Filsafat Sains Ibn Haytsam

No comment 838 views

Oleh: Dr. Usep Muhammad Ishaq

(Peneliti INSISTS)

Pada Selasa, 5 September 2017, Alhamdulillah, saya berhasil mempertahankan disertasi yang berjudul: IBN AL-HAYTSAM DAN FALSAFAH SAINSNYA DENGAN RUJUKAN KHAS KEPADA KITĀB TSAMARAH AL-ḤIKMAH. Disertasi itu saya pertahankan di Center for Advanced Studies on Islam, Science, and Civilisation – Universiti Teknologi Malaysia (CASIS-UTM), di bawah bimbingan ilmuwan terkemuka, Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud.

Kajian tentang Ibn Haytsam ini melengkapi studi S-1 dan S-2 saya tentang Ilmu Fisika di ITB Bandung. Kajian tentang Filsafat Sains Ibnu Haytsam ini penting,  karena Ibn al-Haytsam sangat dihormati bukan saja di dunia Islam tetapi juga di dunia Barat. Ia  dianggap oleh beberapa kalangan sebagai perintis metoda saintifik yang digunakan di era modern oleh seluruh kalangan saintis di dunia.

Ketokohan Ibn al-Haytsam di dunia optik diakui UNESCO dan beberapa lembaga ilmiah lain seperti International Centre of Theoretical Physics (ICTP), American Institute of Physics (AIP), American Physical Society (APS),  IEEE Photonics Society (IPS), Institute of Physics (IOP). Lembaga-lembaga keilmuan internasional itu menempatkannya sebagai tokoh penting bersama ilmuwan-ilmuwan dunia seperti Augustin-Jean Fresnel (1788-1827), James Clerk Maxwell (1831-1879), Albert Einstein (1879-1955) dalam International Society for Optics and Photonics (SPIE), dan The Optical Society (OSA) pada International Years of Light (IYL) 2015 lalu. 

Namun demikian, sebagian kalangan menganggap bahwa Ibn al-Haytsam adalah saintis yang menafikan peran metafisika, cenderung menganut suatu faham yang dikenal saat ini sebagai positivisme, juga cenderung sekular. Itu tuduhan sebagian kalangan. Kajian terhadap Kitāb Tsamarah al-Ḥikmah ini meruntuhkan anggapan-anggapan tersebut. Kajian ini mengungkapkan bahwa Ibn al-Haytsam adalah seorang -- yang dalam istilah saat ini -- dikenal sebagai saintis-fisuf muslim. Bahkan disertasi ini menunjukkan bukti-bukti yang cukup kuat bahwa ia adalah seorang Sunni-Asy’ari.

Dalam Kitāb Tsamarah al-Ḥikmah, Ibn al-Haytsam menyatakan bahwa tujuan tertinggi dari mempelajari alam semesta adalah berdzikir kepada Allāh sebagaimana yang dinyatakannya:

 “dan melalui mantik akan sampai kepada ilmu tentang alam (ṭabiʿī) yaitu al-Ḥikmah dasar-dasarnya, alasan-alasannya, sebab-sebabnya sampai pada ilmu tentang metafisika (ilāhiyah) yang dengan hal tersebut kemudian ia memahami al-Ḥikmah Allāh Taʿālā, berdzikir pada-Nya dalam keteraturan  langit dan bumi dan yang ada di antaranya maka semestinya dengan hal itu ia mengisbatkan (keyakinan, -pent.) terhadap Sang Pencipta (al-Bāriy), Tuhan yang disembah (al-Ilāh), yang Maha Tinggi (Taʿāla), Maha Bijaksana (ḥakīm), Maha Kuasa (Qādir), dan Maha Mengetahui (Khabīr).”

Ibn al-Haytsam juga menguraikan klasifikasi ilmu pengetahuan, konsep tentang “manusia sempurna” yang dalam terminologinya disebut al-insān al-tāmm, psikologi manusia, konsep kebahagiaan dan lain-lain.  Yang menarik, Ibn al-Haytham telah melakukan usaha pengislaman (islamisasi) terhadap konsep-konsep penting dari sains dan filsafat Yunani, seperti  Konsep Tuhan, alam, dan manusia sempurna,  tujuan penelitian sains, klasifikasi ilmu pengetahuan, sumber dan saluran ilmu pengetahuan, konsep manusia, dan lain-lain.

Kitab Ibn Haytsam ini menunjukkan bahwa kemajuan sains dan pendidikan sains tidak harus dilepaskan dari landasan agama sebagaimana dianggap oleh masyarakat modern saat ini yang banyak diikuti oleh sebagian kalangan ilmuwan di tanah air. Bahkan, Ibn al-Haytsam menunjukkan bahwa agama adalah dorongan yang kuat bagi pengembangan sains yang memberi kemaslahatan bagi ummat manusia.

Untuk mendapatkan karya Ibn al-Haytsam yang masih langka dikaji ini, yaitu Kitāb Tsamarah al-Ḥikmah, bukan hal mudah. Saya menelusuri keberadaannya dengan menghubungi berbagai fihak di Kairo, Alexandria, Turki, London, dan lain-lain. Karena pertolongan Allah semata, akhirnya saya temukan dua edisi Kitāb Tsamarah al-Ḥikmah hasil edit dari ʿAmmār Jamʿī al-Ṭālibī dan Muḥammad ʿAbd al-Hādī Abū Rīdah dan juga edisi manuskrip yang berada di Turki.

Cahaya Allah

Ibn al-Haytsam – nama lengkapnya Abu ‘Ali al-Hasan Ibn al-Hasan Ibn Al-Haytham -- dikenal juga dengan nama Alhazen atau Alhacen. Ia lahir 965 M dan mendapatkan pendidikan di Basrah Iraq. Ibn al-Haytsam pun dikenal sebagai Bapak Optik Modern.  Meskipun Ibn al-Hatsam seorang ilmuwan dalam berbagai bidang, tetapi ia lebih dikenal sebagai ahli optik yang sangat menonjol.

Sebelum Ibn al-Haytsam ada beberapa ilmuwan -- seperti Aristoteles, Euclid, Heron, Archimedes, Ptolemy dan lain-lain – yang membahas ilmu optik.  Setelah itu ada yang meneruskan karya ilmuwan Yunani dalam optik, yaitu al-Kindi.  Ia menulis buku tentang optik berdasarkan teori Euclid. Ibn Sina dan Al-Biruni pernah membahas tentang keterbatasan kecepatan cahaya. Hunayn ibn Ishaq dan Ar-Razi membahas anatomi dan fisiologi mata.

Tetapi, Ibn al-Haytsam adalah tokoh besar dalam bidang optik. Ia mentransformasikan ilmu optik menjadi sebuah disiplin ilmu yang lebih saintifik dan terstruktur yang merupakan cikal bakal ilmu optic saat ini. Ibn al-Haytsam mempelajari hampir seluruh aspek dalam optik, sehingga ia disebut sebagai salah satu Fisikawan Muslim terkemuka di dunia. Ia merupakan satu-satunya tokoh besar optik di antara masa Euclid dan Kepler.

Diantara karya dan hasil penelitian Ibn al-Haytsam adalah fenomena keberadaan atmosfer, risalah tentang cahaya senjakala, teori tentang pelangi,  pembiasan cahaya,   studi fisiologi mata, teori penglihatan, dan lain-lain. Namun karya besarnya (magnum opus) tidak lain adalah Kitab al-Manazhir (Book of Optics) yang berisi ensiklopedia optik. Buku ini telah memberikan landasan ilmiah bagi peneliti-peneliti di dunia Barat seperti Witelo, Roger Bacon dan Peckham. Buku ini pun memberikan landasan penelitian  bagi dua ilmuwan besar dalam kajiannya tentang optik yaitu Kepler dan Newton.

Dalam al-Manazhir, Ibn al-Haytsam terlebih dahulu membahas studi anatomi dan fisiologi dari organ mata dan syarafnya yang terhubung dari otak pada bola mata yang ia bagi menjadi bagian-bagian mata: conjunctiva, iris, kornea, lensa, Vitrous Humour, Aqueous Humour dan lain-lain.

Ia juga menjelaskan fungsi dari bagian-bagian organ mata dan hubungan satu organ dengan lainnya.  Teorinya tentang penglihatan mematahkan teori Ptolemy dan Euclid, bahwa proses penglihatan terjadi bukan karena cahaya dari mata memancar kepada benda (teori emisi), melainkan karena cahaya yang dipantulkan benda menuju mata. Ini teori penting yang mengubah pandangan para ilmuwan selama berabad-abad.

Ibn al-Haytsam juga berkontribusi besar pada studi tentang pemantulan (reflection) dan pembiasan (refraction) cahaya. Ia memusatkan studinya pada hukum pemantulan pada cermin parabola dan bola termasuk fenomena aberasi optik.

Sejarah keilmuan terus bersambung. Ibn al-Haytham bukan tiba-tiba muncul. Ia meneruskan karya pendahulunya Ibn Sahl yang merupakan ahli optik lain dalam dunia sains Islam.  Ini sebuah tradisi ilmiah yang mengangumkan dalam konteks abad ke-4 H/10 M.

Ibn al-Haytsam menulis 200 buku. Tapi, hanya sedikit yang masih bertahan hingga saat ini, termasuk al-Manazhir.  Bisa dikatakan ilmu optik dalam dunia Islam adalah sebuah disiplin sains alam yang paling orisinil dan penting. Penelitian Ibn al-Haytsam tentang optik menjadi dasar penting bagi perkembangan sains di Barat, sehingga banyak ilmuwan Barat menggunakan teori dan hasil temuannya.

Maka, sangat mengherankan bahwa dalam berbagai buku teks sains, sejarah ilmu optik tidak menyebut sama sekali nama Ibn al-Haytsam dan sederet nama penting lainnya. Namanya dibiarkan asing di telinga pelajar/mahasiswa dan lingkungan akademik,  kendatipun jasannya begitu luar biasa dalam bidang optika. Sejarah ilmu optik pada umumnya meloncat selama hampir seribu tahun dari masa Yunani ke sejarah sains di dunia Barat.

Penelitian tentang prestasi ilmiah para ilmuwan muslim, seperti Ibn Haitsam, bukan sekedar sebuah romantisisme sejarah. Penelitian semacam ini membuktikan, bahwa ada satu corak metode dan filsafat sains yang berbeda dengan “sains sekuler” yang dikembangkan di era ini.

Dalam pencermatan objek-objek alam – semisal cahaya --  Ibn al-Haytsam berhasil memadukan aspek empiris dan rasional dengan aspek Ilahiyah. Kekuatan indra dan akal ia padukan dengan panduan Ilahiyah.  Misalnya, dalam

pengamatannya tentang cahaya, Ibn al-Haytsam senantiasa mengingat sebuah ayat al-Qur’an sebagai inspirasinya: “Allah  cahaya  langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus , yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca  kaca itu seakan-akan bintang  seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya,  pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur  dan tidak pula di sebelah barat , yang minyaknya  amper-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya , Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS An-Nur:35)

Dalam bukunya al-Manazhir, Ibn al-Haytsam tak sungkan memuji dan memohon pertolongan Allah Subhanahu wa Ta‘ala sebagai tanda kerendah-hatian dan ketawadhuan. Ini sebuah tradisi penting dalam metode dan filosofi pengkajian sains. Sayang sekali, jika ini hilang dari para saintis muslim, baik dalam diri mereka maupun dalam buku-buku pelajaran sains.

Sains Islam memadukan aspek iman, kecerdasan, dan akhlak mulia. Tujuan mempelajari sains bukan hanya untuk mengenal sifat-sifat alam untuk dieksploitasi. Alam ini adalah ayat-ayat Allah. Ayat bermakna “tanda-tanda”. Tanda-tanda itu menunjuk pada sesuatu yang lain; bukan menunjuk pada diri fenomena alam itu sendiri. Bahwa, ada Dzat Yang Maha Kuasa di balik semua tanda-tanda (ayat).

Karena itu, ilmuwan yang melakukan riset terhadap berbagai hal di alam semesta, sejatinya ia sedang memahami “tanda-tanda”. Jika itu dilakukan dengan ikhlas dan sungguh-sungguh, pasti ia akan menemukan Tuhan. Dalam al-Quran surat al-A’raf: 79, disebutkan, bahwa orang yang gagal memahami “tanda-tanda”, dan tidak menemukan Tuhannya, maka hidupnya pasti seperti binatang ternak (ulāika kal-an’ām). Bahkan lebih sesat lagi.

Memang, binatang ternak hidup untuk makan dan senang-senang. Hidupnya berputar-putar seputar syahwat; tidak pernah mengejar dan meraih kebahagiaan (sa’adah) sejati. Meski begitu, binatang ternak masih berperilaku jujur; tak pernah bohong. Wallahu A’lam bish-shawab. (***).

sumber : Republika Islamia, 19 Oktober 2017

No Response

Leave a reply "Filsafat Sains Ibn Haytsam"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.