Serasi Itu Tidak Harus Selalu Setara

 

Oleh : Derajat Fitra

Persoalan gender seolah-olah tidak akan pernah selesai untuk dibahas, walaupun telah banyak penelitian yang dilakukan dan telah banyak buku-buku serta artikel-artikel yang  ditulis, diterbitkan dan diseminarkan. Struktur sosial dan kultur masyarakat yang selama ini dianggap tidak adil terhadap perempuan digugat; dan berbagai upaya penafsiran ulang terhadap pemahaman yang merendahkan martabat perempuan terus digulirkan. Wacana kesetaraan gender dijadikan alat untuk menarik perhatian banyak kalangan mulai dari mahasiswa, akademisi, profesional, LSM, pemerintahan, parlemen, hingga tokoh agama atau organisasi umat Islam. Seiring masuknya wacana ini dalam studi Islam maka sudah barang tentu para cendekiawan Muslim tidak dapat menghindar dari penelaahan terhadap wacana ini.

Kata “gender” berasal dari bahasa Inggeris “gender”, berarti “jenis kelamin”.[1] Meskipun kata gender belum masuk dalam perbendaharaan Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah tersebut sudah lazim digunakan, khususnya di Kantor Menteri Negara Urusan Peranan Wanita dengan ejaan “jender”. Jender diartikan sebagai “interpretasi mental dan cultural terhadap perbedaan kelamin yakni laki-laki dan perempuan[2]. Sedangkan dalam Webster’s New World Dictionary, gender diartikan sebagai “perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan dilihat dari segi nilai dan tingkah laku”[3]. Dengan demikian, “gender” secara umum digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan berdasarkan aspek sosial, budaya, psikologis, dan aspek-aspek non biologis lainnya. Sedangkan, istilah “sex” (dalam kamus bahasa Indonesia juga berarti “jenis kelamin”) digunakan untuk mengindentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari aspek biologis menggunakan[4].

Dari definisi-definisi “gender” di atas, meski secara singkat, dapat diketahui bahwa pemaknaan gender sebagai konstruksi sosial sarat dengan nilai, ideologi, ambisi, dan kepentingan kelompok tertentu. Konsep gender yang dibentuk secara sosial dimaksudkan untuk tidak memandang perempuan sebagai kebalikan dari laki-laki yang hanya pantas berperan melahirkan anak, mengasuh, dan merawatnya saja. Kategori biologis laki-laki (male) dan perempuan (female) dan perannya dari setiap manusia ditentukan oleh konstruk sosial di masyarakat.

Dalam pembahasan intelektual, para ahli menggunakan beragam cara pandang, pendekatan, corak penafsiran, atau sumber-sumber sehingga memunculkan rincian kesimpulan yang beragam pula. Namun, dasar perjuangan yang secara dzahir-nya sama-sama ditekankan, baik di kalangan pemikir Muslim atau di kalangan kaum sekuler, adalah mengupayakan anak-anak dan kaum perempuan agar mendapatkan pendidikan, khususnya secara formal di sekolah dan perguruan tinggi, agar mengerti hak-hak dan tanggungjawabnya, hak-haknya di ruang publik, termasuk hak dan kebebasan mengungkapkan pendapat, berbisnis, ikut berpolitik, dan lain sebagainya.

Dalam tradisi keilmuan Islam, Al Quran dan Sunnah, menjadi rujukan utama para ahli dalam merumuskan pandangannya. Hal ini berbeda dengan tradisi keilmuan Barat-sekuler, di mana masyarakatnya cenderung beralih dari budaya beragama kepada sekedar kepercayaan agama. Jika sebelumnya agama laksana sifat kata-kerja (adverb), maka belakangan agama menjadi kata benda belaka (noun). Artinya, jika dahulu orang melakukan sesuatu karena dan menurut petunjuk agama, maka sekarang orang melakukan apa yang mereka lakukan tanpa peduli pada dan bukan karena agama[5]. Termasuk di dalam merumuskan konsep-konsep kesetaraan gender.

Beberapa dasawarsa terakhir, sebagaimana dijelaskan oleh pakar pemikiran Islam, Syamsuddin Arif, gerakan feminis di Barat dikatakan seperti kena batu-nya. Gerakan-gerakan feminisme yang bersikap anti laki-laki, mengutuk dominansi laki-laki, mencemooh pernikahan, menghalalkan aborsi, merayakan lesbianism dan revolusi seks, justru menodai reputasi gerakan itu. Gerakan feminisme disalahkan karena dianggap telah mengebiri laki-laki, menyuburkan pergaulan sesama jenis, dan mengubah perempuan menjadi orang-orang yang gila pekerjaan, hidup dalam kesepian, dan lain sebagainya. Emansipasi perempuan di Barat terbukti telah merusak sendi-sendi masyarakat dan menghansurkan nilai-nilai keluarga. Sebuah laporan kependudukan PBB memperkirakan pada tahun 2030 daratan Eropa akan kehilangan sekitar 41 juta penduduknya, meskipun terus kedatangan imigran[6].

Di kalangan umat Islam, wacana emansipasi perempuan telah digulirkan oleh para Ulama. Syekh Abdul Halim Muhammad Abu Syuqqah dalam karyanya, Tahriru l-Mar’ah fi ‘Ashri r-Risalah (kuwait, 1991), misalnya, membuktikan bahwa tidak seperti yang sering dituduhkan, agama Islam ternyata sangat menjunjung tinggi kehormatan perempuan. Setelah melakukan kajian intensif terhadap literature Islam klasik, beliau mendapati bahwa kedatangan Islam telah melahirkan "revolusi gender" pada abab ke-7 Masehi. Islam datang memerdekakan perempuan dari dominasi kultur Jahiliyah yang zhalim dan biadab. Oleh demikian, tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa gerakan ‘emansipasi perempuan’ yang benar-benar memuliakan perempuan sebenarnya dipelopori oleh risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw[7].

Para Ulama sepakat, tidak satupun ayat dalam Al-Qur’an yang menampilkan misogyny ataupun bias gender[8]. Semua ayat yang membicarakan tentang Adam dan Hawa, sejak di Surga hingga turun ke bumi, selalu menekankan kedua belah pihak dengan menggunakan kata-ganti untuk dua orang (dalam bahasa Arabnya: huma atau kuma). Selain itu, bukanlah Adam dan Hawa yang dipersalahkan, melainkan setan yang dikatakan menggoda keduanya hingga dikatakan memakan buah dari pohon keabadian. Selanjutnya, setelah di muka bumi, laki-laki dan perempuan diposisikan setara derajatnya, namun kesetaraan ini tidak ditentukan oleh jenis kelamin melainkan oleh kadar iman dan amal saleh masing-masing (Ali ‘Imran: 195).

Kita, sebagai seorang Muslim patut bersikap kritis terhadap isu, wacana, atau konsep yang datang dari Barat-sekular. Termasuk terhadap konsep “kesetaraan gender” yang sering disebut sebagai ekspresi ketidakpuasan untuk menuntut kesamaan peran dan kedudukan. Padahal kesetaraan sering kali, utamanya yang tidak ditempatkan pada konteksnya yang benar justru menimbulkan ketidakserasian dan ketidakserasian itu berarti ketidakharmonisan. Serasi itu ibarat sebuah tabuhan gamelan yang tercipta secara harmonis melalui perbedaan nada, sehingga menghasilkan bunyi-bunyi yang indah. Keserasian adalah buah dari keberagaman yang masing-masing individu memposisikan diri pada tempatnya yang pantas dan berperan sesuai kapasitasnya. Itulah keserasian gender, bukan kesetaraan gender. Serasi itu tidak harus selalu setara.

[1] John M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia (Jakarta: Gramedia, cet. XII, 1983, h. 265.

[2] Nasaruddin Umar. Argumen Kesetaraan Jender Perspektif Al-Quran. Jakarta: Dian Rakyat, 1999,  h. 31.

[3] Victoria Neufeldt (Ed.), Webster’s New World Dictionary . New York: Webster’s New World Clevenland, 1984, h. 561.

[4] Nasaruddin Umar. Argumen Kesetaraan Jender Perspektif Al-Quran. Jakarta: Dian Rakyat, 1999,  h. 33.

[5] Syamsuddin Arif. Orientalis dan Diabolisme Pemikiran. Jakarta: Gema Insani Press, hal. 87.

[6] Ibid, hal. 107-108.

[7] Abu Syuqqah, Kebebasan Wanita, 6 jilid (terjemahan)(Jakarta: Gema Insani Press, 1998-2005).

[8] Syamsuddin Arif. Orientalis dan Diabolisme Pemikiran. Jakarta: Gema Insani Press, hal. 112-113.

No Response

Leave a reply "Serasi Itu Tidak Harus Selalu Setara"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.