Tantangan Sofisme Kontemporer

No comment 559 views

Oleh: Derajat Fitra

Pegiat PIMPIN, peserta PKU UNIDA Gontor

 

Iklim demokrasi kita saat ini tengah berada dalam situasi yang mirip dengan saat merebaknya gejala sofisme yang muncul di masa Yunani pada abad ke-5 atau 6 SM, di mana masyarakat Athena sedang menikmati demokrasi setelah berhasil bebas dari tirani Imperium Persia. Setiap orang berani berbicara mengenai apapun layaknya seorang pakar sehingga banyak di antara kita terkadang bingung menentukan cara menyikapinya, karena apa-apa yang dibicarakan itu seolah-olah itulah kebenaran. Karenanya masyarakat kehilangan otoritas keilmuan sehingga kehilangan pegangan; Para intelektual tidak lagi berpihak kepada kebenaran tetapi kepada pemilik kekuasaan; Kebenaran direlatifkan dan para ulama dan intelektual yang menyuarakan kebenaran dipinggirkan. Hal ini mirip dengan watak kaum sofis yang selalu meragukan dan mempersoalkan kriteria kebenaran.

Istilah sofisme berasal dari kata “sophos” yang bermakna kaum cerdik pandai. Pada awalnya istilah ini ditujukan kepada kaum cerdik pandai seperti ahli bahasa, para filsuf dan lain-lain tetapi kemudian istilah ini bernuansa negatif ketika ramai para intelektual menggunakannya kecerdasannya bukan untuk mencari dan mempertahankan kebenaran dan nilai luhur, tetapi untuk mencari sesuap nasi dengan memutar lidah mereka untuk membela penguasa.[1] Sofisme adalah suatu pahaman kaum sofis yang menguasai seni beragumentasi meyakinkan orang lain bahwa pendapat nyalah yang paling benar. Para sofis adalah semacam kaum profesional yang bergaji tinggi karena menjajakan kepintaran mereka dengan harga mahal untuk membantu orang-orang supaya menang beradu argumentasi di tempat-tempat terbuka. Meski demikian, intelektualitas dan moralitas mereka diragukan, karena sikap kesewenang-wenangan mereka yang selalu meragukan dan mempersoalkan kriteria kebenaran membawa masyarakat pada relativisme moral dan kebenaran sehingga lambat laun berujung pada hancurnya masyarakat kota Athena. Plato menjuluki kaum Sofis sebagai pemikir-pemikir yang amoral, yang tidak lagi mementingkan baik dan buruk, yang  terpenting bagi mereka adalah memenangkan argumen. Bagi mereka hukum adalah kesepatan, bukan ciptaan para dewa bukan pula semacam kesucian, tapi betul-betul kesepakatan, apa yang benar, baik dan adil adalah apa yang dipercaya oleh komunitas. Hukum manusia adalah cerminan situasi alamiah, tidak ada landasan kodratiah untuk realita dan kebenaran.[2]

Berkaitan dengan pandangan mereka terhadap realita dan kebenaran, kaum sofis dibagi menjadi tiga kelompok utama. Pertama, kelompok Al-la adriyyah atau agnostik, yakni kelompok yang selalu mengatakan saya tidak tahu atau ragu-ragu mengenai keberadaan segala sesuatu. Kedua, kelompok al-indiyyah, yang selalu bersikap subyektif, kelompok ini menerima posibilitas ilmu tetapi menolak objektivitas ilmu pengetahuan dan kebenaran. Dan ketiga, kelompok al inadiyyah, yaitu mereka yang keras kepala, yang menafikan realitas segala sesuatu dan menganggapnya sebagai khayalan semata.[3] Tokoh-tokoh seperti Protagoras (490-420 SM), dan Georgias (sekitar 483 SM) adalah tokoh-tokoh sofis yang terkemuka ketika itu. Keduanya memiliki perbedaan cara pandang, Protagoras menilai bahwa ukuran kebenaran adalah relatif atau tergantung individu manusianya. Relativisme seperti ini dalam ranah agama akan mengarah pada agnotisisme. Adapun  Gorgias beranggapan bahwa kebenaran segala sesuatu itu tidak ada. Kalau pun ada, ia tidak dapat ditangkap pikiran, kalau pun dapat ditangkap, maka ia tak akan dapat dikomunikasikan pada orang lain.[4] Tentu, pada era Gorgias belum ada eksploatasi gambar atau film lewat media semasif era kita, namun gaya Sofisme mereka mirip dengan gaya beberapa orang dari kaum intelektual yang muncul saat ini. Dalam ranah pemikiran misalnya, kita dapati gaya-gaya Sofis kontemporer ada pada tokoh-tokoh pemikir postmodern yang meragukan dan mempersoalkan kebenaran.[5] Dalam keseharian, dapat kita saksikan gejala-gejala sofisme tampak misalnya di televisi atau media lainnya, sejumlah pakar hukum atau bidang lainnya dengan mudah memelintir kata untuk kepentingan pribadi ataupun kelompoknya.

Fenomena sofisme yang menggejala kembali ini menandakan adanya persoalan ilmu yang sangat mendasar. Persoalan ilmu tersebut secara cermat telah disoroti oleh seorang pemikir besar Muslim abad ini, Syed Muhammad Naquib Al-Attas. Beliau memfokuskan pada segi-segi peradaban Barat yang menjadi sumber permasalahan itu. Watak peradaban Barat diidentifikasi dengan baik oleh al-Attas ke dalam lima karakteristik yang saling berhubungan, sebagai berikut[6]:

  1. Mengandalkan kekuatan akal rasional[7] untuk membimbing manusia dalam kehidupan.
  2. Mengikuti kepercayaan atau pandangan dualisme[8] tentang realitas dan kebenaran.
  3. Membenarkan sisi fana kehidupan sebagai realitas yang menjadi proyeksi pandangan hidup sekuler.
  4. Menerima doktrin humanisme. [9]
  5. Memandang drama dan tragedi sebagai realitas universal kehidupan spiritual, atau transendental, atau kehidupan batin manusia, sehingga drama dan tragedy menjadi unsure nyata bahkan sangat berpengaruh dalam hakikat dan eksistensi. [10]

Kelima elemen perdaban Barat tersebut tidak hanya akan berdampak pada timbulnya masalah kultural di dunia Islam, tapi juga kekeliruan dalam konsep ilmu pengetahuan. Sehingga dikatakan bahwa ilmu pengetahuan yang dipahami dan disebarkan oleh peradaban Barat telah disusupi oleh unsur-unsur pandangan hidup Barat (Western Worldview) di mana seringkali pendapat dan spekulasi yang merefleksikan unsur-unsur kepribadian, agama, dan kebudayaan dianggap sebagai ilmupengetahuan. Dengan kata lain, ilmu pengetahuan itu tidaklah bebas nilai (neutral) karena ia adalah sifat manusia. Sedangkan segala sesuatu yang berada di luar pikiran manusia bukanlah ilmu pengetahuan, melainkan fakta dan informasi yang kesemuanya adalah objek ilmu pengetahuan[11].

Dalam Islam, segala kebenaran atau ilmu pengetahuan datangnya dari Allāh SWT. Menjelaskan hal ini Syed Muhammad Naquib al-Attas menegaskan bahwa oleh karena segala pengetahuan itu datangnya dari Allāh SWT dania ditafsirkan oleh jiwa dengan perantaraan daya dan kerohanian dan indera jasmaninya, maka ini dengan sendirinya bermaksud bahwa pengetahuan itu apabila merujuk kepada Allāh SWT selaku sumbernya, adalah “ketibaan makna sesuatu perkara atau sesuatu objek pengetahuan dalam diri” (ḥusūl maʿna all-shayʿ fi’l-nafs) dan apabila merujuk kepada jiwa selaku penafsirnya, pengetahuan itu adalah “kesampaian jiwa pada makna sesuatu perkara atau suatu objek pengetahuan” (wuṣūl al-nafs ilā maʿnā al-shay).

Dalam epistemologi Islam, bukan saja hakikat kebenaran yang diakui tetapi juga kemampuan manusia untuk memperolehnya juga turut diakui. Digariskan bahwa tiga saluran utama manusia untuk memperoleh ilmu adalah pancaindera yang baik, akal sehat, dan khabar yang benar.[12] Kitab suci Al-Quran sebagai sumber utama epistemologi Islam menyatakan bahwa seluruh alam semesta dengan apa yang ada padanya adalah seperti ‘Buku’ yang agung dan terbuka untuk dimengerti atau ditafsirkan. Kitab suci al-Quran juga mengatakan bahwa manusia yang memiliki kecerdasan, pengertian, kepahaman, ketajaman dan ilmu akan dapat mengetahui makna dari ‘Buku’ itu. [13] Semua saluran ilmu yang dimiliki dan sumber-sumber ilmu adalah perangkat-perangkat untuk dimanfaatkan manusia dalam rangka menggapai kesadaran, kebenaran dan keyakinan yang hakiki.

Hal ini jelas berbeda dengan kaum Sofis dengan berbagai bentuknya hari ini, yang selalu meragukan kebenaran dan membenarkan keraguan. Dengan berpandukan Al-Qurʾān dan As-Sunnah melalui tuntunan dari para ulama yang terpercaya, mulai dari para Sahabat, tabi’in, tabiut-tabi’in hingga para ulama saat ini yang ikhlas dan taat, setiap manusia yang berakal sehat dengan segala kemampuan yang dimiliki dan keterbatasan yang ada padanya, sesungguhnya dapat mengetahui dan mengenal hakikat kebenaran. [14] Dengan demikian, posisi dan peran ulama di era kontemporer seperti saat ini dan hingga akhir zaman mutlak dibutuhkan. Bila ada keperluan penjelasan mengenai kebenaran dari Allāh SWT, maka bertanyalah pada ulama yang mempunyai otoritas dalam ilmunya, aggar manusia tidak terjebak dalam kebingungan dan kesesatan. (ed. umi)

[1] Mohammad Hatta, Alam Pikiran Yunani (Jakarta: UI Press- Penerbit Tintamas, 1986, repr. 2006), 53.

[2] Ibid., 54-5.

[3] Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam S.M.N. Al-Attas. Terjemahan Hamid Fahmy dkk. Bandung: Mizan. 2003. Hlm. 127.

[4] William Turner, History of Philosophy. Boston-London: Ginn & Company Publisher, 1903. Hlm 72-73.

[5]  Stephen R.C Hicks, Explaining Postmodernism. Ockham’s Razor Publishing. Hlm 1-5.

[6] Al-Attas, Islam dan Sekularisme. Terjemahan Khalif Muammar dkk, Bandung: PIMPIN. 2010. Hlm. 170-176.

[7] Lihat Adnin Armas dan Dinar Dewi Kania dalam Sekularisasi Ilmu; Filsafat Ilmu Perspektif Barat dan Islam. Jakarta: Gema Insani. 2013. hal. 27-48; Proses sekularisasi ilmu ini dimulai ketika seorang filsuf Barat Rene Descartes (m 1650), memformulasikan sebuah prinsip, aku berpikir maka aku ada (cogito ergo sum). Dengan prinsip ini, Descartes telah menjadikan rasio satu-satunya criteria untuk mengukur kebenaran. Penekanan terhadap rasio dan pancaindera sebagai sumber ilmu juga dilakukan oleh para filsuf lain seperti Thomas Hobbes (m. 1979), Benedict Spinoza (m 1.677), John Locke (m. 1704), George Berkeley (m. 1753), Francois-Marie Voltaire (m. 1778), Jean-Jacques Rousseau (m.1778), David Hume (m. 1776), Immanuel Kant (m. 1804), Georg Friedrick Hegel (m. 1831), Arthur Schopenhauer (m. 1860), Edmund Husserl (m. 1938), Henri Bergson (m. 1941), Alfred North Whitehead (m. 1947), Betrand Russell (m. 1941), martin Heidegger (m. 1976), Hans-Georg Gadamer, Jurgen Habermas, dan lain-lain.

[8] Al-Attas. Risalah untuk Kaum Muslim. Kuala Lumpur: ISTAC. 2001. hal. 20-21: Paham dualisme ini mengikrarkan adanya dua hakikat dan kebenaran yang bertentangan dan yang mutlak. Sejak timbulnya falsafah Yunani Kuno, sifat penting Kebudayaan Barat telah nyata kelihatan, di mana pembedaan serta pengisbatan mutlak telah dijelaskan antara yang ruhani dan jasmani; kebendaan dan bukan kebendaan; Tuhan dan Insan; Ilmu dan Tanzil; agama dan Negara; hukum atau undang-undang dan akhlak. Penduaan ini wujud dalam segala segi hidup kebudayaan Barat termasuk penilaian kebenaran, inilah yang dimaksudkan dengan pandangan syirik berbanding tauhid. Kebudayaan Barat yang beasaskan filsafat bukan agama dan menjelmakan sifatnya sebagai humanisme, mengikrarkan paham dualisme yang mutlak dan bukan suatu kesatuan sebagai nilai serta kebenaran hakikat semesta.

[9] Ibid. Humanisme adalah falsafah hidup yang muncul akibat pergolakan nilai-nilai abad pertengahan di Eropa, yaitu suatu paham pandangan hidup sekular. Paham ini mementingkan hanya dasar keistimewaan kemanusiaan dan keduniawian serta kebendaan, dan tiada meletakkan agama dan ajaran-ajaran serta kepercayaan Ketuhanan sebagai yang utama dan penting selain daripada menjadi alat bagi kesejahteraan manusia dan ketentraman masyarakat demi mencapai kemaslahatan Negara.

[10] Ibid. Sejak Yunani Kuno tragedi dianggap sebagai satu unsur penting kehidupan manusia; bahwa manusia ini adalah pelaku dalam drama kehidupan. Paham tragedy ini disebabkan oleh kehampaan kalbu akan nikmat iman. Kefahaman ini adalah akibat dari paham dualisme sehingga menimbulkan syak dan ketegangan jiwa. Keadaan jiwa yang tegang inilah yang menganjurkan orang Barat, yang mensifatkan kebudayaannya, terus mencari jawaban bagi soal-soal abadi, untuk giat berusaha menyelidiki dan mengkaji teori-teori baru, mengemukakan masalah-masalah asal-usul alam dan manusia dan lain-lain renungan yang dianggapnya sebagai ilmu pengetahuan. Terus mencari tiada henti. Sehingga mereka tiada ingin berhenti mangakhirkan pengembaraan justru sebab sekurang-kurangnya meringankan beban kekosongan jiwa dan kesunyian kalbu. Dan inilah sifat sesuatu yang mengikrarkan kefanaan dan membatalkan kebakaan – melainkan kefanaan itulah jua yang baka.

[11] Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam S.M.N. Al-Attas. Terjemahan Hamid Fahmy dkk. Bandung: Mizan. 2003. hal. 115.

[12] Mohd Zaidi Bin Ismail, Aqal Dalam Islam: Satu Tinjauan Epistemologi. Kuala Lumpur: IKIM, 2016. Hlm 6-7.

[13] Wan Suhaimi Wan Abdullah, Beberapa Wajah dan Faham Dasar Tasawuf Menurut al-Attas…. Hlm 222-224.

[14] Syamsuddin Arif, Prinsip-prinsip Epistemologi Islam: Filsafat Ilmu Perspektif Barat dan Islam. Editor Adian Husaini… hlm 111-113.

author
No Response

Leave a reply "Tantangan Sofisme Kontemporer"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.