Konsep Ilmu dan Metode Pendidikan Dalam Pemikiran Al Ghazzali (2)

Penggolongan Ilmu

       Al-Ghazzali menilai bahwa ilmu harus diletakkan kembali pada tempatnya yang sesuai. Agar bisa meletakkan ilmu pada tempatnya, tentu perlu diketahui dimana letak ilmu itu masing-masing sehingga al-Ghazzali membuat banyak penggolongan ilmu di dalam kitab Ihya’ ‘Ulumuddin. Secara umum ilmu itu dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok besar, yaitu ilmu syariah dan bukan syariah

  1. Ilmu syariah, yaitu ilmu yang berasal dari para Nabi dan Rasul yang tidak diperoleh melalui perantaraan akal (seperti berhitung), atau melalui percobaan (seperti kedokteran), atau juga melalui pendengaran (seperti bahasa). Semua ilmu syariah merupakan ilmu terpuji. Terpuji di sini dapat diartikan sebagai ilmu yang dapat memberikan kebaikan (bermanfaat) baik bagi yang mempelajarinya maupun orang lain. Ilmu syariah dibagi lagi dalam dua kelompok :
    • Fardhu ‘ain, yaitu ilmu yang wajib bagi setiap Muslim
    • Fardhu kifayah, yaitu ilmu yang wajib bagi sebagian Muslim
  2. Ilmu bukan-syariah, yaitu semua ilmu yang diluar pengertian ilmu syariah. Ilmu ini dapat digolongkan lagi menjadi
    • Terpuji. Ilmu ini terbagi lagi dalam dua kelompok, yaitu :
      • ilmu fardhu kifayah
      • ilmu utama, yaitu ilmu yang bukan fardhu tetapi bermanfaat untuk melengkapi atau menyempurnakan ilmu-ilmu fardhu. Contohnya, detail-detail ilmu kedokteran atau matematika.
    • Mubah, yaitu ilmu yang dalam tinjauan agama tidak membawa kebaikan maupun keburukan bagi yang mempelajarinya atau orang lain. Contohnya ilmu puisi atau ilmu sejarah.[5]
    • Tercela, yaitu ilmu yang membawa keburukan bagi yang mempelajarinya atau orang lain. Contohnya adalah ilmu sihir.
Konsep Ilmu Al-Ghazzali

Bagan Konsep Ilmu dalam Pemikiran al-Ghazzali

Pengelompokan di atas bukan hanya sekedar klasifikasi tetapi juga menunjukkan derajat kedudukan ilmu yang satu terhadap ilmu yang lain. Dengan demikian, berdasarkan bagan di atas ilmu fardhu ‘ain lebih tinggi dari fardhu kifayah. Begitu juga ilmu fardhu kifayah dari kelompok ilmu syariah lebih tinggi kedudukannya dibandingkan ilmu fardhu kifayah dari kelompok ilmu bukan-syariah.

 

Tentang Ilmu Fardhu ‘Ain dan Fardhu Kifayah[6]

       Pada dasarnya ilmu itu sangat luas atau tidak terbatas, sedangkan kemampuan manusia sangat terbatas. Oleh karena itu dengan keterbatasan akal dan usianya, manusia tidak mungkin bisa menguasai semua ilmu yang ada. Sementara itu, di sisi lain Nabi Muhammad SAW memerintahkan umat Islam untuk menuntut ilmu. Dengan demikian berarti perintah Nabi Muhammad SAW untuk menuntut ilmu bukanlah untuk menuntut semua ilmu, melainkan terbatas pada ilmu-ilmu yang penting saja. Para ulama umumnya sepakat bahwa ada ilmu yang fardhu bagi setiap muslim (fardhu ‘ain) dan ada yang fardhu bagi sebagian muslim (fardhu kifayah). Disebut fardhu karena jika ilmu ini tidak diketahui maka individu muslim (di dalam fardhu ‘ain) atau segolongan muslim (di dalam fardhu kifayah) terancam mendapat dosa dan murka Allah. Inilah yang dimaksud dengan ilmu yang penting dipelajari itu. Namun yang menjadi masalah adalah bagaimana menentukan ilmu mana yang termasuk fardhu ‘ain dan ilmu mana yang termasuk fardhu kifayah. Al-Ghazzali menyimak perdebatan masyarakat mengenai hal ini di masa itu dimana umumnya pandangan mereka sangat terkait dengan kecenderungan masing-masing orang. Misalnya, bagi para ahli fiqih, ilmu fiqihlah yang merupakan ilmu fardhu ‘ain, sedangkan ahli tafsir Quran dan Hadits menyebut ilmu-ilmu al-Qur’an dan Hadits yang merupakan fardhu ‘ain. Demikian juga para ahli tasawuf akan menyebutkan ilmu tasawuflah yang fardhu ‘ain. Demikian seterusnya.

       Menurut al-Ghazzali ilmu fardhu ‘ain sangat tergantung dengan keadaan hidup seseorang sehingga ia tidak sepakat dengan pengertian yang kaku seperti di atas. Kewajiban menuntut ilmu ini berubah dari waktu ke waktu sesuai dengan perubahan yang terjadi pada orang tersebut. Hal ini didasarkan bahwa keadaan yang berbeda akan menuntut kewajiban yang berbeda pula. Demikian juga hal ini ditegaskan al-Qur’an dalam surat al-Baqarah (2) : 286

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.

Ayat di atas menunjukkan kewajiban yang Allah bebankan kepada setiap orang tidaklah sama. Itu berarti kewajiban orang kaya tidak sama dengan kewajiban bagi orang miskin, kewajiban penguasa tidak sama dengan kewajiban rakyat jelata, kewajiban orang dewasa tidak sama dengan anak-anak, kewajiban orang sakit tidak sama dengan kewajiban orang sehat, dan kewajiban wanita tidak sama dengan kewajiban laki-laki. Demikian seterusnya. Kemudian, seperti telah disampaikan di atas bahwa kehidupan manusia itu berkembang maka tuntutan kewajibannya pun juga mengalami perubahan. Dengan demikian ilmu fardhu ‘ain bersifat dinamis dan berubah menurut perkembangan kehidupan masing-masing individu. Misalnya, seorang yang miskin tidak wajib mengetahui ilmu tentang zakat, namun ketika ia dianugerahi kekayaan maka ilmu tersebut menjadi wajib baginya. Ilmu yang wajib diketahui itu hanya sebatas dengan kewajiban yang harus ia penuhi. Artinya, ia tidak wajib mengetahui detail ilmu zakat, kecuali dengan kadar yang ia butuhkan yang sesuai dengan keadaannya pada saat itu.

Al-Ghazzali membagi lagi ilmu fardhu ‘ain ini dalam dua kelompok, yaitu ilmu mukasyafah dan mu’amalah. Ilmu mukasyafah adalah ilmu yang wajib diketahui saja dan ilmu ini hanya dicapai ketika hati telah bersih dari berbagai sifat tercela. Sedangkan ilmu mu‘amalah adalah ilmu yang wajib diketahui dan diamalkan. Al Ghazzali hanya membahas ilmu mu‘amalah tapi tidak membahas ilmu mukasyafah karena ilmu ini sangat sulit dipahami dan diuraikan. Namun demikian, menurut al-Ghazzali ilmu mukasyafah dapat dicapai dengan mengamalkan ilmu mu’amalah.

Ilmu mu‘amalah mencakup tiga hal, yaitu yang berkait dengan keyakinan (i’tiqad), perintah, dan larangan. Dalam hal keyakinan, misalnya seseorang yang sampai pada usia baligh, wajib mengetahui ilmu tentang Allah, sekurang-kurangnya ia mempelajari dan mengetahui dua kalimat syahadah. Ia wajib meyakini hal ini tanpa keraguan sedikit pun. Bila ini telah ditunaikan, berarti ia telah melaksanakan kewajibannya kepada Tuhan.

Keyakinan kepada dua kalimah syahadah ini menimbulkan kewajiban baru yaitu melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan Allah sehingga muncul cabang baru ilmu mu’amalah yaitu pengetahuan tentang perintah dan larangan. Namun, pengetahuan mengenai perintah dan larangan tidak cukup hanya diketahui saja tetapi juga harus diamalkan dalam kehidupan. Dalam pengertian ini Al-Ghazzali menegaskan keterkaitan antara ilmu dengan amal dan kesempurnaan ilmu terwujud dalam kesempurnaan amal.

Al-Ghazzali menjelaskan bahwa setelah mempelajari dan mengetahui dua kalimat syahadat muncul baginya kewajiban untuk menegakkan shalat, oleh karena ia wajib mengetahui ilmu tentang shalat termasuk juga pengetahuan tentang bersuci (thaharah) karena untuk bisa shalat seseorang diwajibkan bersuci lebih dulu. Demikian juga ketika ia mulai memiliki harta maka ia wajib mengetahui ilmu tentang zakat. Mendekati Ramadhan ia sudah harus membekali dirinya dengan pengetahuan tentang ibadah shaum. Ketika akan datang musim haji sedangkan ia sudah memenuhi semua syarat untuk bisa berangkat haji maka ia diwajibkan untuk mempelajari ilmu tentang ibadah haji sebelum berangkat menunaikannya. Semua ini adalah ilmu mu’amalah yang terkait dengan perintah.

Begitu juga dalam ilmu mu‘amalah yang berkaitan dengan larangan. Misalnya, seseorang yang telah meyakini dua kalimah syahadah harus mengenal larangan-larangan agama. Misalnya, ketika ia hendak makan maka ia seharusnya mengetahui mana makanan halal dan mana yang haram dan ia harus menghindarkan dirinya dari yang haram. Begitu juga ketika ia berbicara ia juga harus mengetahui bahwa ia harus meninggalkan perkataan yang dusta. Ketika ia hendak berdagang maka ia harus mengetahui bahwa ia tidak boleh mengurangi timbangan dan bisa membedakan mana yang jual beli dan mana riba dan ia wajib meninggalkan segala bentuk kecurangan dan riba.

Termasuk juga dalam ilmu fardhu ‘ain menurut al-Ghazzali adalah mengetahui hal-hal membinasakan yaitu keadaan-keadaan hati yang tercela seperti sombong, ujub, riya’, dengki, dan lain-lain. Seorang manusia tidak akan luput dari cobaan keadaan hati seperti ini dan menghilangkan sifat-sifat ini merupakan suatu fardhu’ain. Jika ia jatuh ke dalam keadaan ini maka ia akan mendapat dosa, oleh karena itu ia harus mengetahui hal-hal yang terkait dengan sifat-sifat tercela ini. Agar ia selamat dari sifat-sifat ini maka menurut al-Ghazzali setiap orang hendaknya mengenal batas-batas, sebab-sebab, tanda-tanda, dan cara pengobatan penyakit hati ini.

Halaman Selanjutnya

author
No Response

Leave a reply "Konsep Ilmu dan Metode Pendidikan Dalam Pemikiran Al Ghazzali (2)"