terorisme.

[8] Muhammad Abdus Syakur, “Hamid Fahmy Zarkasyi: Moderat beda dengan Wasathiyah”, http://m.hidayatullah.com/berita/nasional/read/2017/11/27/129068/hamid-fahmy-zarkasyi-moderat-beda-dengan-wasathiyah.html, diakses pada 5 Februari 2018 pukul 16.00. Lihat juga situs http://muslimsagainstsharia.blogspot.co.id/2008/01/what-is-moderate-muslim.html yang mendefinisikan istilah “moderat” seperti itu. Dan yang didefinisikan oleh Angel Rabasa, wakil dari Rand Coorporation Amerika Serikat di sebuah simposium yang digelar oleh Japan Institute of International Affair (JIIA) di Tokyo dengan tema “Islam and Asia: Revisiting the Socio-Political Dimension of Islam” pada tahun 2008: https://insists.id/moderat/

[9] Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism, (Kuala Lumpur: International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC), 1993), h. 108.

[10] Syaikh Ibn Manzhur, Lisān al-‘Arab…, jilid 6, h. 4834.; Lihat juga: Syaikh Muhammad ‘Ali al-Tahanawi, Mawsū’ah Kashshāf Iṣṭilāḥāt al-Funūn wa al-‘Ulūm, jilid 2, (Beirut: Maktabah Lubnan Nasyirun, 1996), h. 1782.

[11] Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas, terj. Hamid Fahmy Zarkasyi dkk., (Bandung: Mizan, 2003), h. 201.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.