Said Nursi: Keajaiban yang Melintasi Zaman

No comment 461 views

untitled-2

Sabtu (26/11/2016) Bertempat di Rabbani Hypnofashion, jln. Dipati Ukur Bandung, Institut Pemikiran Islam dan Pembangunan Insan (PIMPIN) menyelenggarakan kajian bulanan yang ketiga dengan tema Badiuzzaman Said Nursi: Kiprah dan Warisannya dalam Pemikiran Al-Qur’an dan Sains. Acara ini menghadirkan Hasbi Sen, M.Hum., warga asli Turki yang sudah 14 tahun tinggal di Indonesia. Beliau merupakan Pembina Yayasan Nur Semesta, lembaga yang bergerak dalam bidang pendidikan, sosial, dakwah sekaligus sebagai pusat kajian pemikiran Said Nursi yang berada di Jakarta.

Biografi Singkat Said Nursi

Dilahirkan di desa Nurs, wilayah Timur Turki provinsi Bitlis tahun 1877 M, Said Nursi dibesarkan oleh kedua orang tua yang sederhana dan sangat taat beragama sehingga membuat keduanya begitu hati-hati dalam membesarkan ketujuh orang anaknya. Ibunya, Nuriye, tidak pernah menyusui Said Nursi kecil dalam keadaan tanpa wudhu, dan ayahnya, Sufi Mirza, memiliki seekor sapi yang selalu diikat mulutnya setiap kali pulang dari lahannya dengan tujuan menjaga sapinya agar tidak memakan rumput di lahan orang lain. Buah kesucian inilah diantaranya yang menjadikan Said Nursi tumbuh menjadi pemuda yang sangat jenius dan dianugerahi Allah dengan daya hafal yang luar biasa. Sehingga kelak diberi gelar Badiuzzaman yang artinya, Keajaiban Zaman.

Usia sembilan tahun diawali belajar pada kakaknya, Abdullah, selanjutnya Said Nursi belajar dengan cara berkeliling ke madrasah-madrasah tradisional yang ada di Turki Timur. Kejeniusannya sudah terlihat dari kemampuannya dalam menguasai kitab-kitab klasik Islam diusianya yang baru menginjak empat belas tahun. Ia juga mampu menguasai dan menghafal sembilan puluh jilid buku tebal hanya dalam waktu tiga bulan sehingga Said Nursi memperoleh ijazah dari Syaikh Muhammad Jalali.

Hasbi Sen juga menerangkan, bahwa Said Nursi sempat berpindah ke kota Van untuk mempelajari ilmu sains, sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh kalangan ulama di kawasan provinsi Timur. Said Nursi berfikir perlu dilakukannya reformasi pendidikan yang tidak memisahkan antara ilmu agama dengan ilmu sains sehingga ia bercita-cita mendirikan madrasah az-Zahra sebagai tempat dirinya menerapkan gagasan-gagasannya. Ungkapannya yang terkenal yaitu, “ilmu agama cahaya bagi hati, ilmu sains cahaya bagi akal, jika keduanya digabungkan maka hakikat akan tersingkap. Belajar ilmu agama saja mengantarkan pada ta’asub/fanatisme, sedangkan belajar ilmu sains saja akan mengantarkan pada skeptisisme.”

Kegigihan Said Nursi dalam menimba ilmu dan menyebarkannya menjadikan beliau seorang ‘ulama yang sangat giat menghasilkan karya dalam berbaga kondisi yang dihadapi. Isyarat al-I‘jaz (tanda-tanda keajaiban), karya Said Nursi mengenai tafsir surat Al-Fatihah dan 33 ayat surat Al-Baqarah, ditulis saat beliau menjadi bagian dari pasukan Turki melawan Rusia pada Perang Dunia I.

Keshalihan Said Nursi membuat banyak orang ingin belajar padanya. “Setiap kali pindah pengasingan atau penjara, beliau selalu mendapatkan murid baru,” Terang Hasbi Sen. “Para narapidana yang belajar padanya menjadi rajin sholat dan takut menginjak semut,” lanjut master di bidang hukum ini. Murid-murid Said Nursi terdiri dari berbagai kalangan, diantaranya ada yang berprofesi sebagai tukang cukur dan tukang jahit.

Tahun 1918, Said Nursi diangkat menjadi anggota Daru'l-Hikmeti'l-Islamiye sebelum akhirnya di tahun 1920 beliau merubah metode dakwahnya sehingga tahun ini disebut sebagai tahun transformasi spiritual Said Nursi. Perubahan sebutan dari “Said Lama” menjadi “Said Baru” dipengaruhi oleh beberapa karya ‘ulama yang beliau kaji, diantaranya karya Imam Ahmad as-Sirhindi dan karya Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. Kedua karya ini bagi Said Nursi seperti obat yang dapat mengguncang hatinya mengenai keikhlasan dan persoalan-persoalan hati lainnya. Di dalam karya as-Sirhindi, Said Nursi mendapatkan sebuah surat yang ditujukan kepada Badiuzzaman yang ia yakini tidak lain ditujukkan untuk dirinya sendiri, sebab setelah abad ketiga hijriyah tidak ada lagi yang diberi nama/gelar Badiuzzaman. Keyakinan ini membawanya untuk mempelajari dan mendalami hakikat al-Qur’an dan menjadikan al-Qur’an sebagai pembimbingnya yang paling sempurna. Pada masa ini, Said Nursi menulis kitab berjudul “al-Matsnawi an-Nuri”.

Pada masa Mustafa Kemal Attaturk, sebelum lahirnya Republik Turki, Said Nursi pernah diundang ke Ankara karena namanya yang sudah semakin tersohor, di sana Said Nursi menyampaikan pidato mengenai “Pentingnya Shalat” yang dilatarbelakangi dilihatnya para pejabat negara yang melalaikan kewajiban agama. Mendengar pidatonya ini, Attaturk merasa kesal dan mengkritik Said Nursi. Ustadz Nursi menjelaskan pentingnya iman dan sholat dalam Islam kepadanya. Said Nursi sempat ditawarkan untuk menjadi menteri agama dengan tujuan agar dapat membungkam keberaniannya dalam mengkritik pemerintah. Tetapi tawaran ini ditolak oleh Said Nursi karena dirinya telah melihat benih-benih sekularisme tumbuh di Turki yang menjadikan beliau memutuskan untuk uzlah selama dua setengah tahun.

Tahun 1923 Republik Turki yang baru lahir, bersamaan dengan muculnya berbagai kebijakan yang bertentangan dengan Islam. Madrasah-madrasah ditutup, pelarangan hijab dan simbol-simbol keagamaan, kitab-kitab ilmu diberangus, bahkan hingga penggantian adzan dengan bahasa Turki. Masa itu adalah masa yang berat bagi kaum Muslimin di Turki. Sehingga Said Nursi dan murid-muridnya harus menulis kitab Risalah Nur dan menyebarkannya dengan cara sembunyi-sembunyi. Oleh karena tekanan pemerintah terhadap kaum Muslimin, banyak diantara kaum Muslimin di Turki yang hendak melakukan pemberontakan terhadap rezim baru. Sebagian dari mereka meminta nasihat dan pandangan Said Nursi yang dijawab dengan ketidaksetujuannya untuk mengambil jalan kekerasan dengan cara angkat senjata karena akan terjadi pertumpah darahan di Turki. Meskipun sarannya ini tidak diindahkan, Said Nursi ikut terkena akibat dari pemberontakan ini. Ia ditangkap karena dianggap sebagai bagian dari para pemberontak.

Lima kali diasingkan dan tiga kali dipenjara oleh pemerintah Turki dengan total lebih dari dua puluh tiga tahun, tidak menghentikan semangat beliau dalam berkarya, bahkan banyak karya-karyanya yang dihasilkan saat dirinya berada dalam penjara. Salah satunya kitab al-Kalimat yang ditulisnya dalam pengasingan di Barla selama delapan setengah tahun. Itu sebabnya, Said Nursi menamakan penjara sebagai madrasah Yusufiyah, dikarenakan Nabi Yusuf ‘alayhissalam pertama kali mengajarkan Tauhid di dalam penjara. “Masuk penjara bagi Said Nursi adalah seperti seorang profesor masuk kelas,” Jelas Hasbi Sen yang mengundang kekaguman para peserta kajian.

Kurungan terberat yang pernah dilalui Said Nursi ialah penjara di Afyon. Ia ditahan selama dua puluh bulan dalam kondisi fisik yang sudah semakin tua dan lemah akibat pemenjaraan dan pengasingan selama bertahun-tahun. Tahun 1949 ia dibebaskan dan pada tahun 1952 beliau dipanggil ke Instanbul terkait persidangan dan percetakan karya-karyanya. Tahun 1960, Said Nursi wafat di usia 83 tahun tanpa meninggalkan harta benda duniawi yang berharga, namun jumlah pengikutnya sudah mencapai jutaan orang. Sampai sekarang tidak ada yang mengetahui makamnya setelah dibongkar dan dipindahkan, selain daripada murid-muridnya.

Warisan Said Nursi dalam Pemikiran Al-Qur’an dan Sains

Ketekunannya mempelajari dan mendalami Al-Qur’an, mendorong Said Nursi untuk menghasilkan berbagai karya tentang Al-Qur’an dan Kenabian. Kondisi beliau yang berada dalam pengasingan serta dijauhkan dari akses perpustakaan tidak menyurutkan semangatnya untuk berkarya. Bersama dengan muridnya, Said Nursi menulis Risalah Nur yang jumlahnya lebih dari 600.000 naskah (satu naskah kurang lebih setebal buku tiga ratus halaman). Salah satu karya Said Nursi yang berisi tentang tugas-tugas kenabian dan mukjizat-mukjizat Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam, memuat tiga ratus lebih mukjizat Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam tanpa merujuk kepada kitab-kitab hadits karena keterbatasan yang dialaminya, tetapi atas petunjuk Allah, apa yang dituliskannya dinyatakan kebenarannya setelah di-takhrij oleh para ‘ulama hadits.

Sebagaimana yang disampaikan Hasbi Sen, bagi Said Nursi alam adalah ayat-ayat kauniyah yang merupakan kitab Allah Ta’ala yang harus dibaca dan ditadabburi oleh manusia, sebagaimana juga al-Qur’an. Terdapat empat tujuan asasi al-Qur’an serta unsur fundamentalnya, yaitu: tauhid, kenabian, akhirat,  dan ibadah serta keadilan yang tercermin di dalam setiap surat, ungkapan bahkan kata-kata dalam al-Qur’an, beliau mencontohkan keberadaan keempat unsur ini dalam kalimat bismillah.

Dalam karyanya yang telah diterjemahkan berjudul Mukjizat al-Qur’an, Said Nursi menulis, “Lalu bagi manusia, selain sebagai kitab syariah, Al-Qur’an juga kitab hikmah. Selain sebagai kitab doa dan ubudiyah, Al-Qur’an juga kitab perintah dan dakwah. Selain sebagai kitab zikir, Al-Qur’an juga kitab pikir. Ia adalah kitab suci satu-satunya yang menghimpun seluruh kitab yang mewujudkan semua kebutuhan maknawi manusia. Sehingga ia memperlihatkan kepada setiap aliran dari kelompok yang berbeda-beda yang terdiri dari para wali, kalangan shiddiqin, kaum arif, serta para ulama ahli peneliti sebuah risalah yang sesuai dengan kebutuhan setiap aliran tersebut. Kitab samawi ini menyerupai sebuah perpustakaan suci yang dipenuhi oleh berbagai kitab (Mukjizat al-Quran, hlm. 2-3).”

Bagi Said Nursi, al-Qur’an dan Sains tidaklah bertentangan, bahkan al-Qur’an merupakan landasan utama untuk dapat memahami hakikat sains. “karena semua aspek dalam al-Quran itu mukjizat, menurut Said Nursi, sebetulnya dalam al-Qur’an ada indikasi atau isyarat untuk kemajuan teknologi yang timbul pertama.” Jelas Hasbi Sen. Dalam karyanya al-Kalimat, Said Nursi menuliskan mengenai al-Qur’an dan Sains dalam satu bab khusus.

Hasbi Sen juga menyampaikan pandangan Said Nursi yang ditulis dalam salah satu karyanya, “Di dalam al-Qur’an terdapat segala sesuatu. Hanya saja, tidak setiap orang dapat melihat segala sesuatu di dalamnya. Sebab, gambaran tentangnya tampak dalam al-Qur’an dalam tingkatan yang beragam.” Sering kali al-Qur’an menyampaikan sesuatu melalui isyarat atau tanda-tanda. Contohnya seperti bagaimana al-Qur’an mengungkapkan berbagai isyarat mengenai kemajuan teknologi dalam peradaban manusia melalui dua sisi, yaitu; Pertama, al-Qur’an memberikan isyarat kepadanya saat menjelaskan tentang berbagai mukjizat para nabi. Kedua, al-Qur’an memberikan isyarat padanya ketika mengupas berbagai peristiwa historis.

Menurut Said Nursi, sebagaimana yang disampaikan Hasbi Sen, mukjizat-mukjizat kenabian yang dijelaskan dalam al-Qur’an tidak hanya untuk mendorong manusia meneladani aspek maknawinya saja, melainkan juga untuk mendorong manusia mencapai apa yang telah para nabi perbuat baik materil maupun nonmateril. “al-Qur’an menunjukkan kekuatan teknologi pada titik akhir yang bisa dicapai oleh manusia.” Ungkap Hasbi Sen. Said Nursi mengambil contoh melalui kisah Nabi-Nabi diantaranya, Nabi Nuh as., Nabi Yusuf as., Nabi Idris as., Nabi Ibrahim as., Nabi Sulaiman as. yang memiliki keunggulan dan keahlian di bidang-bidang tertentu dan diakui serta diungguli oleh masyarakat di zamannya. Surah al-Baqarah ayat 31 menurut Said Nursi dalam kitabnya, menerangkan bahwa mukjizat terbesar Adam as. dalam dakwah kekhalifahannya yang terbesar adalah pengajaran atas berbagai nama. “Mukjizat Adam as., secara jelas menunjukkan puncak kesempurnaan manusia, puncak kemajuannya, serta puncak tujuannya.” Tulis Said Nursi, yang dikutip Hasbi Sen.

Selain mengungkapkan hikmah-hikmah yang terkandung disebalik kisah-kisah para Nabi sebagaimana yang banyak ditulis dalam karyanya “Al-Lama’at”, Said Nursi juga menulis berbagai penjelasan untuk menjawab berbagai persoalan yang ditimbulkan oleh orang-orang yang belum memahami al-Qur’an, salah satunya ialah pertanyaan mengapa perkembangan teknologi dalam al-Qur’an tidak disebutkan secara jelas? Apakah yang dimaksud  dalam Qur’an Surah al-An’am ayat 59 yang artinya “Tidak ada sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata?”

Untuk menggambarkan salah satu kemukjizatan al-Qur’an, Hasbi Sen mengutip tulisan Said Nursi yang telah diterjemahkan,al-Qur’an al-Azhim penuh dengan hikmah. Ia memberikan kedudukan yang tepat kepada setiap sesuatu. Dari buah yang gaib, al-Qur’an melihat kemajuan peradaban manusia sejak 13 abad yang lalu yang tersembunyi dalam tirai masa depan dalam bentuk yang lebih baik dan lebih jelas daripada yang kita lihat dan akan kita lihat. Jadi, al-Qur’an merupakan kalam Dzat yang melihat setiap zaman berikut berbagai urusan yang terdapat di dalamnya secara sekaligus. Itulah satu kilau dari kemukjizatan al-Qur’an yang bersinar di wajah mukjizat para nabi. (al-Kalimat, hlm. 350)”

Penulis: Sakinah Fithriyah

Editor: Hasbi Sen, M.Hum.

Sumber gambar :

http://www.egitimsistem.com/d/news/2608.jpg

author
No Response

Leave a reply "Said Nursi: Keajaiban yang Melintasi Zaman"