Ibn Al-Haytham: Bukan Sekadar Saintis, Melainkan Juga Seorang Ahli Ḥikmah

(Review Buku Filsafat Sains Menurut Ibn al-Haytham oleh Usep Mohamad Ishaq)

oleh : Juris Arrozy
( Alumni SPI 3 dan kontributor pimpin.web.id)

al-ḥikmah is every true knowledge and all beneficial actions.

– Ibn al-Haytham

Nama Abū ‘Alī al-Ḥasan ibn al-Ḥasan Ibn al-Haytham (965-1040M), atau lebih populer disebut Ibn al-Haytham, barangkali merupakan sosok saintis yang sudah dikenal luas kontribusinya. Berbagai literatur mencatat kontribusinya dalam bidang optik, fisiologi mata, kalkulus, dll. Bahkan, ada yang menyematkannya sebagai penemu metode saintifik dan salah satu perintis empirisisme – lebih dari setengah milenium sebelum Francis Bacon. Ketokohan Ibn al-Haytham sangat diakui, sehingga UNESCO menetapkan tahun 2015 sebagai tahun perayaan International Year of Light, bertepatan dengan 1.000 tahun sejak ditulisnya magnum opus beliau yaitu Kitāb al-Manāẓir (Book of Optics).

Meskipun kontribusi saintifiknya sudah banyak dibahas, sayangnya karyanya di bidang filsafat dan metafisika masih belum banyak diperhatikan. Hal ini diakui oleh sejarawan Henry Corbin dalam bukunya History of Islamic Philosophy, “he was deeply learned in philosophical culture, for he had read Galen and Aristoteles carefully, but his own philosophical work is unfortunately lost, or else remains unedited, like the Kitab Thamarat al-Hikmah, ‘the fruits of philosophy.’” Ditambah lagi, Dr. Usep mencatat bahwa “beberapa kajian cenderung digambarkan sebagai seorang saintis yang tidak memiliki pemikiran filosofis, dan dilihat sebagai seorang saintis yang mengabaikan, menyekat, dan bahkan menjauhkan kajian terhadap alam dengan masalah-masalah metafisika (hlm. 3)” Hal ini dibuktikan misalnya dengan testimoni Jim Al-Khalili yang menyatakan “he would accept nothing about the world that could not be verified experimentally. (hlm. 12)” atau Ziauddin Sardar yang mengklaim Ibn al-Haytham sebagai “saintis Muslim yang paling sekular (hlm. 12)”.

Maka dari itu, buku Dr. Usep hasil adaptasi disertasinya di CASIS-UTM ini berusaha mengisi ruang kosong yang belum dijamah para peneliti Ibn al-Haytham: bagaimana Ibn al-Haytham memandang berbagai perkara filsafat sains seperti konsepnya tentang kebenaran, ilmu pengetahuan dan derajat-derajatnya, alam tabi‘i, batas-batas metode ilmiah, dsb., di samping isu-isu yang tidak kalah relevannya seperti konsep psikologi manusia dan manusia sempurna (al-insān al-tāmm) serta kaitannya dengan ilmu pengetahuan (hlm. 13-14).

Berbeda dengan para orientalis seperti Dimitri Gutas yang menafikan adanya “Islam normatif” alias Islam sebagai pandangan alam (worldview), Dr. Usep secara tegas menuliskan konsep Islam mengenai sains alam tabi‘i di bab kedua. Meskipun mungkin topik ini bukan merupakan hal baru, tetapi adanya bab ini menjadi bukti bahwa Dr. Usep juga mengakui sumber normatif di samping sumber historis. Berbagai konsep dijabarkan seperti ta’rif ilmu yang pada akhirnya berhubungan dengan pengenalan kepada Allah alias ma‘rifatullāh (hlm. 20, 28-29), konsep alam tabi‘i termasuk manusia sebagai “buku” dan “tanda” (āyāt) yang merujuk kepada Sang Pencipta (hlm. 20-24), ketergantungan alam semesta terhadap Allah (hlm. 24-27), tujuan metafisis dari kajian alam tabi‘i (hlm. 27-29), serta pengakuan otoritas dan intuisi sebagai sumber ilmu selain akal dan panca indra (hlm. 29-33). Bab ini dapat berfungsi sebagai kerangka kerja (framework) untuk memahami pemikiran Ibn al-Haytham.

Bab ketiga menyediakan tinjauan biografi dan bibliografi Ibn Al-Haytham. Menurut laporan Al-Bayhaqī (w. 1170M), Ibn al-Haytham digambarkan sebagai sosok yang wara‘, taat beribadah, dan mengagungkan syariat (hlm. 36). Kezuhudan dan sifat wara‘ Ibn al-Haytham dapat dibuktikan misalnya, ketika ia menerima seorang bangsawan Syam untuk menjadi muridnya. Ia mensyaratkan bahwa muridnya harus membayar 100 dinar setiap bulannya, namun ketika masa pendidikannya selesai Ibn al-Haytham justru mengembalikan uang yang telah dibayarkannya. Ternyata Ibn al-Haytham hanya menguji muridnya, apakah ia takut kehilangan harta demi ilmu atau tidak (hlm. 58).

Meskipun riwayat pendidikan Ibn al-Haytham tidak tercatat dengan jelas, tidak dapat diragukan bahwa beliau mengawali pendidikannya dengan pendidikan agama sebelum terjun ke wilayah sains alam dan matematika (hlm. 36, 41). Selain merupakan saintis kelas ulung, Ibn al-Haytham aktif terlibat menyelesaikan permasalahan masyarakat sekitar seperti usahanya menyelesaikan masalah kekeringan air di sungai Nil, meskipun tidak berujung kesuksesan (hlm. 59-62). Beliau juga dalam berbagai karyanya terlibat dalam wacana-wacana ilmu Kalam, terutama penolakan beliau terhadap ajaran Mu‘tazilah (hlm. 37). Dari 187 judul karya Ibn al-Haytham yang berhasil dikumpulkan Dr. Usep, tercatat bahwa beliau menulis banyak karya-karya selain sains alam dan matematika seperti metafisika (34 karya), mantik/logika (15 karya), etika (4 karya), dsb (hlm. 66). Melihat daftar-daftar tersebut, tentunya tidak tepat menggambarkan Ibn al-Haytham sebagai seorang spesialis sempit (hlm. 65), apalagi jika berkesimpulan seperti Saleh Beshara Omar: “…Ibn al-Haytham was not, primarily, interested in these disciplines (epistemologi, pen.).” (hlm. 11). Dr. Usep mencatat, barangkali ketiadaan kajian filsafat Ibn al-Haytham dikarenakan Kitāb Thamarah Al-Ḥikmah baru disunting pada tahun 1991 dan belum tersebar secara luas (hlm. 69-70).

Bab empat membahas psikologi manusia dan hubungannya dengan aksiologi ilmu pengetahuan menurut Ibn al-Haytham. Dalam pandangan Ibn al-Haytham, manusia memiliki tiga fakultas, yaitu fakultas tumbuhan (al-quwwah al-nabātiyyah), fakultas hewani (al-quwwah al-ḥayawāniyyah), dan fakultas khusus manusia yaitu fakultas rasional (al-quwwah al-nāṭiqah). Sebagaimana al-Ghazālī, Ibn Sīnā, dan para intelektual Muslim lainnya, Ibn al-Haytham juga menjelaskan kaitan antara indra luaran dan indra dalaman dalam melakukan pengindraan (sensation) dan pencerapan (perception) terhadap bentuk (form) dan makna (meaning) yang masuk dari dunia luar (hlm. 86-96).

Hal yang kemudian menarik untuk dicermati adalah bagaimana Ibn al-Haytham mengaitkan antara fakultas rasional manusia dengan konsep manusia sempurna (al-insān al-tāmm) dan kebahagiaan. Disebutkan bahwa manusia yang sempurna adalah manusia yang telah meraih kebijaksanaan (al-ḥikmah). Ibn al-Haytham mendefinisikan al-ḥikmah sebagai “pengetahuan tentang setiap yang benar dan perbuatan (‘amal) setiap yang bermanfaat. (hlm. 98, 129)” Ibn al-Haytham juga mengaitkan al-ḥikmah dengan meneladani perbuatan-perbuatan Allah dalam kadar kemampuan manusia (hlm. 98, 100, 129-130). Manusia yang tidak berusaha menggapai al-ḥikmah disebut Ibn al-Haytham sebagai manusia yang kurang (al-insān al-nāqiṣ) karena ia tidak terbedakan dari hewan yang tidak memiliki fakultas rasional (hlm. 98-100). Selaras dengan teori cardinal virtues oleh Aristoteles yang kemudian diislamisasi oleh sosok seperti Ibn Miskawayh dan al-Ghazālī (lihat hlm. 103-107), Ibn al-Haytham juga menjelaskan bagaimana fakultas-fakultas yang dimiliki manusia seperti fakultas keinginan (al-quwwah al-shahawāniyyah), fakultas marah (al-quwwah al-ghaḍbiyyah) dan fakultas rasional (al-nāṭiqah) akan mencapai ekstrem jika kuasa hewani tidak dikendalikan (hlm. 102-103).

Menurut Ibn al-Haytham, menggunakan fakultas rasional untuk menuju manusia sempurna adalah cara meraih kebahagiaan (hlm. 108). Kebahagiaan jenis ini dinamakan sebagai kebahagiaan yang terkait dengan sifat terpuji, atau keterbebasan dari sesuatu selain kepedihan (rāḥah min ghayr alam). Hal ini dibedakan dari kebahagiaan yang berkaitan dengan keterbebasan dari kepedihan (rāḥah min alam) seperti makan agar terbebas dari lapar (hlm. 108-111, 116). Dari sini, kita dapat melihat keterkaitan antara ilmu dan kebahagiaan dalam pandangan Ibn al-Haytham. Meskipun ada kemiripan dengan teori kebahagiaan Aristoteles, tetapi Dr. Usep mencatat teori kebahagiaan Ibn al-Haytham “sangat berbeda terutama dalam unsur kebahagiaan yang berkaitan dengan akhirat dan akhlak (hlm. 117)”.

Bab kelima dan keenam barangkali menjadi bab terpenting di buku ini. Bab kelima menyajikan pandangan Ibn al-Haytham tentang ilmu pengetahuan. Di bab ini, kembali kita temukan definisi al-ḥikmah sebagai ilmu yang benar dan amal yang bermanfaat serta kaitannya dengan meniru sifat Allah sebatas kemampuan manusia (hlm. 129-130). Dalam Kitāb Thamarah Al-Ḥikmah juga kita dapat menemukan bahwa tujuan filsafat adalah mengetahui berbagai wujud yang ada, dengan wujud metafisika Tuhan sebagai wujud tertinggi (hlm. 122-123). Dari sini, Dr. Usep menyimpulkan bahwa Ibn al-Haytham menghubungkan konsep al-ḥikmah dengan berzikir kepada Tuhan dan kemudian semakin mengukuhkan keyakinan kepada-Nya (hlm. 127).

Dr. Usep juga mencatat, hubungan antara al-ḥikmah dengan keyakinan terhadap Tuhan memiliki konsekuensi epistemologis, yaitu adanya jalan lain mencapai ilmu pengetahuan selain rasio dan indra. Argumen Dr. Usep ini dikuatkan dengan pernyataan Ibn al-Haytham di berbagai kesempatan seperti perbedaan metode antara ilmu matematika dan ilmu agama (hlm. 145), keterbatasan indra (hlm. 146) dan akal (hlm. 147), atau pengakuannya terhadap otoritas sebagai sumber ilmu (hlm. 147). Dari pernyataan-pernyataan ini, disimpulkan bahwa menurut Ibn al-Haytham “terdapat berbagai sumber dan kaidah untuk meraih kebenaran yang masing-masing digunakan sesuai dengan tempatnya. (hlm. 148)” Hal ini menunjukkan bahwa Ibn al-Haytham jauh dari kesan sekular dan positivis sebagaimana diklaim sebagian peneliti. Lebih tepat jika Ibn al-Haytham dipandang sebagai penganut metode tawḥīdi dalam hal keilmuan (hlm. 143, 216-219).

Dari sini, dapat disimpulkan juga bahwa menurut Ibn al-Haytham ilmu dapat diklasifikasikan menjadi tiga jenis berdasarkan sumbernya: 1) yang berasal dari otoritas; 2) yang berasal dari burhān alias rasio; 3) yang berasal dari indra (hlm. 157). Berdasarkan definisi al-ḥikmah yang meliputi ilmu dan amal, Ibn al-Haytham juga membuat klasifikasi lain. Pada al-ḥikmah yang bersifat akliah, beliau memasukkan disiplin metafisika, ilmu alam tabi‘i, dan matematika – klasifikasi yang mirip dengan Aristoteles. Di aspek amaliah, beliau membaginya menjadi disiplin yang berkaitan dengan kebaikan perseorangan dan yang berkaitan dengan kebaikan umat (hlm. 154-156). Disiplin yang berkaitan dengan kebaikan umat ini menarik untuk digarisbawahi karena dalam Islam sendiri dikenal konsep fard kifāyah. Hal ini membuktikan hadirnya pandangan alam Islam dalam pemikiran keilmuan Ibn al-Haytham – sekali lagi jauh dari kesan sekular yang diandaikan.

Bab keenam membahas etika keilmuan dan juga beberapa permasalahan epistemologi pada kaidah saintifik dalam pandangan Ibn al-Haytham. Adab-adab meneliti seperti tidak mengikuti hawa nafsu, bersikap adil dalam menimbang pendapat, serta bersikap jujur dalam rujukan dan menghindari plagiarisme dituliskan oleh Ibn al-Haytham dalam berbagai karyanya (hlm. 169-174). Selain itu, sebagaimana para ilmuwan Muslim pada masanya, Ibn al-Haytham juga memperhatikan adab menulis seperti mengucap basmalah di awal dan ḥamdalah di akhir (hlm. 174-177), meskipun karya yang ditulis bukan tentang ilmu agama.

Bab enam juga membahas pemikiran Ibn al-Haytham yang terkait dengan kaidah saintifik. Sejalan dengan yang disebutkan pada bagian sebelumnya, Ibn al-Haytham mengakui keterbatasan rasio dan indera dalam menerima ilmu pengetahuan. Namun hal tersebut tidak menjadikannya seorang yang skeptis (hlm. 185). Selain itu, Ibn al-Haytham juga memahami Allah tidak hanya sebagai pencipta (dalam pengertian prime mover Aristoteles) alam semesta namun juga pemeliharanya, sehingga keteraturan tercipta dan oleh karenanya observasi juga menjadi mungkin (hlm. 177-183).

Buku ini kemudian ditutup oleh bab tujuh yang merupakan rangkuman temuan-temuan pada penelitian ini.

Ada banyak alasan untuk merekomendasikan karya ini, dari mulai kualitas literatur hingga kebaruan (novelty) bahasannya. Namun bagi saya kekuatan terbesar buku ini terletak di metodologinya. Terlihat dalam keseluruhan buku ini, Dr. Usep tidak memisahkan antara sumber historis dan normatif. Berbagai kutipan langsung maupun implikasi dari pernyataan Ibn al-Haytham ditampilkan di buku ini, kemudian dianalisis berdasarkan worldview Islam. Penjelasan Ibn al-Haytham dibandingkan dengan konsep-konsep kunci worldview Islam, seringkali lewat bantuan penjelasan ulama/saintis lain yang otoritatif. Penulis tidak terjebak pada ekstrem menolak sumber normatif, juga tidak mengasumsikan Ibn al-Haytham pasti berpandangan Islam sehingga segala aktivitasnya dicari justifikasi ayat Al-Qur’annya. Tepatlah jika penelitian ini dikatakan menggunakan metode tawḥīdi, yaitu menggunakan kaidah rasional, empiris, dan otoritas sekaligus serta kesemuanya digunakan secara adil.

Dari buku ini, kita dapat membayangkan iklim intelektual CASIS yang memang konsisten dengan pemikiran Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas. Ditambah lagi, pembimbing Dr. Usep dalam menulis disertasinya adalah Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud yang merupakan murid langsung dari Prof. Al-Attas sejak masa pendirian ISTAC. Saya bisa membayangkan bagaimana sanad keilmuan Dr. Usep sangat berperan dalam menghasilkan disertasi yang kemudian lahir menjadi buku-buku berkualitas, diantaranya buku Filsafat Sains Menurut Ibn al-Haytham ini.

Namun tentunya sebagai karya ciptaan manusia, buku ini pun memiliki kekurangan. Salah satu yang paling kentara ada di sisi editorial. Misalnya, di satu halaman judul buku di bagian catatan kaki tidak diberi tanda pemisah “:” antara judul dan subjudul (ex: Jim Khalili, Pathfinders The Golden Age of Arabic Science, hlm. 12), sementara di catatan kaki lain diberi tanda pemisah (ex: S.M.N. Al-Attas, On Justice and The Nature of Man: A Commentary on…., hlm. 182). Kata “tabi‘in” dan bukannya “tabi‘i” juga terlanjur tercetak di halaman 189. Saya mendapat kabar bahwa sebelumnya terjadi kesalahan editorial sehingga semua kata “tabi‘i” berganti menjadi “tabi‘in”. Barangkali halaman 189 tersebut adalah sisa kesalahan editorial.

Klasifikasi pemikiran filsafat sains Ibn al-Haytham pun bisa disusun dengan cara lain. Misalnya, sebagian bab lima dan bab enam bisa dinaungi oleh topik epistemologi, sementara beberapa bahasan lainnya oleh topik ontologi. Namun, tentu bukan berarti pengelompokkan di buku ini adalah keliru. Preferensi penulis memang tidak terelakkan dalam kajian pemikiran tokoh semacam ini.

Akhir kata, buku ini sangat berguna untuk memahami pemikiran Ibn al-Haytham (atau lebih luas lagi, saintis-saintis Muslim di masa lampau). Kajian semacam ini penting untuk memahami sisi yang belum banyak terjamah dalam kajian historiografi saintis Muslim, yaitu pemikiran filsafat ilmu. Di samping Ibn al-Haytham, kajian serupa terhadap saintis-saintis Muslim lainnya pun perlu dilakukan demi merekonstruksi sejarah peradaban Islam lebih baik lagi.

________________

Buku Filsafat Sains menurut Ibn Al-Haytham bisa didapatkan di Pimpin Bookstore atau langsung pesan di sini.

Total Page Visits: 1621 - Today Page Visits: 2

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.