Adab terhadap Para Pemimpin Sejati (‘Ulama) — Catatan Ngaderes Islam dan Sekularisme

Bahasan dalam pertemuan ini diantaranya adalah mencakup adab atau pengenalan dan pengakuan terhadap para pemimpin sejati. Sebagaimana telah disinggung dalam pertemuan sebelumnya bahwa pemimpin yang paling utama adalah pemimpin dalam ilmu atau biasa disebut sebagai ulama. Kekeliruan dalam hal ini telah menjerumuskan Umat Muslim ke dalam pemahaman yang rusak tentang Islam serta worldview (pandangan hidup) yang kabur. Maka, ngaderes kali ini pun mengungkapkan pula beberapa langkah yang benar untuk memperbaiki keadaan tersebut.

Pada halaman ini juga Profesor Al-Attas menjabarkan sifat dan perilaku dari golongan yang telah melestarikan ketiadaan adab agar kita dapat mengenali mereka. Beliau memberitahukan kepada kita bahwa orang-orang tersebut bukanlah pemimpin sejati. Para pemimpin palsu yang hidup dekat zaman kita ini telah kehilangan adab karena gegabah memperkecilkan peran para ulama mu’tabar Islam dan mereka mengaku lebih otoritatif daripada ulama besar masa lalu itu. Padahal, tanpa mengenal dan tanpa bimbingan dari mereka pun sebenarnya kita bisa mengetahui tentang Islam beserta pandangan alamnya dari ulama besar masa lalu. Bahkan, tanpa guru-guru sejati masa lalu itu dan tanpa bimbingan dari mereka, hampir tidak mungkin kita sampai pada pemahaman dan ilmu yang benar tentang Islam serta pandangan hidupnya.

Berkaitan dengan itu, Profesor Al-Attas menggunakan pula perumpamaan kisah Aladdin dan lampu ajaibnya untuk memperingatkan kita agar jangan seperti istri Aladdin yang menukarkan lampu tua dengan yang baru hanya karena yang baru itu tampak lebih menarik dan mempesona. Padahal, kandungan nilai lampu yang tua itu bahkan melampaui semua lampu baru yang digabung menjadi satu.

Artinya, kita jangan sampai terpengaruh oleh pemikiran, kaidah, contoh dan teladan yang berasal dari peradaban Barat yang diambil oleh para pemimpin palsu tersebut. Keterpukauan yang berlebihan terhadap peradaban Barat modern dapat membuat kita lupa akan ajaran dan bimbingan ulama masa lalu yang sebenarnya telah menyatakan secara jelas tafsiran Islam mengenai dunia, realitas dan kebenaran. Tetapi, ini bukan berarti bahwa kita anti terhadap segala sesuatu yang datang dari Barat.

Kelompok pemimpin palsu ini turut serta dalam mencari penyelesaian masalah yang dihadapi oleh Umat Muslim hari ini. Tetapi, mereka itu hanya meraba-raba, tidak yakin tentang apa yang mereka lakukan, terburu-buru dalam memahami masalah, salah menilai juga tidak memahami para ulama besar Islam secara lengkap dan malah memusatkan perhatian kepada kesalahan-kesalahan kecil dari para ulama besar tersebut, bukannya mengakui dan menghargai jasa-jasa mereka yang teramat besar dan banyak.

Para pemuda  dan masyarakat awwam yang sebenarnya telah terpengaruh dengan kebudayaan Barat kemudian menyerap kekeliruan yang lebih banyak lagi dari para pemimpin palsu itu berupa pemahaman yang rusak tentang Islam dan worldview (pandangan hidup) yang kabur. Akibatnya, mereka cenderung serampangan menyamaratakan segala sesuatu (levelling), yakni tidak memandang akan wujudnya hierarki atau derajat pada setiap sesuatu itu, terutama tingkatan manusia. Hal inilah yang menghasilkan ‘sosialisme Islam’. Proses ini memerlukan adanya penghapusan unsur kerohanian (despiritualization) dari manusia, dimulai dari penghapusan unsur kerohanian Nabi Muhammad ṣalla’Llāhu ‘alayhi wasallam yang akan membawa Islam menuju suatu bentuk  sekularisasi. 

Di antara bentuk penyamarataan tersebut adalah menganggap bahwa Kitab Suci al-Qur’an setingkat dengan buku karya manusia; Nabi Muhammad ṣalla’Llāhu ‘alayhi wasallam setingkat pula dengan Nabi-nabi lainnya ‘alayhimu’l-salām, bahkan semua Nabi dipandang setingkat dengan orang biasa. Begitu pula semua ilmu dianggap setara, tidak ada marātib sebagaimana dalam konsep ilmu farḍu ’ayn dan farḍu kifāyah; para pemimpin yang sejati dianggap setara dengan pemimpin yang palsu, pemimpin kecil disamakan dengan yang besar; menyamakan kehidupan dunia dengan akhirat dan sebagainya.

Profesor Al-Attas menyebutkan beberapa langkah yang benar dalam mempersiapkan suatu pemulihan yang benar dan menyeluruh dari krisis pokok yang telah merebak ini:

1. Menggambarkan para pemimpin sejati masa lalu dengan lebih benar dan memberi penghargaan yang adil kepada kepada para tokoh yang telah memberikan bimbingan dan ilmu kepada para pendahulu kita. 

2. Mengkaji kembali penggambaran yang salah dengan cara merujuk setiap persoalan hingga yang kecil kepada sumber aslinya dari mana gambaran itu diambil.

3. Menyelidiki dengan saksama dasar-dasar, jalan fikiran dan kesimpulan mereka serta menelusuri kembali jalan logika mereka untuk melihat seberapa jauh mereka benar atau menyimpang. Karenanya, kita sendiri harus mengetahui yang asli dan memahaminya dalam perspektif yang tepat.

Mempelajari dengan tekun pemikiran para pemimpin sejati masa lalu bukanlah berarti kita  tidak dapat memberi sumbangan ilmu yang berharga. Justru, untuk itu pertama-tama kita harus mendapatkan kekuatan dan inspirasi dari kearifan dan ilmu mereka. Ketika kita sudah mulai mampu untuk memberikan sumbangan dari apa yang kita miliki, kita harus tetap memuliakan mereka, menghargai dan mengakui jasa-jasa serta kedudukan mereka sebagai guru, tidak merendahkan ataupun menolak mereka.

Dengan demikian, derajat dan tingkatan ilmu kita pun akan ikut terangkat―terutama di hadapan Allah Subhānahu wa Ta’ālā. Sejarah telah membuktikannya, misalnya Imam Asy-Syafi’i raḥimahullāh yang besar dengan memuliakan gurunya, yaitu Imam Malik raḥimahullāh.Sikap ini adalah merupakan perwujudan dari adab. Profesor Al-Attas mengatakan bahwa ijtihād dapat dilaksanakan tanpa harus melemahkan otoritas yang sah.

Beliau menutup bab ini dengan sebuah penegasan yang mengumpamakan pemimpin sejati laksana obor, sedangkan pemimpin palsu hanyalah lilin kecil: “Mereka adalah seperti obor yang menerangi jalan sepanjang lintasan yang sulit; ketika kita sudah memiliki obor semacam itu untuk menerangi jalan kita, lalu apa gunanya lilin-lilin kecil?”.

Tulisan ini merupakan catatan dari Acara Ngaderes Islam dan Sekularisme hal. 160-163 bersama Usep Mohamad Ishaq, Ph.D. 

Editor: Muhamad Ridwan

Penulis: Sakinah Fithriyah

Total Page Visits: 169 - Today Page Visits: 2

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.