Keterasingan Manusia Menurut Karl Marx: Suatu Tinjauan Kritis

Keterasingan Manusia Menurut Karl Marx

(Tinjauan Kritis)

 

Oleh : Derajat Fitra Marandika[1]

 

 

  1. Latar Belakang

 

Alienasi atau keterasingan adalah salah satu konsep penting pemikiran Karl Marx (1818-1883 M) dalam mengkritik sistem kapitalisme. Marx menggunakan konsep alienasi untuk menyatakan pengaruh produksi kapitalis terhadap manusia dan masyarakat.[2] Magnis Suseno menjelaskan bahwa Marx mengkritik kapitalisme sebagai sumber penyebab keterasingan manusia karena sistem hak milik pribadi kapitalis memecah belah manusia ke dalam kelas-kelas sosial dan menyelewengkan makna pekerjaan menjadi sarana eksploitasi terhadap sesama manusia. Lantas Marx memusatkan perhatian pada penghapusan hak milik pribadi dengan menyatakan bahwa faktor penentu sejarah manusia bukanlah politik atau ideologi melainkan sistem ekonomi. Marx kemudian memusatkan perhatian pada sistem ekonomi kapital hingga berpendapat bahwa kapitalisme akan mengalami kehancurannya sendiri akibat penghisapan kaum pekerja menghasilkan pertentangan kelas tajam sehingga menimbulkan revolusi kelas pekerja dan pada akhirnya mewujudkan masyarakat sosialis tanpa kelas.[3]

Konsep alienasi merupakan salah satu bagian dari gagasan sosialisme Marx yang memikat berbagai kalangan, termasuk di antaranya dari kalangan pemikir Muslim sehingga menyerukan untuk menggunakan Marxisme sebagai kerangka teoritis guna mencari solusi bagi permasalahan umat dewasa ini.[4] Pemikiran Marx dinilai memihak pada masyarakat kecil tertindas dan relevan untuk menyadarkan masyarakat bahwa kemiskinan atau penindasan bukan sebuah realitas deterministik melainkan disebabkan oleh sistem dan struktur kapitalisme. Pemahaman tentang eksploitasi kaum kapitalis, perombakan sistem kapitalisme, penghapusan hak milik pribadi hingga perjuangan kelas mewujudkan masyarakat tanpa kelas sebagai bentuk pembebasan manusia dari keterasingan diri digulirkan.[5] Sementara perangkat teoritik dari akar tradisi dan sejarah Islam dianggap kurang relevan lagi untuk memecahkan permasalahan kontemporer sehingga perlu untuk ditafsirkan ulang agar sesuai dengan situasi masyarakat hari ini.[6]

Bagi seorang Muslim, tentu tidak bijak jika terburu-buru menghujat seruan tersebut, namun juga tidak seharusnya meninggalkan khazanah keilmuan dalam tradisi Islam. Karena pada kenyataannya, baik kapitalisme maupun sosialisme Marx sama-sama lahir dari paradigma Barat sekular yang prinsip pemikirannya bertentangan dengan prinsip ajaran Islam. Adapun pemikiran Marx lebih spesifik bertumpu pada prinsip materialisme-dialektika[7] yang dirumuskan dari pandangan Feurbach tentang hakikat dunia setelah menolak pemahamannya yang mekanistik dan dari dialektika Hegel setelah mengkritik pandangan sejarahnya yang tidak realistis.[8] Materialisme menyatakan bahwa segala sesuatu ditentukan oleh atau hakikatnya adalah realitas material, sedangkan dialektika menyatakan bahwa segala sesuatu selalu mengalami perubahan karena adanya kekuatan-kekuatan yang saling berkontradiksi dalam segala hal. Tanpa diiringi sikap kritis, gagasan ateistik tersebut akhirnya dianggap mampu melahirkan sebuah gerakan yang merubah sejarah kehidupan masyarakat.

Tentunya umat Islam mesti bersikap kritis terhadap konsep atau gagasan yang mengacu pada prinsip ajaran Marxisme tersebut. Jikapun ditemui konsep-konsep dalam Marxisme yang secara sekilas tampak berguna bagi penyelesaian masalah-masalah kemanusiaan, seperti konsep keterasingan, secara mendasar tidak pasti sama dengan konsep atau gagasan yang lahir dari kerangka pemikiran Islam yang berpandukan wahyu Allah Swt. Oleh karena itu, tulisan ini akan mengungkapkan bagaimana kerangka pemikiran Marx mengenai keterasingan manusia. Dengan harapan agar dapat menjadi gambaran mengenai sejauhmana relevansi pemikiran Marx tersebut dengan kerangka pemikiran Islam (Islamic Worldview).

 

  1. Makna Keterasingan

 

Keterasingan atau alienasi berasal dari kata Inggris 'Alienation' dan dari kata Latin 'Alienato' yang berarti membuat sesuatu atau keadaan menjadi terasing.[9] The Cambridge Dictionary of Psychology menjelaskan bahwa dalam psikologi eksistensial istilah alienasi digunakan untuk menggambarkan perasaan seseorang yang terpisah dari pengalaman sehingga pengalaman nampak asing baginya, bahkan seperti pertunjukan drama atau televisi daripada sesuatu yang nyata. Selain itu, dalam psikologi sosial, ‘alienasi’ sering digunakan untuk menggambarkan sebuah keadaan di mana seseorang merasa asing dari dirinya sendiri dan berpaling dari sekitarnya sehingga mendorong orang itu untuk bersikap bermusuhan terhadap orang lain atau masyarakat.[10] Dengan demikan, keterasingan manusia adalah gangguan mental di mana seseorang kehilangan kendali atas dirinya sendiri sehingga berpotensi menimbulkan efek destruktif bagi dirinya maupun bagi sekitarnya.

Analisis Marx mengenai gejala alienasi atau keterasingan diri merujuk kepada hubungan antara sifat dasar manusia dengan aktivitas pekerjaannya di dalam sistem kapitalisme. Marx percaya bahwa terdapat kontradiksi nyata antara sifat dasar manusia dengan cara manusia bekerja yang disebabkan oleh kapitalisme.[11] Bagi Marx, kapitalisme memicu tindakan sewenang-wenang para pemilik modal untuk menindas dan memeras kaum pekerja demi kepentingannya sehingga menyebabkan pekerja teralienasi atau mengalami keterasingan dalam menjalani aktivitas pekerjaannya.[12] Pekerjaan tidak lagi menjadi tujuan pada dirinya sendiri sebagai ungkapan dari kemampuan dan potensi diri, melainkan tereduksi menjadi sarana untuk memperoleh keuntungan pemodal. Dengan kata lain, dalam kapitalisme manusia dialienasi atau diasingkan dari pekerjaan yang merupakan sifat dasarnya sebagai manusia.[13] Oleh karena itu, untuk memahami keterasingan manusia menurut Marx, perlu memahami terlebih dahulu konsepsinya tentang sifat dasar manusia itu sendiri.

 

  • Manusia dalam Pandangan Marx

 

Konsepsi Marx tentang sifat dasar manusia mengacu pada sintesis antara naturalisme dan humanisme. Jika merujuk pada A Dictionary of Marxist Thought, naturalisme merupakan suatu ajaran yang menyatakan bahwa manusia adalah bagian dari alam, yang ia-nya bukanlah ciptaan sesuatu yang transenden, melainkan merupakan produk evolusi biologis yang panjang, yang pada satu titik mengalami perkembangan baru dan spesifik melalui sejarah manusia, yang muncul atas daya kreatif mandiri. Adapun humanisme adalah paham yang mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk praksis atau memiliki kemampuan untuk mentransformasikan alam dan menciptakan sejarahnya sendiri. Manusia memiliki kendali atas kekuatan alam yang dengan kendali tersebut dia dapat menciptakan lingkungan manusiawinya sendiri, mampu mengembangkan kapasitas diri dan mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya, yang kemudian menjadi titik awal untuk pengembangan diri berikutnya.[14]

Marx membedakan antara sifat dasar manusia secara umum yang mangacu pada aspek naturalis atau biologis dan sifat khusus yang mengacu pada aspek humanis atau historis, yakni sifat yang dapat “dimodifikasi pada setiap tahapan-tahapan sejarahnya.”[15] Artinya, dalam pandangan Marx, sifat dasar manusia tidaklah statis, tetapi selalu berubah sesuai perkembangan sejarah kehidupannya. Dalam Capital Marx mengungkapkan pandangannya tentang manusia, sebagai berikut:

 

“…untuk mengetahui apa yang bermanfaat bagi anjing, kita harus mempelajari sifat dasar anjing, tetapi anjing itu sendiri tidak disimpulkan dari prinsip kemanfaatan. Seperti hal nya dengan manusia, orang yang akan mengkritisi semua perilaku, gerakan, hubungan manusia dan sebagainya, dengan prinsip kemanfaatan, pertama-tama harus mempelajari sifat dasar manusia secara umum, dan kemudian mempelajari sifat manusia yang telah modifikasi dalam setiap kurun sejarah…”[16]

 

Sejalan dengan perbedaan antara sifat dasar manusia dan cara sifat tersebut dimodifikasi dalam setiap tahapan sejarahnya, Marx membedakan dua jenis dorongan atau hasrat dalam diri manusia untuk menjalani kehidupannya: Pertama, dorongan atau hasrat diri manusia yang tetap, seperti nafsu makan, seksual atau hasrat terhadap kebutuhan material lainnya, yang merupakan bagian integral dari sifat dasar manusia, yang bentuk dan arahnya dapat berubah sesuai dengan tahapan sejarah kebudayaannya, dan, kedua dorongan relatif, yang bukan merupakan bagian integral dari sifat dasar manusia tetapi ditentukan oleh kondisi ekonomi, khususnya cara-cara produksi kebutuhan materialnya.[17]

Bagi Marx, kesadaran atau hasrat diri manusia tersebut tidak menentukan keadaan produksi material, tetapi keadaan produksi material lah yang menentukan kesadaran dan hasrat manusia.[18] Dalam hal ini, pandangan Marx tidak mengacu pada faktor yang subjektif dan psikologis, melainkan pada faktor ekonomi-sosiologis yang objekif.[19] Keberadaan kondisi-kondisi objektif ini mendahului dan menentukan ruang aktivitas manusia, termasuk cara manusia memproduksi dan membangun relasi-relasi produksi atau organisasi-organisasi sosial untuk mengurusi kepentingannya.[20]

Senada dengan hal tersebut, Marx pernah menjelaskan bahwa cara manusia memproduksi kebutuhan material pada awalnya tergantung pada alat-alat produksi materi yang aktual atau tersedia dan yang mana alat-alat tersebut dapat direproduksi. Cara manusia mereproduksi bukanlah sekedar menghasilkan eksistensi benda-benda fisik semata, tetapi merupakan suatu cara untuk mengekspresikan hidup secara pasti. Sebagai ekspresi kehidupan diri, sehingga dirinya yang utuh tercermin dalam aktivitas reproduksi, baik pada hasil ataupun pada cara mereproduksinya. Namun daripada itu, dalam proses reproduksi kebutuhan tersebut setiap individu manusia ditentukan oleh kondisi-kondisi material.”[21] Dengan demikian, dalam pandangan Marx manusia adalah makhluk yang dikondisikan oleh realitas produksi material.

Namun, seperti yang dikemukakan sebelumnya, Marx juga merupakan seorang humanis yang memandang bahwa manusia adalah pencipta sejarahnya sendiri. Baginya sejarah manusia berbeda dengan sejarah alam. Manusia lahir bukan untuk menciptakan sejarah alam, melainkan untuk mentransformasikan realitas alam dan menciptakan sejarahnya sendiri.[22] Faktor esensial dalam proses penciptaan itu adalah hubungan antara manusia dengan alam, yang mana pada awalnya manusia terikat dan terpilin dengan alam, namun seiring berjalannya waktu, pada akhirnya manusia mampu mentransformasikan realitas alam dan mengembangkan kehidupan dirinya sendiri.[23] Realitas alam menyediakan dirinya sendiri sebagai sarana bagi eksistensi manusia dan sebagai objek material untuk dikelola manusia[24] agar sesuai dengan tujuannya, sekaligus dengan pengelolaan tersebut manusia mentransformasikan hakikat kemanusiaannya sendiri.[25] Sebagaimana dinyatakan oleh Marx dalam Grundrisse sebagai berikut:

 

“Tidak hanya kondisi objektif yang berubah di dalam aktivitas reproduksi… tetapi para produser pun berubah, mereka menghasilkan kualitas-kualitas baru di dalam diri mereka sendiri, mengembangkan diri mereka sendiri di dalam produksi, mentransformasikannya, mengembangkan kekuatan-kekuatan, ide-ide, berbagai bentuk hubungan, kebutuhan-kebutuhan, dan bahasa baru.”[26]

 

Gambaran mengenai manusia tersebut menyoroti aktivitas reproduksi atau pekerjaan manusia. Pekerjaan yang dilakukan dengan penuh kesadaran, bebas, dan universal merupakan sifat dasar manusia yang membedakannya dari aktivitas binatang.[27] Binatang berperilaku hanya atas dorongan naluri dan terbatas sesuai kebutuhannya semata, sedangkan manusia dengan kesadarannya mampu bekerja secara bebas dan universal. Bebas dalam arti bahwa manusia dapat bekerja meskipun tidak dalam kondisi yang terdesak, dan universal dalam arti bahwa manusia mampu melakukan beragam pekerjaan untuk memenuhi satu kebutuhan tetapi juga mampu melakukan satu pekerjaan untuk memenuhi beragam kebutuhan.[28]

Pekerjaan merupakan cerminan dari kebutuhan material manusia, di mana manusia kemudian mentransformasikan kebutuhannya, untuk menciptakan kebutuhan-kebutuhan baru.[29] Sebagai contoh, produksi handphone untuk memenuhi kebutuhan manusia berkomunikasi jarak jauh membawanya pada kebutuhan software dan pemutakhiran perangkat-perangkat lainnya. Ketika pertama kali ditemukan, hanya sedikit orang yang berpikir bahwa mereka benar-benar membutuhkannya, tetapi sekarang kebanyakan orang bahkan rela antri berjam-jam demi mendapatkan handphone canggih terbaru idamannya. Menurut Marx, tranformasi kebutuhan melalui proses kerja atau aktivitas produksi material inilah yang menjadi motor perkembangan sejarah kehidupan manusia.[30]  Berkenaan dengan hal tersebut, Erich From menyatakan sangatlah penting untuk memahami ide mendasar Marx bahwa manusia adalah pencipta sejarahnya sendiri.[31] Dengan demikian, dalam pandangan Marx manusia adalah makhluk yang didahului dan ditentukan oleh keadaan produksi material, tetapi dengan aktivitas produksi materialnya manusia juga adalah pencipta sejarah manusia itu sendiri.

 

  • Keterasingan Manusia Menurut Marx

 

Analisis keterasingan manusia menurut Karl Marx sebagaimana dipopulerkannya dalam Manuskrip Ekonomi dan Filosofisnya tahun 1844, adalah untuk mendeskripsikan hubungan sifat dasar manusia dengan pekerjaan di bawah kendali kapitalisme. Marx percaya bahwa pada dasarnya manusia adalah makhluk kreatif, yaitu melalui pekerjaannya, manusia mampu mentransformasikan kebutuhan material untuk membangun kembali dunia material, dan bersamaan dengan itu, merealisasikan beberapa bagian dari hakikat dirinya ke dalam hal-hal yang dikerjakannya itu atau ke dalam produk dari pekerjaannya.[32] Namun, dalam masyarakat kapitalis, Marx melihat bahwa sistem pembagian kerja dan hak milik pribadi memiliki hak atas alat produksi dalam sistem kapitalisme telah menyelewengkan hubungan sifat dasar manusia dari aktivitas kerjanya sehingga menyebabkan manusia mengalami keterasingan.[33]

Aktivitas kerja yang semestinya membawa kebahagiaan, karena merupakan sarana untuk mengekspresikan esensi kemanusiaan, justru bagi banyak orang tidak lagi demikian, khususnya para pekerja dalam sistem kapitalisme.[34] Sistem produksi kapitalis menciptakan mekanisme ekonomi pasar yang menghendaki kepemilikan pribadi atas seluruh sarana produksi oleh para pemilik modal, mulai dari lahan, alat-alat produksi, harta kekayaan bahkan ketenagakerjaan, sehingga kaum pekerja tidak lagi bekerja atas dasar ide dan kehendak diri melainkan karena dipaksa atau terpaksa untuk memenuhi tuntutan para pemilik modal agar dapat bertahan hidup.[35] Selain itu, pembagian kerja juga menjadikan manusia kehilangan sarana untuk mengungkapkan sifat dasarnya yang merupakan ungkapan keinginan, rencana, dan kehendaknya dalam aktivitas produksi.[36]

Pekerjaan akhirnya membuat manusia mengalami keterasingan diri, yaitu situasi di mana manusia kehilangan kendali atas hidupnya terutama dalam proses bekerja sehingga mengambil sikap bermusuhan dari sekitarnya, merasa asing dari dirinya sendiri dan merasakan hidup tidak berarti, tidak memuaskan, dan tidak sepenuhnya manusiawi.[37] Inilah basis dari fenomena keterasingan diri sebagaimana Marx gambarkan dalam The Economic and Philosophical Manuscripts sebagai berikut:

 

“Apa arti alienasi kerja itu ? Pertama, bahwa kerja menjadi bersifat eksternal bagi pekerja, artinya, bekerja tidak lagi merupakan bagian dari sifat dasarnya; sehingga dia tidak memenuhi dirinya sendiri dalam bekerja, tetapi malah menyangkal dirinya, pekerja lebih menderita daripada menjadi makhluk yang baik, dia tidak mengembangkan daya fisik dan juga mentalnya secara bebas, tetapi justru lelah secara fisik dan mentalnya melemah. Oleh karenanya, pekerja hanya merasa nyaman dengan dirinya ketika berada di luar pekerjaanya, namun ketika dalam pekerjaannya dia justru merasa di luar dirinya… Pekerjaannya tidak dilakukan berdasarkan kerelaannya, melainkan atas keterpaksaan. Bekerja tidak lagi untuk memenuhi kebutuhan dasar, melainkan hanya menjadi alat untuk memenuhi tuntutan pekerjaannya saja… walhasil, sisi eksternal pekerjaan bagi pekerja ditunjukkan oleh fakta bahwa pekerjaan itu bukanlah miliknya sendiri, tetapi milik orang lain, dan ketika bekerja, pekerja tidak menjadi miliknya sendiri, melainkan milik orang lain.”[38]

 

Dari kutipan di atas, terdapat empat sisi keterasingan manusia dalam hubungannya dengan kerja.[39] Keterasingan pekerja dari produk kerja, keterasingan dari aktivitas kerja sendiri, keterasingan dari potensi kemanusiaannya sebagai individu, dan keterasingan dari lingkungannya.[40] Keterasingan pekerja dari produk bermaksud bahwa barang yang dihasilkan menjadi menghadapinya sebagai objek asing atau sebagai kekuatan independen yang melebihi dirinya.[41] Misalnya, buruh tani miskin harus membeli beras dari hasil panen mereka sendiri dengan harga yang melebihi kemampuannya. Terasing dari aktivitas kerja artinya pekerjaaan yang semula bagian dari sifat internal manusia berubah menjadi bersifat eksternal karena tidak melibatkan hasrat batin dan tenaga fisik berdasarkan kerelaan, sehingga bukan kepuasan yang diperoleh, melainkan untuk memenuhi tuntutan kerjanya.[42] Kemudian, keterasingan dari potensi kemanusiaan berarti bahwa pekerja tidak lagi mampu mengenali potensi dirinya secara utuh karena di bawah kendali keterpaksaan. Dan terasing dari lingkungan adalah akibat terbaginya masyarakat menjadi kelas pemilik modal dan kelas para pekerja, di mana masing-masing individu, baik di dalam maupun di antara dua kelas tersebut memiliki kepentingan yang saling bertentangan, sehingga menyebabkan keterasingan satu dengan yang lainnya dan memicu konfrontasi berkelanjutan.[43]

Marx berasumsi bahwa gejala keterasingan yang mengalir sepanjang sejarah mencapai puncaknya dalam masyarakat kapitalis, dan bahwa kelas para pekerja merupakan kelompok yang paling mengalami keterasingan.[44] Konsepsi Marx dewasa tentang manusia yang mengalami keterasingan diungkapkan dalam Capital, dalam apa yang disebutnya sebagai fetisisme komoditas atau pemujaan komoditas. Produksi kapitalis mentransformasikan hubungan antar manusia menjadi hubungan antar komoditas, dan transformasi itu menujukkan watak kepemilikan pribadi menjadikan komoditas dalam sistem produksi kapitalis sebagai pengatur manusia itu sendiri. Seperti halnya agama, yang sebetulnya dikendalikan oleh hasil pikirannya sendiri, akibat produksi kapitalis, di mana manusia diatur oleh hasil produksi tangannya sendiri.[45] Senada dengan hal itu, keterasingan dalam hal agama hanya terjadi dalam pikiran manusia, sedangkan keterasingan dalam hal ekonomi merupakan keterasingan dalam kehidupan nyata.[46]

Berkenaan hal tersebut, kepemilikan pribadi, bukan dalam pengertian sebagai kekayaan material yang dimanfaatkan pribadi, tetapi sebagai modal untuk membayar upah pekerja, juga dapat dipahami sebagai ungkapan kebutuhan material dari manusia yang mengalami keterasingan.[47] Sebagaimana ditulis juga oleh Marx bahwa meskipun kepemilikan pribadi tampak merupakan penyebab keterasingan, kepemilikan pribadi itu sendiri lebih merupakan konsekuensi dari kerja manusia yang mengalami keterasingan, sebagaimana dewa-dewa merupakan konsekuensi dari kebingungan akal manusia.[48] Artinya, apa yang manusia ciptakan baik berupa komoditas, lingkungan sosial maupun sistem politik, pada gilirannya berubah menjadi kekuasaan yang menguasai manusia di luar kendalinya dan menjadi salah satu faktor penting dalam sejarah manusia.[49] Dengan demikian, bagi Marx, keterasingan adalah hasil dari kepemilikan pribadi, dan di sisi lain, kepemilikan pribadi itu sendiri merupakan produk dari manusia yang mengalami keterasingan.

 

 

 

  1. Pembebasan Manusia dari Keterasingan

 

3.1       Landasan Pemikiran

 

Analisis Marx tentang keterasingan manusia berpijak pada prinsip materialisme dialektika. Sebagaimana dinyatakan dalam Critique of Political Economy bahwa perubahan masyarakat pada akhirnya ditentukan oleh faktor-faktor yang tidak bergantung pada kesadaran manusia, yaitu faktor-faktor ekonomi atau kekuatan-kekuatan produksi material. Kekuatan-kekuatan produksi material itu kemudian menentukan relasi-relasi produksi, organisasi, atau institusi sosial untuk selanjutnya menentukan institusi-institusi politik, pendidikan, agama, dan lainnya. Dengan demikian, dalam pandangan Marx perkembangan sejarah masyarakat bersumber dari sistem produksi material yang tidak lain merupakan basis penentu seluruh struktur kehidupan manusia lainnya.[50] Berdasarkan hal ini, tidaklah salah jika dikatakan bahwa pemikiran Marx bersifat deterministik.

Akan tetapi, sebagai penganut paham dialektika, Marx pun tidak dapat diposisikan sebagai seorang deterministik begitu saja. Hal ini karena prinsip dialektika menyatakan bahwa seluruh aspek kehidupan manusia selalu dalam keadaan bertimbal balik. Aspek politik, agama, dan aspek-aspek lainnya tidak hanya menjadi fenomena sampingan yang ditentukan oleh aspek ekonomi saja, karena aspek-aspek lain itu juga mempengaruhi aspek ekonomi.[51] Berdasarkan hal ini, dapat dikatakan bahwa Marx adalah penganut paham dialektika yang perlu ditafsirkan sebagai seorang determinis, yang mana dalam karyanya memang menunjukan sifat deterministik, namun tidak dengan mengabaikan prinsip dialektis dalam teorinya.[52] Artinya, bagi seorang Marxis yang berkomitmen dengan pemikiran Marx mesti berpijak pada prinsip materialisme dan juga berpegang pada prinsip dialektika.

 

 

 

  1. Materialisme-Dialektis

 

Landasan teoritis pemikiran Marxisme adalah filsafat materialisme–dialektika.[53] Dimensi materialisme dalam Marxisme, sebagaimana dalam terminologi filsafat, mengacu pada sebuah ajaran yang menyatakan bahwa segala sesuatu hakikatnya adalah materi, yakni yang berada di luar jangkauan persepsi indera atau kesadaran manusia; mengakui bahwa dunia materi adalah satu-satunya yang hakiki; dan mengakui bahwa materi adalah unsur primer atau basis yang menentukan ide atau kesadaran sebagai unsur sekundernya; Sedangkan dimensi dialektika mengajarkan bahwa realitas alam senantiasa mengalami perubahan, termasuk perubahan yang bersifat revolusioner, karena terdapat unsur-unsur yang saling bertentangan di dalamnya.sehingga menyebabkan perubahan terus terjadi.[54]

Materialisme dialektika merupakan buah dari kajian kritis Marx terhadap pemikiran materialisme Feurbach yang dianggapnya sebagai pemikiran kontemplatif semata dan terhadap pemikiran idealisme Hegel yang dianggapnya tidak realistis. Dalam Tesis Tentang Feuerbach, Marx mengemukakan kritiknya terhadap Feuerbach di antaranya sebagai berikut:

 

“Kelemahan utama materialisme yang ada termasuk materialisme Feuerbach adalah mengenai kebendaan, kenyataan, atau kepancainderaan yang hanya dipahami dalam bentuknya sebagai objek atau suatu renungan, bukan sebagai aktivitas manusia yang inderawi dan praktis, atau bukan secara subjektif. Sebagai kebalikan dari materialisme, sisi aktif suatu objek dikembangkan secara abstrak oleh idealisme, yang tentu saja tidak mampu memahami aktivitas inderawi sebagaimana yang dikatakan tersebut. Feuerbach telah membedakan antara objek inderawi dengan objek berpikir, tetapi dia tidak memahami aktivitas manusia itu sendiri sebagai aktivitas yang objektif.[55]

 

Kritik terhadap Feuerbach tersebut menujukkan bahwa Marx menginginkan sebuah pemikiran mengenai realitas alam yang tidak sebatas perenungan semata, tetapi mampu melahirkan aktivitas manusia di dalam kenyataan. Berkenaan dengan itu, juga dikatakan bahwa para ahli filsafat hanya telah mempersepsi atau menafsirkan dunia, sementara persoalan sebenarnya adalah tentang bagaimana mengubahnya.[56] Adapun kritik Marx terhadap Hegel dalam Capital sebagai berikut:

 

“Metode dialektika saya, bukan hanya berbeda dengan Hegel, melainkan berlawanan dengannya. Bagi Hegel, proses berpikir merupakan suatu subjek yang independen, yaitu “Ide,” merupakan penentu dunia yang hakiki, dan dunia yang hakiki hanyalah sekedar bentuk eksternal dari “Ide.” Bagi saya, sebaliknya, ide bukanlah apa-apa kecuali merupakan cerminan dari dunia materi dalam pikiran manusia, dan diterjemahkan ke dalam bentuk-bentuk pemikiran.”[57]

 

Dalam kutipan di atas Marx menyatakan bahwa pendekatannya adalah pendekatan yang berpijak pada realitas material yang berlawanan dengan pendekatan idealisme Hegel. Marx mengupayakan konsepsi materialis tentang dialektika dalam sejarah manusia secara ilmiah.[58] Penerapan metode materialisme-dialektika sehingga menyentuh kehidupan nyata manusia, khususnya bidang ekonomi dan sosial masyarakat dikenal dengan istilah materialisme-historis.[59] Marx menjelaskan materialisme historis secara umum sebagai berikut:

 

“Di dalam proses produksi sosial yang dilakukannya, manusia memasuki hubungan-hubungan tertentu yang pasti dan tidak bergantung pada keinginan mereka. Hubungan-hubungan produksi ini bergantung pada suatu tahap tertentu dari perkembangan kekuatan-kekuatan produksi material mereka. Keseluruhan hubungan produksi ini membentuk struktur ekonomi masyarakat yang merupakan basis bagi super-struktur hukum, politik, dan spiritual yang berhubungan denganbentuk-bentuk kesadaran sosial tertentu secara jelas…Bukan kesadaran manusia yang menentukan keadaan ekonomi masyarakat, melainkan struktur ekonomi masyarakat yang menentukan kesadarannya… pada tahap tertentu dari perkembangan mereka, kekuatan-kekuatan produksi material di dalam masyarakat berkonflik dengan hubungan-hubungan produksi yang ada… kemudian muncul suatu periode revolusi sosial. Ketika basis ekonomi mengalami perubahan, keseluruhan superstruktur juga mengalami perubahan yang kurang lebih sama.”[60]

 

Dalam kutipan tersebut Marx membagi lingkup kehidupan manusia menjadi dua bagian, yakni “basis” dan “bangunan atas”. Basis adalah kekuatan-kekuatan produksi material atau struktur ekonomi masyarakat, sedangkan super-struktur atau bangunan atas meliputi proses kehidupan sosial, politik, dan spiritual. Bagi Marx,struktur ekonomi masyarakat atau basis itulah yang menentukan kesadaran dan keadaan masyarakat, bukan sebaliknya. Hal ini senada dengan pernyataan Marxdi lain tempat yang menjelaskan bahwa “ide, konsepsi, ataupun kesadaran manusia, pada awalnya terjalin langsung dengan cara produksi material, kemudian terbentuk hubungan-hubungan produksi material atau institusi-institusi antara sesama manusia sebagai sebuah bahasa kehidupan yang nyata. Adapun proses memahami, berpikir, dan hubungan mental dengan manusia lainnya muncul sebagai akibat langsung dari aktivitas produksi materialnya. Hal yang sama juga berlaku pada produksi mental yang diekspresikan dalam bahasa politik, hukum, moralitas, agama dan metafisika suatu masyarakat.[61]

Sebagaimana dikatakan bahwa Marx menghendaki pemikiran yang dinamis dan tindakan nyata. Marx menempatkan paham materialismenya dalam lingkup dialektika yang berangkat dari realitas kehidupan manusia,[62] yakni dengan memperhatikan kesalinghubungan antara manusia dengan struktur ekonomi masyarakat dalam perkembangan sejarahnya.[63] Pada suatu tahapan tertentu, struktur ekonomi bertentangan dengan hubungan-hubungan produksi yang ada. Ketika hal ini terjadi, yakni ketika cara-cara produksi yang dikembangkan tidak dapat sepenuhnya dimanfaatkan oleh institusi yang ada, sehingga tiba saatnya revolusi sosial. Dengan demikian,prinsip materialisme dialektika memiliki dua pola pemikiran, yakni menyatakan bahwa kesadaran atau kehidupan manusia tidak menentukan realitas material atau keadaan ekonomi masyarakat, tetapi sebaliknya, realitas yang menentukan kehidupan manusia. Dan menyatakan bahwa dengan tindakan atau aktivitas produksi materialnya, manusia dapat mengubah keadaan ekonomi masyarakat itu sendiri.[64]

Meskipun dua pola pemikiran tersebut yang dikembangkan Marx, pemikiran Marx pada dasarnya adalah materialisme. Prinsip pemikiran Marx ini tidak berbeda dengan para pemikir materialisme sebelumnya, yakni bertumpu pada keyakinan bahwa kenyataan adalah bersifat materi dan menjadikan hasil observasi inderawi sebagai landasan berpikir.[65] Dengan demikian, pemikiran Marx jelas menafikan keberadaan Tuhan pencipta, keabsahan wahyu sebagai sumber ilmu pengetahuan, dan kebenaran agama karena agama bersandar pada wahyu dari Tuhan. Dalam kritiknya terhadap Hegel, Marx menyatakan bahwa ketergantungan pada agama merupakan ekspresi kegelisahan dan protes terhadap kesulitan hidup, agama adalah desahan makhluk tertindas, jantung dunia yang tak berperasaan, sama seperti semangat kondisi tanpa roh, ia adalah candu manusia.[66] Andaipun Marx mengakui adanya agama atau orang yang menganut kepercayaan kepada Tuhan, agama dan Tuhan yang dibayangkan Marx tersebut bukan lah Tuhan Yang Ada Tertinggi atau transenden, melainkan produk dari realitas material.[67]Artinya, bagi Marx kesadaran tentang Tuhan atau kebenaran agama bukanlah berasal dari dunia di atas sana, melainkan direduksi menjadi sekedar kesadaran yang harus beranjak dari dunia material.

 

  1. Realisme-Empiris

 

Jika materialisme historis atau materialisme dialektika adalah pengakuan terhadap adanya kondisi-kondisi produksi material objektif yang berada di luar kesadaran manusia, maka demi menjaga konsistensi baik secara ontologis maupun epistemologis seorang Marxis sepatutnya mengadopsi cara berpikir realisme.[68] Karena klaim materialisme tersebut senada dengan klaim realisme yang mengakui adanya realitas objektif yang mendahului dan menentukan kesadaran manusia.[69] Artinya, menolak cara berpikir realisme terhadap materialisme, sama artinya dengan menolak objektivitas pemikiran materialisme dialektika itu sendiri.

Adapun mengenai dialektika yang diturunkan dari idealisme Hegel, Lenin telah berupaya menentukan arah yang mesti ditempuh untuk mengelaborasi prinsip dialektika dalam filsafat materialime Marx. Dalam karyanya, Materialisme dan Empirio-Kritisisme, Lenin membagi dialektika atau kesaling-hubungan antara objek-objek yang bertentangan ke dalam dua domain, yakni dalam domain ontologi atau realitas material dan domain epistemologi atau kesadaran manusia.[70] Kemudian dalam karya lainnya, Philosophical Notebooks, Lenin berpendapat bahwa perbedaan dialektika Marxis dengan dialektika Hegelian terletak pada realismenya. Menurut Lenin, kesaling-hubungan objek-objek yang dipostulatkan secara a priori[71] di dalam dialektika idealisme Hegel justru merupakan cerminan dari dialektika material atau kesaling-hubungan objek-objek yang terdapat dalam dunia nyata sehingga mesti ditemukan secara a posteriori[72] melalui metode saintifik[73] atau pengujian secara empiris.[74]

Berdasarkan hal tersebut, Martin Suryajaya berpendapat bahwa dialektika Marx mengandung dua ciri penting yang membedakannya dari dialektika Hegel, yaitu, pembedaan dialektika ke dalam dua domain itu sendiri dan hirarki di antara kedua domain tersebut, yaitu, domain ontologi lebih tinggi daripada domain epistemologi.[75] Dengan mengajukan dua ciri tersebut, nampaknya Martin sedang berupaya menerangkan bahwa materialisme dialektika bukanlah suatu dualisme pemikiran. Alasannya, kendati realitas material ada ‘sebelum’ adanya manusia, namun dengan adanya manusia, realitas material tersebut dapat berubah melalui tindakan manusia. Kemudian dalam situasi realitas material yang adanya ‘setelah’ adanya manusia itu, hirarki yang meliputi kedua domain tersebut pun dapat berubah, tetapi sejauh batas-batas yang ditentukan oleh realitas material tersebut.[76]

Penjelasan konsepsi materialisme-dialektis yang dihubungkan dengan cara berpikir realisme-empiris ini pada akhirnya mempengaruhi sistem ilmu pengetahuan yang dibangun dari prinsip tersebut. Segala sesuatu harus dapat dijelaskan dalam kerangka materi atau objek-objek inderawi sebagai satu-satunya yang objektif dan nyata. Melalui pendekatan tersebut, pada akhirnya membuat segala kejadian dan perubahan-perubahan di dunia yang selama ini belum dapat diungkapkan, mesti dijelaskan melalui bukti-bukti logis empiris.[77] Dengan demikian, basis pemikiran Marxisme terputus dari hal-hal gaib seperti nilai-nilai ketuhanan dan keakhiratan atau terputus dari kebenaran agama serta inkonsisten karena tidak mungkin manusia dapat selalu menemukan kebenaran melalui metode empiris atau pengorganisasian persepsi inderawi.

 

  • Visi Pembebasan

 

Bagi Marx, kapitalisme membagi manusia menjadi kelas para pemilik modal yang menguasai alat-alat produksi dan kelas para pekerja yang hidup dengan menjual tenaga kerjanya kepada para pemilik modal. Keadaan ini menjadi penyebab terjadinya penindasan manusia terhadap manusia lainnya dan bukan suatu kebetulan, melainkan cerminan dari kepentingan penguasaan alat-alat produksi sebagai akibat niscaya dari upaya manusia untuk mempertahankan dan memperbaiki kehidupannya.[78] Artinya, pembebasan manusia dari keterasingan diri hanya dapat dicapai jika sumber penindasan, yakni sistem hak milik pribadi dapat dihapuskan. Keadaan tanpa sistem kepemilikan pribadi inilah yang diharapkan dapat ditemukan dalam masyarakat tanpa kelas dengan sistem kepemilikan bersama atau sosialisme.[79]

Jika meninjau kembali pemikiran Marx, dalam Gothaer Program, ia menyatakan bahwa perubahan atau revolusi sosial pada permulaannya adalah bersifat politis.[80] Pada mulanya terjadi melalui perebutan kekuasaan oleh kaum para pekerja (proletar) untuk kemudian mendirikan “diktator proletariat”. Jika kekuasaan negara berhasil menumpas kelas para kapitalis untuk mencegah mereka menguasai kekayaan dan sarana-sarana secara pribadi dan jika sisa-sisa perbedaan kelas dalam masyarakat telah hilang, maka dengan sendirinya diktator proletariat akan menghilang.[81] Sehingga tercipta masyarakat komunis tanpa hak kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi, kelas-kelas sosial, negara dan pembagian kerja. Sebagaimana dalam German ideology dijelaskan bahwa, “dalam masyarakat komunis masing-masing orang tidak terbatas pada bidang kegiatan ekslusif, melainkan dapat memperoleh kemahiran dalam bidang apapun, masyarakat mengatur produksi umum, sehingga memungkinkan mereka untuk bekerja hari ini, hal itu besok, pagi hari berburu, siang hari memancing ikan, sore hari memelihara ternak, setelah makan mengkritik…”[82]

Namun pada kenyataannya, ide-ide utopis Marx tersebut terbukti gagal. Banyak negara komunis ataupun yang terinspirasi ide-ide Marx sekarang berubah menjadi berorientasi kapitalistis. Selain itu, kaum proletariat atau para pekerja yang ditempatkan Marx sebagai jantung perubahan sosial telah banyak yang memperoleh kemakmuran dan sering termasuk kelompok yang menentang komunisme. Herbert Marcuse, salah seorang pemikir Neo Marxis memandang bahwa ptimalisasi teknologi modern dalam masyarakat kapitalis telah menancapkan kontrolnya secara lebih halus dan kuat, sehingga banyak di antara kalangan para pekerja berubah menjadi kelas baru yang sejahtera.[83]

 

  1. Kritik Pemikiran Marx

 

Seorang Marxis yang berkomitmen dengan pemikiran Marx, tentu akan memperjuangkan kebebasan manusia dari keterasingan dengan berpijak pada prinsip materialisme dialektika secara realis dan berpegang pada metode empiris sebagai satu-satunya neraca kebenaran. Dia akan mengakui bahwa kesadaran tidak menentukan realitas material, atau cara-cara produksi material dalam kegiatan kerja, melainkan sebaliknya, realitas yang menentukan kesadaran. Di dalam realitas itu terjadi kontradiksi yang merupakan proses dialektis objektif yang tidak tergantung pada kesadaran dan menegaskan bahwa metode empiris sebagai satu-satunya neraca penentu kebenaran. Kemudian mengakui bahwa pada tahap tertentu kontradiksi tersebut akan memicu manusia sebagai agen perubahan sejarah untuk mengubah cara-cara produksi material dan pada akhirnya menciptakan masyarakat tanpa kelas manusia yang menguasai sarana produksi secara pribadi, sebagai bentuk penghapusan keterasingan manusia. Tanpa mengafirmasi pendapat-pendapat tersebut sebagai sentral pemikiran Marx tidak akan mungkin dapat membangun dan mempertahankan pemikiran Marx secara murni.

Jika dicermati kerangka berpikir Marx setidaknya mengandung beberapa tiga kelemahan mendasar. Yakni mereduksi alam semesta hanya menjadi realitas material semata, membatasi kebenaran hanya bersandar pada rasio-inderawi saja dan mengandung kontradiksi pemikiran. Kemudian daripada itu, penegasannya yang menganggap metode empiris sebagai satu-satunya neraca kebenaran ilmiah dan penolakannya terhadap logika rasional yang terlepas dari pengetahuan empiris menambah kejelasan bahwa pemikiran Marx mengingkari keberadaan Tuhan yang Ada tertinggi atau transenden, menolak keabsahan wahyu sebagai sumber ilmu pengetahuan, dan menafikan kebenaran agama karena agama bersandar pada wahyu dari Tuhan pencipta seluruh alam.

Pandangan Marx yang menyatakan bahwa keberadaan manusia ditentukan atau dikondisikan oleh realitas material yang berada diluar jangkauan kesadaran, dan pada saat yang sama juga menyatakan bahwa manusia dengan aktivitas produksi materialnya dapat menciptakan sejarah manusia itu sendiri jelas merupakan kekeliruan yang tidak dapat diterima akal sehat. Secara tidak disadari oleh Marx, justru inti dari pernyataan-pernyataan tersebut sebenarnya menyiratkan keharusan adanya pencipta dan yang dicipta. Pandangan Marx yang menolak Tuhan yang transenden, yang tidak terjangkau indera dan pikiran, tetapi menerima bahwa segala sesuatu adalah berasal dari realitas material, sama artinya mengakui bahwa segala sesuatu tercipta oleh sesuatu yang lain, tetapi bukan Tuhan yang gaib, melainkan realitas material. Kemudian dari itu, jika prinsip pemikiran Marx menyatakan bahwa segala sesuatu, termasuk manusia, pada hakikatnya adalah objek inderawi atau realitas material dan jika dikatakan bahwa manusia adalah pencipta sejarahnya sendiri maka dalam pandangan Marx, manusia itu adalah ciptaan sekaligus pencipta dirinya sendiri.

Berkenaan dengan hal tersebut, Ghanim Abduh, dalam Kritik atas sosialisme Marx menjelaskan bahwa segala sesuatu membutuhkan ‘dzat’ yang menciptakannya atau khaliq, sehingga semuanya tadi merupakan makhluk atau ciptaan. Makhluk boleh jadi dicipta oleh dirinya sendiri atau ciptaan yang lain dan tidak ada pilihan lain. Realitas makhluk yang terindera membuktikan bahwa pandangan yang menyatakan manusia dicipta dirinya sendiri jelas batil, karena manusia akan menjadi ciptaan dan pencipta dirinya sendiri secara bersama-sama. Jadi harus dicipta yang lain, di mana yang lain itulah penciptanya. Dengan cara ini, keberadaan pencipta dapat dibuktikan. Artinya, keberadaan sesuatu yang dapat diindera dan dipikirkan itu sebagai ciptaan sang pencipta, dan bahwa penciptanya itu adalah selain diri yang dapat diinderai dan dibayangkan dalam pikiran berhasil dibuktikan keberadaannya.[84]

Lantas berkenaan dengan pengetahuan empiris, Muhammad Baqir Ash-Shadr mengungkapkan bahwa jika neraca kebenaran manusia adalah hasil sistematisasi pengetahuan inderawi semata, maka pengetahuan yang didapat manusia melalui indera harus selalu benar dan mesti dianggap sebagai neraca primer untuk menimbang kebenaran ide-ide dan pengetahuan lainnya. Pada kenyataannya pengalaman inderawi tidak terbebas dari kesalahan dan ungkapan yang menyatakan bahwa “pengetahuan empiris adalah satu-satunya neraca kebenaran ilmiah” bukanlah pernyataan yang empiris.[85] Dengan demikian, pemikiran Marx telah jatuh dari kedudukan ilmiahnya selama ratusan tahun ini.

Adapaun kontradiksi pemikiran Marx lainnya, juga tergambar dalam visi-nya yang mengandaikan adanya masyarakat tanpa kelas sebagai realitas akhir di mana manusia terbebas dari segala bentuk penindasan dan keterasingan. Konsepsi tersebut kontradiktif dengan keyakinan dialektika-nya yang menyatakan bahwa realitas tidak akan berhenti mengalami perubahan karena terdapat pertentangan-pertentangan di dalamnya. Menegaskan akan berakhirnya keadaan suatu masyarakat dalam bentuk masyarakat tanpa kelas sekaligus menafikan akan berhentinya keadaan masyarakat tersebut dari mengalami perubahan sama dengan menegaskan bahwa sesuatu itu “terjadi” sekaligus “tidak terjadi” secara bersamaan. Suatu kontradiksi yang mustahil dapat dibenarkan oleh akal sehat. Dengan demikian, analisis Marx tentang kapitalisme, hubungan sifat dasar manusia dengan pekerjaan dan keterasingan manusia mengacu pada basis dan visi pemikiran yang bersifat reduksionis-ateistik dan mengandung kontradiksi yang tidak dapat diterima oleh akal sehat. Berdasarkan hal tersebut, konsepsi Marx tentang keterasingan manusia tidak dapat dijadikan sebagai sandaran guna memperoleh solusi untuk menyelesaikan permasalahan umat manusia, khususnya permasalahan dalam peradaban umat Islam.

Dalam masalah kepemilikan sarana-sarana produksi misalnya, sebagaimana dijelaskan Muhammad Imarah, bahwa dalam peradaban Islam jalan tengah yang ditawarkan adalah suatu sistem ekonomi yang tegas menjadikan kepemilikan mutlak dan hakiki atas seluruh faktor-faktor produksi hanya kepada Allah Swt dengan menetapkan hak terbatas pada manusia, yaitu hak kepemilikan di mana manusia berperan sebagai pemilik amanat atau titipan yang diistilahkan dengan mustakhlaf. Ia memperoleh amanat berupa tanah dan harta kekayaan lainnya dari Allah Swt untuk dimiliki dan dikembangkan dalam kapasitasnya sebagai penerima amanat. Artinya, sistem kepemilikan dalam sudut pandang Islam bukanlah untuk menerapkan praktik monopoli kekayaan maupun untuk menguasai kelas masyarakat tertentu, melainkan untuk dimanfaatkan bagi kepentingan umat manusia berdasarkan ketentuan-ketentuan Tuhan semesta Alam, yakni Allah Swt.[86] Dengan demikian, sistem pengelolaan faktor-faktor produksi kebutuhan manusia dalam Islam secara mutlak tidak diberikan pada manusia baik sebagai individu ataupun sebagai kelompok masyarakat seperti dalam kerangka berpikir Marxisme secara khusus maupun pemikiran Barat sekular secara umum.

 

  1. Sekilas Tinjauan Pandangan Islam

 

Salah satu perbedaan mendasar di antara posisi kita, umat Islam, dengan filsafat dan sains yang lahir dari rahim Barat modern, adalah berkisar pada pemahaman tentang makna realitas dan kebenaran, dan hubungan keduanya dengan fakta. Pemahaman terhadap apa yang diacu oleh kedua kata ini mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap pemahaman tentang ilmu, nilai-nilai, dan akhirnya terhadap pemahaman tentang hakikat manusia itu sendiri.[87]

Kritik terhadap filsafat dan sains Barat modern salah satunya telah dilontarkan oleh Syed Muhammad Naquib Al-Attas, seorang pemikir Islam kontemporer yang memiliki perhatian khusus terhadap ilmu pengetahuan. Al-Attas mengatakan bahwa tantangan terbesar yang muncul secara diam-diam pada zaman kita sekarang adalah tantangan ilmu pengetahuan.[88] Namun, ilmu yang dimaksudkan dalam hal ini, bukan hanya sebagai lawan dari kebodohan, yang dapat dengan mudah dibetulkan melalui program pendidikan, tetapi juga ilmuyang dipahami dan disebarluaskan ke seluruh dunia oleh pandangan hidup (Western Worldview) peradaban Barat.[89]

Filsafat Barat modern telah menjadi penafsir sains dan mengatur hasil-hasil sains alam dan sosial ke dalam suatu pandangan hidup.Penafsiran ini pada gilirannya dibangun dan diarahkan dalam kerangka epistemologi sekular yang merekaanggap sebagai satu-satunya penafsir pengetahuan yang otentik.[90] Dalam kerangka pandanganini segala sesuatu ditafsirkan sebagai suatu pengembangan dari potensi terpendam dari materi yang abadi, atau alam dipandang sebagairealitas yang tidak bergantung pada apapun, berdiri sendiri, dan berkembang menurut hukumnya sendiri. Artinya, penolakan terhadap realitas dan keberadaan Tuhan terkandung di dalam pandangan ini.[91] Adapun metodenya secara umum adalah menolak sumber ilmu yang bersifat metafisisdan membatasi ilmu hanya berdasarkan pada rasio dan pengalaman inderawi semata.[92]

Pandangan sains tersebut pada akhirnya mereduksi daya dan kemampuan akal pikiran dan indera hanya kepada lingkup realitas lahiriah saja. Ilmu dianggap absah hanya jika terkait dengan tatanan peristiwa-peristiwa alam fisikdan hubungan-hubungan yang terdapat di dalamnya; dan tujuan penelitian hanyalah untuk menggambarkan dan mensistematisasi apa yang terjadi di alam, yaitu seluruh objek-objek dan kejadian-kejadian di dalam ruang dan waktu. Alam semesta diungkapkan dalam istilah-istilah rasional, yang dikosongkan dari makna ruhaniah dan karenanya mereduksi asal-usul realitas semata-mata pada kekuatan-kekuatan alamiah semata.

Pembatasan akal dan pengalaman hanya pada tingkat realitas lahiriah, bagi mereka, mensyaratkan adanya ilmu pengetahuan yang sesuai dengan fakta hasil pengamatan. Gagasan tentang objek-objek, kejadian-kejadian di luar diri manusia, termasuk di dalam manusia itu sendiri, yang meliputi, pikiran, dan diri dibatasi pada metode sains-sains modern, seperti psikologi, biologi, dan antropologi, yang semuannya menganggap manusia hanya sebagai perkembangan lebih lanjut dari spesies binatang semata.

Penafsiran dan pengarahan sains sebagaimana yang disarankan tersebutlah yang harus dinilai secara kritis, karena telah menimbulkan permasalahan pelik yang secara umum terus menerus menghadapi kita, umat Islam, sepanjang sejarah agama dan paradigma intelektual kita. Penilaian kita harus mencakup telaah kritis mengenai metode, konsep, aspek-aspek rasional dan empirisnya yang berhubungan dengan nilai-nilai etika, paradigma, hingga keterbatasan-keterbatasan dan kesalinghubungan antara bidang sains yang satu dengan yang lainnya dan hubungannya dengan masyarakat.

Berkaitan dengan paradigma kelimuan, memang terdapat kesamaan antara paradigma Islam dan paradigma sains modern, yakni penggunaan cara pandang rasional dan empiris untuk mencapai ilmu pengetahuan.[93] Namun kesamaan ini hanya tampak pada aspek lahiriah saja dan tidak sampai menghapuskan perbedaan mendasar yang timbul dari beberapa perbedaan penting, di antaranya adalah mengenai aspek ketuhanan. Hamid Fahmy Zarkasy menjelaskan bahwa dengan adanya aspek ketuhanan dalam pandangan Islam, maka cara pandang terhadap realitas bersifat tawhidi atau integral, artinya tidak dikotomis, tidak memisahkan dua hal yang saling berhubungan seperti objektif-subjektif, historis-normatif, dan sebagainya, sehingga menimbulkan paham-paham ekstrim seperti empirisme-rasionalisme, materialisme-idealisme dan sebagainya.[94]

Artinya, bagi seorang Muslim ketika berperan sebagai subjek yang memandang tiap-tiap objek, seharusnya memandang objek-objek tersebut sesuai dengan prinsip-prinsip ontologi dan epistemologi Islam. Dalam prinsip epistemologi tentang kesatuan subjektif-objektif menurut Islam, misalnya, berangkat dari konsep manusia bahwa jiwa manusia itu bersifat kreatif dan dengan persepsi, inteligensi serta imajinasinya ia dapat berpartisipasi dalam membentuk dan menerjemahkan dunia imajinasinya ke dalam pengalaman inderawi.[95] Tentu dengan maksud untuk melaksanakan tata nilai ilmu dan adab Islami dalam semua kegiatan sains dan teknologi masa kini, agar terbangun secara berangsur-angsur sains dan teknologi yang mewujudkan pandangan Islam ke dalam alam nyata.[96]

Tentunya dalam perjuangan ilmiah ini, bagi seorang Muslim seharusnya senantiasa ingat dan meyakini dengan penuh kesadaran bahwa kebenaran hakikatnya datang dari Allah Swt. Hal ini karena jika tidak demikian, jiwa manusia cenderung akan sibuk dengan sesuatu selain Allah Swt sehingga sulit untuk menerima ilmu tentang-Nya dengan penuh kesadaran dan jauh dari Rahmat-Nya.[97] Dalam konteks zaman sekarang, jika tidak senantiasa ingat dan meyakini bahwa pandangan alam Islam adalah satu-satunya yang dapat mengantarkan diri pada ilmu pengetahuan yang hakiki, maka tradisi-tradisi yang berunsurkan nilai-nilai sekular atau paham-paham ateis, cenderung akan menguasai kesadaran.[98] Sehingga mengacaukan pengertian Islam dan menyelewengkan umat Islam dari kebenaran serta menimbulkan konflik yang tidak perlu di kalangan umat Islam.[99]

Adapun cara untuk mempersiapkan diri agar dapat memahami ilmu dan mampu mengamalkannya adalah dengan mensucikan jiwa dari segala kekotoran dan kekeruhan akibat kesadaran dan tindakan yang tidak sesuai dengan Islam. Semua ini mensyaratkan agar jiwa-jiwa manusia terbebas dari tirai-tirai sekular atau ateisme yang membelenggu akal dan jiwa manusia. Dengan kata lain membutuhkan proses pembebasan manusia yang merujuk pada bagian ruhaninya, karena sebagai seorang manusia, tentu tindakannya akan dirasai bermakna jika dilakukan dengan sadar dan merujuk pada ruhaninya. Proses pembebasan ini juga berarti membebaskan manusia dari jeratan-jeratan hasrat duniawi yang cenderung menarik diri kepada nilai-nilai sekular. Melalui pembebasan dalam pengertian ini, manusia mengarahkan dirinya menuju keadaan asalnya, yaitu sesuai dengan fitrah-nya.[100]

Konsep fitrah tidak sama dengan konsep kebebasan Barat modern, yang sering memahami kebebasan sebagai padanan kata freedom atau liberty, yaitu keadaan di mana manusia bebas dari dan untuk bertindak apapun.[101] Syamsuddin Arif menjelaskan bahwa bagi umat Islam, kebebasan itu mengandung tiga makna.[102] Pertama, identik dengan ‘fitrah’, yakni tabiat dan kodrat asal manusia sebelum dicemari atau dirusak oleh sistem kehidupan di lingkungannya sehingga menjadi ingkar dan angkuh kepada Allah Swt. Manusia bebas dalam Islam adalah manusia yang hidup selaras dengan fitrahnya, karena pada dasarnya ruh setiap manusia itu telah bersaksi bahwa Allah adalah Tuhannya. Sedangkan, orang yang menyalahi fitrah dirinya sebagai hamba Allah sesungguhnya tidak bebas, karena ia hidup dalam penjara nafsu dan jeratan tipuan syetan.

Makna kedua dari kebebasan adalah daya atau kemampuan serta kehendak dan keinginan yang Allah berikan kepada kita untuk memilih jalan hidup masing-masing.Setiap manusia bebas memilih apakah menghendaki patuh atau membangkang kepada-Nya. Adapun makna ketiga kebebasan dalam Islam adalah ‘memilih yang baik’ atau ikhtiyar. Maka orang yang memilih keburukan, kejahatan, dan kekafiran sesungguhnya telah menyalah gunakan kebebasannya, sebab pilihannya bukanlah sesuatu yang baik. Berdasarkan hal ini kita dapat dimengerti bahwa kemanusiaan yang beradab tidak membiarkan manusia bebas untuk membunuh manusia lain, melakukan kekerasan seksual, dan tindakan kriminal lainnya.

Adapun dalam epistemologi Islam, Ulama telah menggariskan bahwa untuk memperoleh ilmu pengetahuan terdapat tiga saluran utama, yaitu pancaindera yang baik, akal yang sehat, dan khabar yang benar.[103] Ketiga saluran ilmu ini saling kuat memperkuat dan saling melengkapi, yang dapat diumpamakan seperti gugusan lidi yang jika berpadu menjadi kuat namun lemah ketika berpisahan. Kitab suci Al-Quran, yang merupakan sumber utama epistemologi Islam mengisyaratkan bahwa seluruh alam semesta dengan apa yang ada padanya adalah seperti ‘Buku’ yang agung dan terbuka untuk dimengerti atau ditafsirkan tanpa keraguan. Kitab suci al-Quran juga menyatakan bahwa manusia yang memiliki kecerdasan, pengertian, kepahaman, ketajaman dan ilmu akan dapat mengetahui makna dari ‘Buku’ itu.[104] Semua saluran ilmu yang dimiliki dan sumber utama adalah perangkat-perangkat untuk dimanfaatkan manusia dalam rangka menggapai kebenaran dan makna realitas yang hakiki.

Dengan spirit ‘wahyu memandu akal’, setiap manusia yang berakal sehat dengan segala kemampuan yang dimiliki dan keterbatasan yang ada padanya, sesungguhnya dapat mengetahui dan mengenal hakikat kebenaran mutlak. Tentunya dengan menjadikan Al Quran dan As Sunnah sebagai pedoman, melalui tuntunan dari para ulama yang terpercaya, mulai dari para Sahabat, tabi’in, tabiut-tabi’in hingga para ulama zaman sekarang yang ikhlas dan taat menjalankan syariat Islam.[105] Jika diri memerlukan penjelasan mengenai kebenaran dari Allah SWT, maka bertanya pada ulama yang mempunyai otoritas dalam ilmunya dan taat menjalankan perintah-Nya adalah cara agar manusia tidak terjerumus dalam kesesatan, mampu kembali pada fitrah-nya dan hidup dengan penuh ketentraman jiwa serta kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.

 

  1. Kesimpulan

 

Konsepsi Marx mengenai masalah alienasi atau keterasingan berpijak pada prinsip materialisme-dialektika. Prinsip materialisme menegaskan bahwa segala sesuatu pada dasarnya adalah materi atau bersifat material yang berada di luar jangkauan persepsi indera atau kesadaran manusia dan mengakui bahwa materi adalah unsur primer atau basis yang mendahului dan menentukan kesadaran manusia. Adapun prinsip dialektika menyatakan bahwa realitas alam atau material senantiasa mengalami perubahan karena adanya pertentangan-pertentangan di dalamnya sehingga mendorong perubahan tersebut terus terjadi. Selain itu, juga menegaskan bahwa metode empiris adalah satu-satunya neraca penentu kebenaran ilmiah. Seorang Marxis yang berkomitmen dengan pemikiran Marx, tentu akan berpegang pada prinsip-prinsip sentral tersebut, karena jika tidak demikian maka akan mustahil mempertahankan bangunan pemikiran Marxisme.

Marxisme mereduksi realitas alam hanya menjadi sebatas realitas inderawi atau material semata, membatasi pengetahuan ilmiah hanya pada metode empiris sebagai neraca kebenarannya sehingga menolak nilai-nilai ketuhanan atau agama serta mengandung kontradiksi. Klaim ilmiah pemikiran Marx telah gugur ketika pada kenyataannya pengalaman inderawi terbukti tidak bebas dari kesalahan dan pernyataan bahwa “sains empiris adalah satu-satunya neraca kebenaran ilmiah” bukan merupakan pernyataan yang dapat dibuktikan secara empiris. Kemudian, penegasan Marx akan berakhirnya keadaan masyarakat dalam bentuk masyarakat tanpa kelas sekaligus menafikan akan berhentinya keadaan masyarakat tersebut dari mengalami perubahan adalah kontradiktif, sama dengan menegaskan bahwa sesuatu itu ada sekaligus tidak ada secara bersamaan. Oleh karena itu, ajaran Marxisme khususnya mengenai masalah keterasingan manusia mengacu pada konsktruksi pemikiran yang bersifat reduksionistik, ateistik, dan mengandung kontradiksi yang tidak dapat dibenarkan oleh akal sehat. Dengan demikian, Marxisme tidak relevan dijadikan sebagai solusi bagi permasalahan kemanusiaan, khususnya permasalahan di dalam umat Islam.

Seorang Muslim mestinya seksama memahami bahwa solusi terbaik masalah keumatan, bukanlah dengan bersandar pada Marxisme mulai dari konsep-konsep sampai ke bentuk-bentuk praktisnya yang terjauh, seperti revolusi misalnya, melainkan dengan memahami dan mengamalkan ajaran Islam secara menyeluruh dan konsisten. Adapun jika didapati beberapa kesamaan antara pandangan Islam dan sains Barat modern dalam penggunaan metode rasional dan empiris, kesamaan tersebut tidak sampai menghapuskan perbedaan di antara keduanya karena timbul dari beberapa perbedaan penting yang mendasar, salah satunya adalah mengenai aspek ketuhanan. Dengan keyakinan dan kesadaran bahwa hakikat kebenaran datang dari Tuhan, Allah Swt, seorang Muslim akan memandang realita secara integral dalam kerangka tauhid, artinya tidak sekular dan tidak pula dikotomis atau tidak terputus dari nilai-nilai ketuhanan dan tidak memisahkan dua hal yang saling berhubungan seperti objektif-subjektif, historis-normatif, dan sebagainya, sehingga menimbulkan paham-paham ekstrim seperti empirisme-rasionalisme, materialisme-idealisme dan sebagainya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Affiat, Rizki. 2017. Yuyun; Alienasi Kemiskinan dan Probabilitas Otak Kakus.Islam Bergerak, Tgl 11 Desember pukul 11.30. www.islambergerak.com.

Al-Attas, S.M.N. 1995. Islam dan Filsafat Sains. Bandung: Mizan.

  1. Prolegonema to The Metaphysics of Islam. Kuala Lumpur: ISTAC.
  2. Islam dan Sekularisme.Terjemahan Khalif Muammar dkk, Bandung: PIMPIN.

Al Ghazali. 2000. Keajaiban-Keajaiban Hati. Diterjemahkan dari kitab syarah ‘Ajaib al Qalb, penerjemah: Muhammad Al-Baqir. Bandung: Karisma.

Arif, Syamsuddin. 2013. Prinsip-prinsip Epistemologi Islam: Filsafat Ilmu Perspektif Barat dan Islam. Editor, Adian Husaini. Depok: Gema Insani.

Ash-Shadr, Muhammad Baqir. 2014. Falsafatuna. Diterjemahkan oleh Smith Alhadar. Bandung: Mizan.

Audi, Robert. 1995. The Cambridge Dictionary of Philosophy, Second Edition. Cambridge: Cambridge University Press.

Balibar, Etienne. 2007. The Philosophy of Marx. Translated by Chris Turner. London-New York: Verso.

Berlin, Isaiah. 2004. Empat Esai Kebebasan, sumber terjemahan: Four Essays on Liberty, Jakarta: LP3ES.

Bottomore, Tom. 1991. A Dictionary of Marxist Thought. Oxford-Massachusetts: Blackwell Publisher.

Bruce, Steve and Steven Yearley. 2006. The Sage Dictionary of Sociology, London: Sage Publications.

Chapra, M. Umer. 1992. Islam and the Economic Challenge. The International Institute of Islamic Thought.

Christ, Oliver, 2015. The Concept of Alienation in The Early Works of Karl Marx. European Scientific Journal March edition vol.11, No 7.

Dagun, M Save, 1992. Pengantar Filsafat Ekonomi. Jakarta: Rineka Cipta.

Engels, Frederick. 1901. Socialism Utopian and Scientific. Penerjemah ke-Bahasa Inggris Edward Aveling. New York: New York Labor Company. Socialits Labor Party: www.slp.org.

Fromm, Erich. 2001. Konsep Manusia Menurut Marx. Penerjemah, Agung Prihantoro. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Gower, Barry. 1997. Scientific Method: An historical and philosophical introduction. London-New York: Routledge.

Hardiman, F. Budi. 2004. Filsafat Modern. Jakarta: Gramedia.

Heywood, Andrew. 2016. Ideologi Politik; Sebuah Pengantar.Penerjemah: Yudi Santoso. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Hume, David. 2007. An Enquiry Concerning Human Understanding and Other Writing. Edited by Stephen Buckle. Cambridge: Cambridge University Press.

Imarah, Muhammad. 1998. Perang Terminologi Islam dan Barat. Jakarta: Rabbani Press.

Kania, Dinar Dewi. 2017. Pemikiran Epistemologi Al-Attas. Jakarta: Insists. Jurnal Islamia: Vol XI, (2), Agustus.

Kurnia, Rika. 2017. Tujuh Terdakwa Pemerkosaan Siswi SMP di Bengkulu divonis 10 Tahun Penjara. BBC, 11 Desember pukul 11.30. www.bbc.com.

Lane, Richard J. 2001. Jean Baudrillard. Taylor & Francis e-Library.

Lenin,V. I. Materialism and Empirio Critisism. Collected Work Vol. 14. Moscow: Progress Publisher.

Lenin,V. I. Philosophical Notebooks. Collected Work Vol. 38. Moscow: Progress Publisher.

Marcuse, Herbert. 2007. One-Dimensional Man. London and New York: Routledge & Kegan Paul.

Marx, Karl. Capital Volume I: A Critique of Political Economy. Translated by Samuel Moore and Edward Aveling. Moscow: Progress Publisher.

  1. The Economic and Philosophical Manuscripts. The online edition is taken from the Gregor Benton translation. Marxists.org.

Critique of the Gotha Programme: Karl Marx Selected Writings. Edited by David McLellan. Oxford: Oxford University.

Marx, Karl and F. Engels. Moscow: Foreign Languages Publishing House. The Holy Family or Critique of Critical Critique.

  1. German Ideology. New York: Prometheus Books.
  2. The Economic and Philosophical Manuscripts. Collected Work Vol 3.Lawrence & Wishart Electric Book.
  3. Contribution to The Critique of Hegel's Philosophy of Law: Collected Work Vol 3. Lawrence & Wishart Electric Book.

Matsumoto, David. 2009. The Cambridge Dictionary of Psychology, Cambridge: Cambridge University Press.

Musto, Marcello, 2008. Karl’s Marx Grundrisse: Foundations of the Critique of Political Economy 150 Years later. London and New York: Routledge Frontiers.

Payne, Michael and Jessica R Barbera. 2010. A Dictionary of Cultural and Critical Theory, West Sussex: Wiley-Blackwell.

Prasetyo, Eko, 2014. Islam Kiri, Jalan Menuju Revolusi Sosial. Yogyakarta: Resist Book.

Ritzer, George dan Douglas J. Goodman, 2003. Teori Sosiologi Modern.Jakarta: Kencana Prenada.

Ritzer, George dan Douglas J. Goodman, 2011. Teori Marxis dan Berbagai Ragam Teori Neo Marxian.Bantul: Kreasi Wacana.

Schmandt, J Henry. 2002. Filsafat Politik. Penerjemah Ahmad Baidlowi dan Imam Baehaqi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Setia, Adi. 2008. Tiga Makna Sains Islam: Menuju Pengoperasionalan Islamisasi Sains. Jurnal Islamia, Vol III No 4.

Shah, Muhammad Iqbal. 2015. Marx’s Concept of Alienation and Its Impacts on Human Life. Lahore: University of the Punjab. Al-Hikmat Volume 35.

Stalin, J, V, 2012. Dialectical and Historical Materialism.English translation reproduced from Marxists.org and Marx2Mao.com. London: CPGB-ML.

Suseno, Franz Magnis, 2005. Pemikiran Karl Marx. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Suryajaya, Martin, 2012. Materialisme Dialektis. Yogyakarta: Resist Book

Ruben, David-Hillel, 1979. Marxism and materialism: A Study in Marxist Theory of Knowledge. Brigthon: The Harvester Press limited.

Runes, Dagobert, D. The Dictionary of Philosophy. Newyork: Philosophical Library.

Taliaferro, Charles and Elsa J. Marty, 2010. A Dictionary of Philosophy of Religion.NewYork-London: e-Continuum International Publishing Group.

Walker, David and Daniel Gray, 2007. Historical Dictionary of Marxis.Scarecrow Press, Inc.

Wan Abdullah, Wan Suhaimi. 2014. Beberapa Wajah dan Faham Dasar Tasawuf Menurut al-Attas. Kuala Lumpur: IKIM.

Wan Daud, Wan Mohd Nor, 2003. Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam S.M.N. Al-Attas.Terjemahan Hamid Fahmy dkk. Bandung: Mizan.

Yusdani. 2015. Pemikiran dan Gerakan Muslim Progresif, Jurnal el-Tarbawi, Volume VIII, no.2.

Zaidi, Mohd Bin Ismail, 2016. Aqal Dalam Islam: Satu Tinjauan Epistemologi. Kuala Lumpur: IKIM.

Zarkasyi, Hamid Fahmy, 2016. Islamic Science: Islamic Worldview Sebagai Paradigma Sains Islam. Jakarta: INSISTS.

[1]Peserta Program Kaderisasi Ulama (PKU) Unida Gontor angkatan XI, utusan Institut Pemikiran Islam dan Pembangunan Insan (PIMPIN) Bandung.

[2]George Ritzer dan Douglas J. Goodman, Teori Marxis dan Berbagai Ragam Teori Neo Marxian.Bantul: Kreasi Wacana, 2011, hlm 36.

[3]Franz Magnis Suseno, Pemikiran Karl Marx. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005. Hlm 9-11.

[4]Eko Prasetyo, Islam Kiri, Jalan Menuju Revolusi Sosial. Yogyakarta: Resist Book, 2014 hlm 23. Lihat juga situs Islam Bergerak yang melansir tulisan yang menyebut bahwa para pelaku pemerkosaan siswi SMP berusia 14 tahun di Bengkulu pada 4 April 2016 yang lalu adalah contoh manusia yang teralienasi atau mengalami keterasingan akibat permasalahan kemiskinan dan menawarkan pendekatan materialis sebagai solusi penyelesaian permasalahan tersebut. Lihat Rizki Affiat, Yuyun;Alienasi Kemiskinan dan Probabilitas Otak Kakus. Islam Bergerak, Tgl 11 Desember 2017 pukul 11.30. www.islambergerak.com.

[5]F. Budi Hardiman, Filsafat Modern; dari Machiavelli sampai Nietzsche, Jakarta: Gramedia, 2004, hlm 240.

[6]Yusdani, Pemikiran dan Gerakan Muslim Progresif, Jurnal el-Tarbawi, Volume VIII, no.2, 2015, hlm 150-155.

[7]Materialisme-dialektika secara umum telah dipandang sebagai filsafat Marxisme.Lihat penjelasan lengkapnya dalam Tom Bottomore, A Dictionary of Marxist Thought.Oxford-Massachusetts: Blackwell Publisher, 1991. Hlm 142-143.

[8]Henry J Schmandt, Filsafat Politik. Penerjemah Ahmad Baidlowi dan Imam Baehaqi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002, hlm 514-516.

[9] Lorens Bagus, Kamus Filsafat, Jakarta: Gramedia, hlm  37.

[10]David Matsumoto, The Cambridge Dictionary of Psychology, Cambridge: Cambridge University Press, hlm 28.

[11]George Ritzer dan Douglas J. Goodman, Teori Marxis dan Berbagai Ragam Teori Neo Marxian.Bantul: Kreasi Wacana, 2011, hlm 27.

[12]Save M Dagun, Pengantar Filsafat Ekonomi. Jakarta: Rineka Cipta, 1992, hlm 218.

[13]George Ritzer dan Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern.Jakarta: Kencana Prenada, 2003, hlm 9.

[14]Tom Bottomore (Ed), A Dictionary of Marxist Thought. Oxford- Massachusetts: Blackwell Publishers Ltd, Second Edition, hlm 244-245.

[15]George Ritzer dan Douglas J. Goodman, op.cit, hlm 30-31.

[16]Karl Marx, Capital Volume I:A Critique of Political Economy.Translated by Samuel Moore and Edward Aveling. Moscow: Progress Publisher, hlm 432.

[17]Karl Marx and F. Engels. Moscow: Foreign Languages Publishing House. The Holy Family or Critique of Critical Critique.hlm 178-179.

[18]Karl Marx, A Contribution to The Critique of Political Economy. Translated from the second German edition by N.I Stone. Chicago: Charles H Kerr & Company, 1904, hlm 11-13.

[19]Erich Fromm, Konsep Manusia Menurut Marx. Penerjemah, Agung Prihantoro. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001, hlm 16-17.

[20]Ibid., Hlm 17.

[21]Karl Marx and Frederick Engels, German Ideology. New York: Prometheus Books, 1998. hlm 41-42.

[22]Karl Marx, Capital Volume I:A Critique of Political Economy.Translated by Samuel Moore and Edward Aveling. Moscow: Progress Publisher. hlm 330.

[23]Erich Fromm, op.cit.hlm 20.

[24]Karl Marx, The Economic and Philosophical Manuscripts. The online edition is taken from the Gregor Benton translation, 1974. Marxists.org. Hlm 114.Lihat juga dalam Erich Fromm, Konsep Manusia Menurut Marx.Penerjemah, Agung Prihantoro. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001. hlm 184.

[25]George Ritzer and Douglas J. Goodman, op.cit.hlm 32-33.

[26]Karl Marx, The Grundrisse: Foundations of the Critique of Political Economy. Dalam Marcello Musto (Ed), Karl’s Marx Grundrisse: Foundations of the Critique of Political Economy 150 Years later.London and New York: Routledge Frontiers, 2008, hlm 97.

[27]Issidor Walliman, Estrangement: Marx's Conception of Human Nature and the Division of Labor. Westport, Connecticut- London, England: Greenwood Press, hlm 3-17.

[28]Franz Magnis Suseno, Pemikiran Karl Marx. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005. Hlm 90-91.

[29]Karl Marx and Frederick Engels, German Ideology. New York: Prometheus Books, 1998, hlm 41-43.

[30]George Ritzer and Douglas J. Goodman, Teori Marxis dan Berbagai Ragam Teori Neo Marxian.Bantul: Kreasi Wacana, 2011, hlm 32.

[31]Erich Fromm, Konsep Manusia Menurut Marx. Penerjemah, Agung Prihantoro. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001, hlm 19-20.

[32]Steve Bruce and Steven Yearley, The Sage Dictionary of Sociology, London: Sage Publications, 2006, hlm 8.

[33]Michael Payne and Jessica R Barbera, A Dictionary of Cultural and Critical Theory, West Sussex: Wiley-Blackwell, 2010, hlm 22-23.

[34]Franz Magnis Suseno, Pemikiran Karl Marx. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005, hlm 95.

[35]Dede Mulyanto, Geneologi Kapitalisme. Yogyakarta: Resist Book, 2012. Hlm 20-21.

[36]Karl Marx, The Economic and Philosophical Manuscripts. Dalam Erich Fromm, Konsep Manusia Menurut Marx. Penerjemah, Agung Prihantoro. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001, hlm 62-63.

[37]David Walker and Daniel Gray, Historical Dictionary of Marxis. Scarecrow Press, Inc, 2007, hlm 9.

[38]Karl Marx, The Economic and Philosophical Manuscripts. Collected Work Vol 3.Lawrence & Wishart Electric Book, hlm 274.

[39]Oliver Christ, The Concept of Alienation in The Early Works of Karl Marx. European Scientific Journal March 2015 edition vol.11, No.7, hlm 555.

[40]Tom Bottomore (Ed), A Dictionary of Marxist Thought. Oxford- Massachusetts: Blackwell Publishers Ltd, Second Edition, hlm 16. Lihat juga dalam  George Ritzer and Douglas J. Goodman, Teori Marxis dan Berbagai Ragam Teori Neo Marxian. Bantul: Kreasi Wacana, 2011, hlm 35-37.

[41]Karl Marx, The Economic and Philosophical Manuscripts. Collected Work Vol 3.Lawrence & Wishart Electric Book, hlm 271-272.

[42]Oliver Christ, The Concept of Alienation in The Early Works of Karl Marx. European Scientific Journal March 2015 edition vol.11, No.7, hlm 555-556.

[43]Muhammad Iqbal Shah, Marx’s Concept of Alienation and Its Impacts on Human Life.Lahore: University of the Punjab. Al-Hikmat Volume 35 (2015), hlm 43-54.

[44]Erich Fromm, Konsep Manusia Menurut Marx. Penerjemah, Agung Prihantoro. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001, hlm 65-66.

[45]Karl Marx, Capital Volume I:A Critique of Political Economy.Translated by Samuel Moore and Edward Aveling. Moscow: Progress Publisher. hlm 47-50.

[46]Karl Marx, The Economic and Philosophical Manuscripts. Dalam Erich Fromm, Konsep Manusia Menurut Marx. Penerjemah, Agung Prihantoro. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001, hlm 169-170.

[47]Karl Marx, The Economic and Philosophical Manuscripts. Collected Work Vol 3.Lawrence & Wishart Electric Book, hlm 297.

[48]Karl Marx, The Economic and Philosophical Manuscripts. Dalam Erich Fromm, Konsep Manusia Menurut Marx. Penerjemah, Agung Prihantoro. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001, hlm 140-141.

[49]Karl Marx and Frederick Engels, German Ideology. Dalam Erich Fromm, Konsep Manusia Menurut Marx. Penerjemah, Agung Prihantoro. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001, hlm 68-69.

[50]Karl Marx, A Contribution to The Critique of Political Economy. Translated from the second German edition by N.I Stone. Chicago: Charles H Kerr & Company, 1904, hlm 11-13.

[51]Franz Magnis Suseno, Pemikiran Karl Marx. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005, hlm 151-153.

[52]George Ritzer and Douglas J. Goodman, Teori Marxis dan Bebrabagai Ragam Teori Neo-Marxian, hlm 90.

[53]Dagobert D. Runes, The Dictionary of Philosophy. Newyork: Philosophical Library, hlm 79-80.

[54]David Walker Daniel Gray, Historical Dictionary of Marxism.The Scarecrow Press, Inc. Lanham, Maryland, Toronto, Plymouth, 2007, hlm 86-87.

[55]Karl Marx and Frederick Engels, German Ideology. New York: Prometheus Books, 1998, hlm 573-574.

[56]Etienne Balibar,The Philosophy of Marx. Translated by Chris Turner. London-New York: Verso, 2007, hlm 16.

[57]Karl Marx, Capital Volume I:Afterword to the Second German Edition of Volume I.

.Translated by Samuel Moore and Edward Aveling. Moscow: Progress Publisher, hlm 14.

[58]Andrew Heywood, Ideologi Politik; Sebuah Pengantar.Penerjemah: Yudi Santoso. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2016, hlm 199.

[59]J. V. Stalin, Dialectical and Historical Materialism.English translation reproduced from Marxists.org and Marx2Mao.com. London: CPGB-ML, 2012, hlm 5.

[60] Karl Marx, A Contribution to The Critique of Political Economy. Translated from the second German edition by N.I Stone. Chicago: Charles H Kerr & Company, 1904, hlm 11-13.

[61]Karl Marx and F. Engels. The German Ideology.New York: Prometheus Books, 1998, hlm 41-42.

[62]Ibid

[63]George Ritzer and Douglas J. Goodman, Teori Marxis dan Berbagai Ragam Teori Neo Marxian.Bantul: Kreasi Wacana, 2011, hlm 89-90.

[64]M. Umer Chapra, Islam and the Economic Challenge. The International Institute of Islamic Thought, 1992.hlm 73-74.

[65]Budi Hardiman, Filsafat Modern. Jakarta: Gramedia, 2004. hlm 236

[66]Karl Marx and Engels, Contribution to The Critique of Hegel's Philosophy of Law: Collected Work Vol 3. Lawrence & Wishart Electric Book, 2010, hlm 175.

[67] Ibid.

[68] David-Hillel Ruben, Marxism and materialism: A Study in Marxist Theory of Knowledge. Brigthon: The Harvester Press limited, 1979, hlm 64.

[69] Robert Audi, The Cambridge Dictionary of Philosophy, Second Edition. Cambridge: Cambridge University Press, 1995. 562.

[70]V.I Lenin, Materialism and Empirio Critisism. Collected Work Vol. 14. Moscow: Progress Publisher, hlm 172.

[71]Berasal dari kata Latin, "dari sebelumnya."Maksudnya adalah proposisi atau pernyataan yang diketahui kebenarannya tanpa menggunakan pengamatan empiris atau pengalaman. Misalnya, orang-orang akan mengetahui secara apriori bahwa ‘lingkaran berbentuk persegi’ itu tidak ada. Lihat Charles Taliaferro and Elsa J. Marty (ed). A Dictionary of Philosophy of Religion.NewYork-London: e-Continuum International Publishing Group, 2010, hlm 1.

[72]Berasal dari kata Latin, "dari kemudian."Maksudnya adalah pengetahuan yang berasal dari pengalaman atau pengamatan sehingga tidak dapat diketahui sebelumnya hanya dengan melalui analisis konseptual.Seseorang dapat mengetahui secara a posteriori, misalnya, bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945. Ibid.,

[73]Menurut para eksperimentalis metode saintifik secara alami terkait dengan pengamatan empiris untuk memperoleh pengetahuan ilmiah. Hal itu juga terkait dengan gagasan filosofis yang meyakini proposisi yang menyatakan bahwa pengetahuan ilmiah merupakan representasi dunia nyata karena cara manusia mengetahui dan membenarkan proposisi ini tidak lain adalah berasal dari pengalaman langsung dalam dunia nyata. Lihat dalam Barry Gower, Scientific Method: An historical and philosophical introduction. London-New York: Routledge, 1997, hlm132.

[74]V.I Lenin, Philosophical Notebooks. Collected Work Vol. 38. Moscow: Progress Publisher, hlm 197.

[75]Martin Suryajaya, Materialisme Dialektis. Sleman: Resist Book, 2012, hlm 67-68.

[76]Ibid., hlm 68-69.

[77]Listiyono Santoso, Epistemologi Kiri, Yogyakarta: Ar-Ruz Media, 2015, hlm 45-49.

[78]Franz Magnis Suseno, Dari Mao ke Marcuse. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2013, hlm 135-140.

[79]George Ritzer and Douglas J. Goodman, Teori Marxis dan Bebrabagai Ragam Teori Neo-Marxian, hlm 23.

[80]Karl Marx, Critique of the Gotha Programme: Karl Marx Selected Writings. Edited by David McLellan. Oxford: Oxford University, hlm 610.

[81] Ibid.

[82]Karl Marx and Engels, The German Ideology: Collected Work Vol 3. Lawrence & Wishart Electric Book, 2010,hlm 47.

[83]Herbert Marcuse, One-Dimensional Man. London and New York: Routledge & Kegan Paul, 2007, hlm 10. Herbert Marcuse, salah seorang pemikir dari mazhab Frankfurt, mengumpakan hal ini layaknya masyarakat tanpa kelas.

[84]Ghanim Abduh, Kritik atas Sosialisme Marxisme, Bangil: Al-Izzah, 2003, hlm 13-14.

[85]Muhammad Baqir Ash-Shadr, Falsafatuna. Diterjemahkan oleh Smith Alhadar. Bandung: Mizan, 2014, hlm 225-226. Muhammad Baqir juga menjelaskan: tampak bahwa Marxisme mengakui dua tahap pengetahuan manusia. Marxisme mengakui bahwa pengetahuan inderawi dalam bentuknya yang jelas dan di luar batas-batas pengetahuan yang sederhana akan membentuk pemahaman rasional yang merefleksikan ke dalam realitas empiris secara presisi. Namun, penolakannya terhadap pemahaman rasional yang independen dari pengalaman indera, menjadikan pemikirannya kontradiktif. Pikiran yang tidak memiliki suatu pengetahuan tertentu yang independen dari indera tidak akan dapat mendalilkan suatu teori berdasarkan persepsi indera. Tahap pertama pengetahuan yang sederhana tidak cukup untuk membentuk suatu teori yang dapat menggerakkan manusia, baik secara alami maupun secara dialektis, ke tahap pengetahuan rasional yang lebih tinggi.

Hal yang memungkinkan manusia bergerak dari pengetahuan sederhana ke tahap kedua adalah pengetahuan rasional yang independen dari pengalaman indera. Pengetahuan rasional seperti itulah yang memungkinkan manusia dapat menyajikan sejumlah teori dan pengertian, serta memperhatikan sejauh mana keselarasan fenomena-fenomena yang direfleksikan dalam pengalaman-pengalaman dan sensasi-sensasi di satu sisi dan teori-teori serta pengertian-pengertian ini di sisi lain. Akhirnya dapat ditegaskan bahwa pengguguran semua pengetahuan yang terlepas dari pengalaman dan menolak pengetahuan rasional pada umumnya membuat mustahil untuk beranjak melebihi tahap pertama pengetahuan, yaitu tahap persepsi indera dan pengalaman.

[86]Muhammad Imarah, Perang Terminologi Islam dan Barat. Jakarta: Rabbani Press, 1998, hlm 13-15.

[87]Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Islam dan Filsafat Sains. Bandung: Mizan, 1995. Hlm 47.

[88]Al-Attas, Islam dan Sekularisme.Terjemahan Khalif Muammar dkk, Bandung: PIMPIN. 2010. Hlm. 169.

[89]Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam S.M.N. Al-Attas. Terjemahan Hamid Fahmy dkk. Bandung: Mizan. 2003, hlm, 115.

[90]Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Prolegonemato The Metaphysics of Islam. Kuala Lumpur: ISTAC, 1995. hlm 114-115.

[91]Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Islam dan Filsafat Sains. Bandung: Mizan, 1995. Hlm 25-28.

[92]Dinar Dewi Kania, Pemikiran Epistemologi Al-Attas. Jakarta: Insists. Jurnal Islamia: Vol XI, (2), Agustus 2017. hlm 16.

[93]Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Islam dan Filsafat Sains. Bandung: Mizan, 1995, hlm 33.

[94]Hamid Fahmy Zarkasyi, Islamic Science: Islamic Worldview Sebagai Paradigma Sains Islam. Jakarta: INSISTS, 2016, hlm 21-22.

[95]Ibid.,

[96]Adi Setia, Tiga Makna Sains Islam: Menuju Pengoperasionalan Islamisasi Sains. Jurnal Islamia, Vol III No 4. Thn, 2008, hlm 47.

[97]Al Ghazali, Keajaiban-Keajaiban Hati. Diterjemahkan dari kitab syarah ‘Ajaib al Qalb, penerjemah: Muhammad Al-Baqir. Bandung: Karisma, 2000, hlm 46.

[98]Al-Attas, Islam dan Sekularisme.Terjemahan Khalif Muammar dkk, Bandung: PIMPIN. 2010. Hlm. 56-57.

[99]Ibid.,

[100]Ibid.,

[101]Isaiah Berlin, Empat Esai Kebebasan, sumber terjemahan: Four Essays on Liberty, Jakarta: LP3ES, 2004, hlm 231-249.

[102]Syamsuddin Arif, Islam dan Diabolisme Intelektual, Jakarta: Insists, 2017. hlm 167-170.

[103]Mohd Zaidi Bin Ismail, Aqal Dalam Islam: Satu Tinjauan Epistemologi. Kuala Lumpur: IKIM, 2016. Hlm 6-7.

[104]Wan Suhaimi Wan Abdullah, Beberapa Wajah dan Faham Dasar Tasawuf Menurut al-Attas…. Hlm 222-224.

[105]Syamsuddin Arif, Prinsip-prinsip Epistemologi Islam: Filsafat Ilmu Perspektif Barat dan Islam. Editor Adian Husaini, hlm 111-113.

No Response

Leave a reply "Keterasingan Manusia Menurut Karl Marx: Suatu Tinjauan Kritis"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.