Islam: Wasathiyah atau Moderat?

No comment 428 views

 

radikal

Oleh: Muhamad Ridwan*

“Dan demikian Kami menjadikan kamu (umat Islam) ummatan wasathan (umat yang adil dan pilihan) agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan manusia) dan agar Rasul (Muhammad) menjadi  saksi atas (perbuatan) kamu…” (QS. al-Baqarah: 143).

Ibn Manzhur dalam kitabnya, Lisan al-‘Arab menjelaskan makna "وسَط" berarti berada diantara dua titik ujung atau dua kulminasi, seimbang dalam memaknai sesuatu sehingga lebih baik daripada kedua titik ujungnya sebagaimana menunggangi hewan untuk bepergian adalah lebih baik di badan bagian tengahnya (punggungnya) daripada di bagian kepala atau belakangnya. Beliau mengutip sebuah hadits: خيار الأمور أوسطها (Sebaik-baik perkara adalah pertengahannya). Dan makna dari Ummatan wasathan dalam ayat diatas adalah umat yang adil.[1] Umat yang adil berarti seimbang, tidak zalim dan tidak biadab karena senantiasa meletakkan segala sesuatu pada tempatnya sehingga memenuhi haknya masing-masing, tidak ekstrem ke kanan atau ekstrem ke kiri, dan senantiasa menjadi wasit bagi orang lain.

Syaikh Wahbah az-Zuhaili menafsirkan bahwa Islam adalah pertengahan diantara dua perkara; tidak terlalu keras dan tidak terlalu permisif, tidak melampaui batas (ekstrem) dan tidak mengabaikan, tidak berlebihan serta tidak fanatik dan tidak meremehkan, keterhubungan antara materi atau substansi dengan esensi dalam perundang-undangannya, menghendaki keseimbangan dan mengimplementasikannya pada setiap urusan. Ummatan wasathan atau umat pertengahan yang adil dan pilihan adalah umat Muslim, Ahlus Sunnah wal Jama’ah.[2]

Segala sesuatu telah ditentukan tingkatan dan tempatnya (haknya) masing-masing oleh Allah. Manusia mesti beradab terhadap-Nya, terhadap diri sendiri, terhadap masyarakat, terhadap ilmu, dan terhadap yang lainnya. Adab terhadap Allah kemudian terhadap diri sendiri mesti lebih diutamakan dan didahulukan. Umat pertengahan ini adalah yang dianugerahi hikmah, yaitu ilmu mengetahui tempat yang benar (haq) dari segala sesuatu.[3] Juga beradab—sebagaimana pengertiannya yang diajukan oleh Profesor Syed Muhammad Naquib al-Attas—, yakni bertindak adil karena memperlakukan dan menempatkan segala sesuatu itu pada derajat dan martabatnya yang sesuai. Adab, ilmu, dan amal secara keseluruhan menyatu dan tidak dipisahkan.[4] Oleh karena itu, umat ini merupakan khairu ummah atau umat yang terbaik.

Wasathiyah adalah sifat dari umat pertengahan itu sendiri, dan istilah ini sering dikaitkan dengan istilah “moderat”. Sebagai ummat yang mewarisi tradisi keilmuan yang sangat berhati-hati dalam penggunaan istilah-istilah kunci, kita perlu mencermati kedua penggunaan istilah ini. Bahkan, akhir-akhir ini Menteri Agama RI, dan juga berbagai kalangan termasuk para sarjana muslim, sering menyerukan moderasi Islam di beberapa kesempatan acara.[5] Penggunaan istilah “moderat” dan menyandingkannya dengan “Islam” adalah sesuatu yang tidak tepat bahkaan merupakan sebuah kerancuan dan kekeliruan. Islam dengan sendirinya merupakan agama yang mengandung sifat adil dan tidak eksterim, karenanya ia tidak perlu dimoderasi karena sudah sempurna dalam sifat pertengahannya sejak awal mulanya.[6] Kalaupun ingin menggunakan istilah moderasi, maka yang tepat adalah “moderasi pemahaman umat Islam”, bukan “moderasi Islam” yang merujuk pada ajaran Islam itu sendiri. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, Direktur Pascasarjana Unida Gontor, dalam Rakerda MUI Provinsi Jawa Timur di Aula Asrama Haji Sukolilo Surabaya, Jawa Timur, mengatakan bahwa istilah moderat tidaklah sama dengan istilah wasathiyah. Muslim moderat menurut Barat adalah dengan ciri-ciri Muslim yang tidak anti semit, kritis terhadap Islam dan menganggap Nabi Muhammad tidak mulia dan tidak perlu diikuti, pro kesetaraan gender, menentang jihad, menentang kekuasaan Islam, pro pemerintahan sekular, pro Israel, pro kesamaan agama-agama, tidak merespons terhadap kritik-kritik kepada Islam dan Nabi Muhammad, anti pakaian Muslim, tidak suka jilbab, anti syariah dan anti terorisme.[7] Oleh karena itu, makna wasathiyah tidaklah tepat apabila disepadankan dengan istilah moderat seperti yang dipahami oleh Barat karena mereka tidak adil, lebih condong kepada keduniawian dan mengesampingkan akhirat, meremehkan dan mengabaikan perintah agama lalu membuat aturan sesuai keinginan mereka. Islam menengahinya dengan memberikan solusi yang adil dan benar.

Di sisi lain, jika mengaku sebagai bagian dari umat ini maka tidak boleh lupa bahwa kita juga adalah wasit atau penengah bagi sesama saudara kita yang Muslim. Seorang wasit tentu harus adil, tidak memicu pertikaian dan mendamaikan yang bermusuhan. Penting sekali untuk mengetahui struktur atau tingkatan-tingkatan dalam pemikiran Islam agar dapat menyikapi perbedaan pendapat antar sesama Muslim secara tepat. Dr. Ugi Suharto yang menyusun struktur ini kemudian menjelaskannya dalam Special Lecture yang diselenggarakan oleh Institut Pemikiran Islam dan Pembangunan Insan (PIMPIN) pada hari Ahad, 23 Juli 2017 di Bandung bahwa tingkatan pemikiran Islam yang paling tinggi adalah Worldview (pandangan alam) yang mana di dalamnya mencakup akidah yang pokok; dalam tingkatan selanjutnya ada akidah level kedua, yaitu tingkat kalam; lalu dibawahnya ada fiqh ('amaliyah ibadah); dan berikutnya adalah cabang dari fiqh yang merupakan tingkatan paling bawah semisal politik dan ekonomi. Associate Professor di University College of Bahrain (UCB) ini menyatakan bahwa pada tingkatan yang paling atas tiada perbedaan diantara umat Muslim, misalnya pandangan mengenai keesaan Allah, kerasulan Sayyiduna Muhammad shalallahu ‘alayhi wasallam, kebenaran Al-Qur’an, dan sebagainya. Seluruh umat Muslim bersatu pada tahap pemikiran yang paling tinggi ini. Tetapi, semakin bawah tingkatan, maka akan semakin banyak perbedaan pandangan. Tingkatan dibawah worldview perlu disikapi dengan toleransi, lapang dada, tidak kaku serta tidak bersikap keras karena sudah tabiatnya pasti berbeda.

Dosen yang pernah mengajar di International Institute of Islamic Thought and Civilization-International Islamic University Malaysia (ISTAC-IIUM) ini menegaskan bahwa kita harus berhenti saling mengafirkan dan bertengkar dalam masalah kalam karena urusan ini telah selesai ratusan tahun lalu, jangan dimunculkan kembali. Antara Asy’ariyyah maupun Atsariyyah boleh merujuk kepada kitab al-Farqu baina al-Firaq karya Imam Abdul Qahir al-Baghdadi atau kitab Lawami’ al-Anwar al-Bahiyyah karya Syaikh Abul Aun al-Safarini. Mereka tidak memvonis kufur satu sama lain. Hal inilah yang dilakukan oleh para ulama terdahulu, mereka memahami bahwa masalah ini memang termasuk akidah, tetapi bukan yang paling pokok. Adapun kalam-kalam rusak dari golobgan Mu’tazilah, Khawarij, Murji’ah, Syi’ah (yang tidak berkeyakinan bahwa al-Qur’an telah di-tahrif) dan lainnya yang berbeda dalam masalah akidah level kedua ini juga tidaklah dikafirkan, tetapi ulama lebih mengategorikannya sebagai ahlul bid’ah. Bid’ah sebenarnya berawal dari perkara akidah ini, bukan dalam fikih. Imam al-Bukhari pun masih mengambil riwayat dari orang-orang Mu'tazilah dalam kitab shahih-nya selama mereka tidak aktif dalam mendakwahkan kesesatannya. Menurut Dr. Ugi Sugarto, kita juga jangan terus-menerus berselisih, debat, dan bersikap terlalu keras dalam urusan fikih, kita telah melihat dimana sejak ratusan tahun lalu bagaimana orang-orang bertikai dan berpecah belah karena masalah ini. Persoalan boleh tidaknya isbal, musik, pelafalan niat, qunut shubuh, dan lainnya adalah ikhtilaf dalam fikih, bukan merupakan persoalan tingkat tertinggi. Fikih ini menempati urutan ketiga dalam struktur pemikiran Islam. Jangan pula perbedaan pandangan dan analisis politik terlalu dimasukkan ke dalam hati sehingga kita dibuatnya kecewa. Kita seharusnya belajar dari sejarah antara Sayyiduna Ali karramallahu wajhah yang sampai berperang dgn Muawiyah radhiyallahu 'anhu hanya karena berbeda pandangan politik, kita juga telah melihat pertumpahan darah dalam pergantian kekuasaan dari dinasti Umayyah kepada dinasti Abbasiyyah. Kita lihat pula bagaimana Syi'ah awalnya muncul dari masalah politik, lalu mereka mengangkat perselisihan ini ke tingkat atas kemudian lama-lama berubah menjadi beda kalam atau akidah dengan Sunni. Penulis buku “Pemikiran Islam Liberal: Pembahasan Isu-isu Sentral” dan “Keuangan Publik Islam: Reinterpretasi Zakat Dan Pajak” yang diterjemahkan dari desertasinya ini juga mengatakan: “Kalau saja memandang Muslim lain dengan worldview, niscaya kita akan memandang dengan pandangan rahmah (kasih sayang)”. Apabila mampu seperti itu, maka kita tidak akan memicu pertikaian dan permusuhan di level-level yang sepele dan memang sudah tabiatnya banyak perbedaan asumsi di kalangan ulama. Kita akan adil dan beradab yang berarti menempatkan masalah sesuai dengan tingkatannya, tidak menyepelekan juga tidak membesar-besarkan. Semua perbedaan disikapi secara seimbang dan tepat. Bilamana menjumpai perbedaan-perbedaan pada level bawah maka tidak mengangkatnya keatas, melainkan kembali kepada worldview yang menyatukan umat. Persoalan-persoalan kalam maupun fikih tidak boleh dibesar-besarkan dan menjadikannya seolah-olah perkara akidah yang pokok (worldview) sehingga yang berbeda divonis sesat atau kafir. Adapun perkara yang wajib diperlakukan sebagai wajib, dan yang sunnah diperlakukan sebagai sunnah, sesuai kedudukannya masing-masing. Sebaliknya, terhadap paham-paham atau isu-isu yang datangnya berasal dari Barat seperti free thinking, human rights, LGBT, sosialisme, gender equality, neo-liberalisme, dan sebagainya mestilah diangkat dan dilihat dari sudut fikih hingga worldview-nya karena produk ilmu dan pemikiran yang berasal dari mereka itu bukan dihasilkan dari worldview Islam, melainkan dari worldview Barat yang sekular dan ekstrem yang bertentangan dengan worldview Islam. Istilah “moderat” seperti yang telah dibahas diatas adalah salah satu contohnya.

Apabila menerapkan konsep adil dan beradab ini, yakni tidak ekstrem seperti Barat yang sekular liberal, longgar terhadap agama dan memaknai moderat sebagai dekonstruksi agama; juga tidak ghuluw atau berlebihan dan terlampau keras dalam beragama yang membesar-besarkan permasalahan-permasalahan sepele, maka kita termasuk ke dalam ummatan wasathan yang merupakan khairu ummah, insya Allah. Wallahu a’lam bishawab.

*Alumni Ma’had al-Imarat Bandung, mahasiswa STAIPI Bandung, dan peneliti PIMPIN.

[1] Ibnu Manzhur, Lisan al-‘Arab al-Mujallad al-Sadis, (Kairo: Dar al-Ma’arif), t.t., h. 4832.

[2] Syaikh Wahbah al-Zuhaili, al-Tafsir al-Wasith, (Damaskus: Dar al-Fikr), 2001, h. 64.

[3] Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism, (Kuala Lumpur: International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC)), 1993, h. 108.

[4] Ibid., h. 105-106.

[5] Salah satunya lihat: Benny, “Menag Serukan Moderasi Islam di Kongres Ulama Muda Muhammadiyah”, https://kemenag.go.id/berita/read/506737/menag-serukan-moderasi-islam-di-kongres-ulama-muda-muhammadiyah, diakses pada 5 Februari 2018 pukul 15.00.

[6] Surat al-Maidah ayat 3: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu”. Kemudian lihat Syed Muhammad Naquib al-Attas, Op. Cit., h. 107.

[7] Muhammad Abdus Syakur, “Hamid Fahmy Zarkasyi: Moderat beda dengan Wasathiyah”, http://m.hidayatullah.com/berita/nasional/read/2017/11/27/129068/hamid-fahmy-zarkasyi-moderat-beda-dengan-wasathiyah.html, diakses pada 5 Februari 2018 pukul 16.00

No Response

Leave a reply "Islam: Wasathiyah atau Moderat?"