Manusia Dalam Islam

No comment 322 views

 

Allah Subhana wa Ta’ala telah melengkapinya dengan kecerdasan untuk membedakan yang benar dari yang salah, atau kebenaran dari kepalsuan. Meskipun kecerdasan itu membingungkannya, asalkan ia jujur dan setia terhadap hakikat dirinya yang benar, maka Allah dengan segala karunia, belas kasih dan rahmat-Nya –jika Ia menghendaki– akan memberikan petunjuk-Nya (huda) untuk membantunya memperoleh kebenaran dan perilaku yang benar...[1]

Maha Besar Allah dengan segala KuasaNya... Dia yang telah menciptakan manusia dari saripati tanah. Dengan Rahman dan RahimNya pula ia sempurnakan manusia dengan memberikannya Ruh untuk dapat mengenal dirinya sendiri. Ketika berbicara manusia, itu berarti membicarakan diri kita sendiri. Yaitu, manusia yang sedang belajar (subjek) dan manusia yang sedang dipelajari (objek).

Penciptaan Manusia

Berawal dari penciptaan manusia pertama, yaitu Adam. Telah jelas Allah ceritakan kisahnya dalam Al-Qur’an. Salah satu karya Imam Al-Ghazali yang berjudul al-Madun al-Shagir menjelaskan tafsirannya terhadap ayat-ayatNya, yaitu Surah Al-Hijr [15] : 29 dan Shaad [38] : 72.

Maka apabila Aku telah menyempurnakan (kejadian)nya, dan Aku telah meniupkan ruh (ciptaan)-Ku kedalamnya, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud”

Dalam pandangannya, ada 3 hal yang sangat penting dari ayat yang telah disebutkan diatas.

Pertama, taswiyah (menyempurnakan) merupakan proses yang terjadi dalam materi untuk menjadikannya sesuai untuk menerima ruh. Materi ini berupa tanah liat bagi Adam as; dan nutfah (sel) bagi bani adam. Sel ini menjalani berbagai tahap dan bertransformasi dari tanah liat, menjadi makanan (melalui tumbuh-tumbuhan dan hewan), menjadi darah, menjadi sperma dan ovum, yang kemudian bersatu di dalam rahim dan kemudian menjadi embrio bayi.

Kedua, nafkh (meniupkan), merupakan pemicu bagi kemunculan ruh dalam badan yang telah terbentuk. Ini menunjukan dua kondisi, yaitu pertama, Tuhan Maha Pemurah sehingga menyebabkan terjadinya penciptaan, yang menunjukan Ilmu-Nya, Kehendak-Nya dan Kekuatan-Nya untuk mencipta. Kedua, kesiapan suatu materi untuk menerima ciptaan-Nya. Iradah Tuhan untuk mencipta berada dalam alam Amr (Perintah), bukan Khalq (Ciptaan). Oleh sebab itu, ruh berada dalam alam direksi dan tujuan, bukan dalam alam eksistensi. Oleh sebab itu juga, ruh tidak tertakluk kepada kondisi ruang dan waktu dalam alam khalq.

Ketiga, Ruh (Ruh-Ku) bukan berarti ruh manusia adalah bagian dari ruh Tuhan. Penggunaan ini adalah metaforis, karena Tuhan berbeda dengan makhluk-Nya.[2]

Keberutangan Manusia

Pandangan mengenai keberutangan manusia dengan Tuhan merupakan salah satu unsur yang paling penting dalam pemahaman dan kehidupan beragama secara Islami. Prof Al-Attas mengatakan bahwa keberutangan itu pada awalnya bermula dari peristiwa yang terjadi ketika manusia belum diberi jasad dan masih berada dalam bagian Kesadaran Tuhan, tepatnya pada masa Waktu Sebelum Perpisahan (Time of the Pre-Sepration). Pandangan Prof Al-Attas mengenai hal ini berangkat dari ayat yang berisi perjanjian antara Tuhan dan manusia (Q.S.  Al-A’raf [7] : 172).[3]

“Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Benar, kami bersaksi (bahwa Engkau betul-betul Tuhan kami)”(Kami lakukan yang demikian itu) agar di Hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “sesugguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini”

Sebagai ciptaan yang selalu mengalami penciptaan, pembinasaan, dan penciptaan kembali, wujud manusia sebenarnya tidak bertahan lebih lama dari dua atom dalam kitaran waktu. Seperti ciptaan lainnya, manusia berutang wujud kepada Penciptanya. Kondisi ini mencegahnya dari menganggap diri, kehidupan dan tubuhnya sebagai miliknya yang bisa dipakai semaunya.[4]

Dinamakan Insan

Manusia disebut Insan adalah karena setelah bersaksi akan kebenaran Perjanjian yang menuntutnya untuk mematuhi perintah dan larangan, ia alpa (nasiya) memenuhi kewajiban dan tujuan hidupnya (Q.S. Thaha [20] : 115). Disebutkan pula dalam hadits yang diriwayatkan oleh ibnu Abbas r.a.

إِنَّمَا سُمِيَ الإِنْسَانُ إِنْسَانًا لأَنَّهُ عُهِدَ إِلَيْهِ فَنَسِيَ

“Sesungguhnya manusia disebut insaan karena setelah berjanji dengan-Nya, ia lupa (nasiya)”

Manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah. Bagaimanapun, manusia lupa untuk melakukan ibadah tersebut. Sifat alpa ini merupakan penyebab keingkaran manusia, dan sifat tercela ini mengarahkannya kepada ketidakadilan (zhulm) dan kejahilan (jahl).[5] Panca indera, akal dan wahyu diturunkan merupakan pengingat bahwa ia adalah khalifah Allah di atas bumi.

Keberadaan Manusia

Manusia sama seperti makhluk hidup yang lainnya. Ia seperti hewan yang membutuhkan makan dan minum untuk hidup. Ia seperti tumbuhan yang tumbuh dan berkembang. Namun, manusia diberi kelebihan jiwa, akal dan hati. Dengannya manusia dapat memaknai setiap waktu, bahwa ia hidup tidak hanya untuk makan dan minum saja ataupun tumbuh menjadi lebih besar secara fisik saja.

Keberadaan manusia di dalam dunia ini dilengkapi dengan dua keadaan. Manusia adalah makhluk yang terdiri dari jasad dan ruh artinya, makhluk jasadiah dan ruhaniah sekaligus. Manusia bukanlah makhluk ruh murni dan bukan pula jasad murni, melainkan makhluk yang secara misterius terdiri dari kedua elemen ini, yang disebut dengan entitas ketiga, yaitu jati dirinya sendiri.[6] Selanjutnya, “Realitas yang mendasari dan prinsip yang menyatukan apa yang kemudian dikenal sebagai manusia bukanlah perubahan jasadnya, melainkan keruhaniannya”[7]

Jasad memiliki kontribusi yang besar terhadap perkembangan intelektual dan spiritual manusia, sebab hanya melalui jasadlah ruh bisa memperoleh informasi dan data tertentu tentang dunia indriawi dan pengalaman.[8] Manusia diberi telinga untuk mendengar, dengan pendengaran itu ia tidak hanya mendengar suara saja. Namun lebih dari itu, ia dapat memaknai dari apa yang ia dengar. Manusia diberi mata untuk melihat, dengan penglihatan tersebut ia tidak hanya dapat melihat objek dari pantulan cahaya saja. Namun lebih dari itu, ia dapat memaknai dari apa yang ia lihat.

 

Ruh Manusia

Ruh manusia dilengkapi dengan fakultas yang memiliki sebutan berlainan dalam keadaan yang berbeda, yaitu ruh (ruh), jiwa (nafs), hati (qalb) dan intelektual (‘aql). Setiap sebutan ini memiliki dua makna, yang satu merujuk pada aspek-aspek jasad maupun kebinatangan dan yang satu lagi pada aspek keruhanian.[9] Ketika bergelut dengan sesuatu yang berkaitan dengan intelektual dan pemahaman, ia (yaitu, ruh manusia) disebut “intelek”; ketika mengatur tubuh, ia disebut “jiwa”; ketika sedang mengalami pencerahan intuisi, ia disebut “hati”; dan ketika kembali kedunianya yang abstrak, ia disebut “ruh”. Pada hakikatnya, ia selalu aktif memanifestasikan dirinya dalam keadaan-keadaan ini.[10]

Diri sangat berkaitan erat dengan jasad dan ruh. Oleh karena itu, pada satu sisi, ia dianggap sebagi jiwa hewani (al-nafs al-hayawaaniyyah) ketika berhubungan dengan jasad, pada sisi lain, sebagai jiwa rasional (al-nafs an-naatiqoh) ketika berhubungan dengan ruh. Nasibnya di dunia dan di akhirat bergantung pada aspek mana yang mendapat prioritas utama. [11]

“Khalifah” Allah

Sifat alpa (nasiya) yang ada pada diri manusia merupakan penyebab keingkaran akan janjinya, dan sifat tercela ini mengarahkannya kepada ketidakadilan (zhulm) dan kejahilan (jahl). Namun, manusia dicipta untuk menjadi wakil (khalifah) Allah dimuka bumi (Q.S. Al-Baqarah [2] : 30). Dengan dilengkapi fakultas yang Allah sempurnakan. Manusia memikul beban berat kepercayaan (amanah) yang telah diletakkan di atas pundaknya, yaitu amanah dan tanggung jawab untuk memerintah sesuai kehendak, maksud dan ridhaNya (Q.S. Al-Ahzab [33] : 72)

 “Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul semua itu dan meraka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zhalim dan sangat bodoh”

Amanah berarti tanggung jawab untuk berbuat adil terhadapnya. Yang dimaksudkan dengan memerintah disini tidak hanya dalam pengertian sosio-politik, atau dalam pengertian mengendalikan alam secara saintifik, tetapi yang lebih mendasar adalah merangkumi konsep alam tabii (tabi’ah), ia merujuk kepada memerintah, mengatur, mengendalikan dan memelihara manusia oleh diri manusia itu sendiri.[12]

Keadilan adalah kondisi yang harus diupayakan seseorang. Untuk mencapainya diperlukan usaha yang membutuhkan ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan. Tidak hanya dalam membina hubungannya dengan manusia lain dan alam sekitar, tetapi lebih penting lagi dalam membina hubungannya dengan dirinya sendiri, Tuhan dan lainnya termasuk ilmu pengetahuan dan bahasa. [13]

Panca indra, akal dan wahyu diturunkan merupakan pengingat bahwa ia adalah khalifah Allah diatas bumi. Ia memiliki amanah dan tanggung jawab. Ia memiliki kebebasan. Namun, kebebasan tersebut diarahkan untuk melaksanakan kebaikan. Amanah mengindikasikan tanggung-jawab untuk mengatur dirinya sendiri. Jika amanah dan tanggung-jawab itu dilakukan, maka disitulah terletak kebahagiaan duniawi dan ukhrawi. Kebahagian duniawi mencakup (i) jiwa; (ii) badan; dan (iii) eksternal kepada jiwa dan badan. Kebahagian duniawi diarahkan oleh agama dengan wahyu sebagai sumbernya. Bagaimanapun, kebahagiaan ukhrawi merupakan kebahagiaan akhir. Kebahagiaan duniawi juga bermakna menghindar dari al-shaqawah yaitu kesengsaraan, penderitaan, keputus-asaan, ketakutan, kesedihan, penderitaan hati, dan penyesalan. Al-shaqawah terjadi karena dirinya jauh dari Tuhan. Manusia yang menolak agama dan berpaling dari Tuhan niscaya tidak akan mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya.[14]

Wallahu a’lam bishshawab

(Latipah Paojiah/PIMPIN)

 

[1]Syed Muhammad Naquib al-Attas. Islam dan Sekularisme (Bandung: PIMPIN), hlm. 178

[2]Adnin Armas, Konsep Manusia dalam Islam (Makalah Kuliah Islamic Worldview), hlm. 3

[3]Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas, (Bandung : Mizan) hlm. 95

[4]Ibid., hlm. 94-95

[5]Syed Muhammad Naquib al-Attas. Islam dan Sekularisme (Bandung: PIMPIN), hlm. 177-178

[6]Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas, (Bandung : Mizan) hlm.  94

[7]Ibid.

[8]Ibid., hlm. 98

[9]Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas, (Bandung : Mizan) hlm.  94

[10]Ibid.

[11]Ibid.

[12]Syed Muhammad Naquib al-Attas. Islam dan Sekularisme (Bandung: PIMPIN), hlm. 178

[13]Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas, (Bandung: Mizan) hlm.  99

[14]Adnin Armas, Konsep Manusia dalam Islam (Makalah Kuliah Islamic Worldview), hlm. 2

author
No Response

Leave a reply "Manusia Dalam Islam"