Ringkasan Mengenai Konsep Din

No comment 281 views

Salah satu elemen dasar pandangan alam (worldview) Islam ialah konsep tentang din (agama). Istilah din secara umum sering diartikan sebagai agama meskipun sebenarnya, istilah agama tidak-lah sama dengan din. Din memiliki makna yang begitu luas yang menggambarkan konsep atau rancangan dasar Islam itu sendiri dimana hal tersebut tidak terkandung atau terwakili sepenuhnya dalam istilah agama. Din pula yang menjadi pembeda antara Islam dengan agama-agama lainnya yang menunjukkan bahwa tiada agama selain Islam yang memiliki dan meliputi seluruh konsep din beserta cabang-cabang konsepnya sebagai perkembangan dari makna asalnya.

 

Konsep agama (religion) oleh masyarakat Barat dipahami sebagai tradisi yang lahir dari proses sejarah. Para peneliti studi agama di Barat sendiri berbeda pendapat mengenai definisi agama. E. B. Tylor dan James Frazer misalnya, menyimpulan bahwa agama muncul sebagai bentuk pelarian manusia atas beragam pertanyaan yang tidak bisa dijawab, hal ini sebagaimana penjelasan dalam buku Seven Theories of Religion karangan Daniel L. Pals.[1] Lain halnya dengan pandangan Karl Marx, dalam buku yang sama, dijelaskan bahwa ia berpendapat agama lahir sebagai alat kelas sosial atas untuk mengendalikan kelas proletar (kelas bawah). Sehingga agama ibarat candu yang berfungsi ‘meninabobokan’ kelas bawah.[2] Atau Emile Durkheim yang memandang bahwa agama sebatas sistem di masyarakat yang mensakralkan sesuatu. Pandangan beberapa tokoh studi agama dalam buku Pals tersebut menunjukkan kegagalan Barat dalam memaknai agama secara final, ini dikarenakan pandangan mereka berdasarkan pemikiran dan pengalaman tanpa adanya bimbingan wahyu.[3]

 

Lain halnya dengan konsep agama dalam Islam, agama dalam Islam lebih tepat disebut sebagai din yang mana makna utamanya terdapat dalam wahyu (Qur’an dan Sunah) yang bisa ditinjau dengan merujuk kepada asal dan medan semantik kata dari istilah tersebut. Din yang dalam bahasa Arab berasal dari kata D-Y-N (دين), menjadi sumber bagi lahirnya istilah-istilah lainnya yang mengandung keterkaitan antar satu dengan yang lain. Ibarat sebuah akar pohon yang tumbuh dan membesar membentuk cabang dan dahan pohon, din seperti akar bagi istilah-istilah yang berkembang menjadi satu kesatuan konsep besar yang terhubung dan tidak bisa dipisahkan dari konsep asalnya. Dana, da’in, dayn, daynunah, dayyan, muddun, mada’in, madinah, maddana, tamaddun ialah diantara contoh beberapa istilah yang berasal dari kata dyn  sehingga berkembang secara luas membentuk konsep din.

 

Inilah mengapa merujuk pada akar kata suatu istilah itu penting, hal ini merupakan tradisi yang dilakukan oleh para ‘ulama Islam sejak dulu dalam menelusuri pengertian sesuatu. Tidak cukup hanya dengan melalui etimologi, dalam memahami sebuah istilah, medan semantik kata juga perlu dipahami. Karenanya dalam tradisi Islam, kamus memiliki peranan penting. Hampir dua ratus tahun sekali sejak zaman Rasulullah Shalallahu ‘alayhi wa sallam lahir leksikon atau kamus besar yang bertujuan agar bahasa tetap terjaga.[4] Sebab, kerusakan ilmu yang menyebabkan rusaknya pemikiran ialah berawal dari rusaknya bahasa. Dan karenanya pembenahannya pun harus dimulai dari bahasa. Ini sebagaimana yang terjadi saat masa kedatangan Islam dahulu yang mana Islam datang dengan mengislamisasi bahasa terlebih dahulu sebelum mengislamkan individu dan masyarakat.[5]

 

Tafsiran Al-Attas mengenai pengertian dasar yang terkandung dalam istilah din ialah merujuk kepada Kamus Agung Ibnu Manzur yaitu Lisan al-‘Arab yang dinilai sangat bermutu dan merupakan suatu ukuran tetap mengenai penyusunan kata Arab.[6] Berdasarkan penjelasan Al-Attas, makna-makna utama din dapat disimpulkan menjadi empat, yaitu: (1) keadaan berhutang; (2) penyerahan diri; (3) kuasa peradilan; (4) kecenderungan alami (fithrah). Meskipun keempatnya nampak tidak berhubungan atau bahkan bertolak belakang, namun sebenarnya jika ditelaah lebih dalam keempatnya memiliki hubungan secara konseptual yang keseluruhannya membentuk satu kesatuan makna yang tidak terpisahkan.[7]

 

Dana merupakan kata kerja yang berasal dari akar kata din yang bermakna telah berhutang. Kedua pihak yang terlibat dalam hutang-piutang disebut da’in yang memiliki dua arti sekaligus yaitu pihak yang berhutang (debitor) dan pihak pemberi hutang (kreditor). Hubungan antara debitor dengan kreditor ini seperti halnya juga hubungan manusia dengan Tuhan. Manusia pada hakikatnya ialah pihak yang berhutang, dan Allah Swt sebagai Pencipta ialah Pemberi hutang bagi manusia. Hutang terbesar manusia dengan Allah ialah hutang eksistensi, yang mana eksistensi manusia meliputi aspek lahir dan bathin. Jasmani yang merupakan alat bagi manusia untuk menjalankan kehidupannya, dan ruhani seperti Aql, Qalb, Nafs, dan Ruh yang merupakan pemimpin dan pengendali jasmani manusia untuk memperoleh keuntungan bagi kehidupannya di dunia.

 

Segala sesuatu yang diberikan Allah Swt kepada manusia merupakan modal yang harus digunanakan manusia untuk meraih keuntungan. Keuntungan hanya bisa diraih jika manusia menggunakan modal yang diberikan Allah Swt itu untuk mencapai keridhoanNya dengan jalan beribadah. Ini sejalan dengan tujuan penciptaan manusia itu sendiri sebagaimana firman Allah Swt dalam Qur’an Surah Al-Dhariyat (51): 56. Bentuk hutang manusia ialah juga berdasarkan kesaksian manusia kepada Allah Swt sebelum manusia dilahirkan di dunia ini sebagaimana firman Allah Swt dalam Qur’an Surah Al-A’raf (7): 172, dimana seluruh manusia yang hendak dilahirkan di muka bumi dikumpulkan di alam ruh untuk Allah ambil kesaksian mereka semua saat  mengakui bahwa Allah lah Tuhan mereka.

 

Saat manusia lahir ke dunia, manusia tidak memiliki suatu apapun melainkan apa yang telah diberikan oleh Sang Pencipta. Karena itu pada hakikatnya manusia berada dalam keadaan merugi (QS. Al-‘Ashr (103):2), yang mana keadaan tersebut membuatnya merasa tidak berdaya untuk ‘membayar’ hutangnya kecuali dengan menyerahkan dirinya sendiri kepada Sang Pemilik dengan cara mentaati, menuruti, dan mematuhi aturan-aturan juga perintahNya serta menjauhi laranganNya.[8] Dengan cara itulah manusia memperoleh keuntungannya dalam kehidupan.

 

Dalam al-Qur’an, banyak ayat yang memuat istilah-istilah dalam perniagaan untuk menggambarkan hubungan manusia dengan Tuhan. Seperti dalam ayat 111 Surah Al-Baqarah (2) yang artinya, “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min itu diri mereka…”. Juga dalam surah Al-Baqarah (2) ayat 245 dimana dalam ayat tersebut digunakan kata yuqridu yang berasal dari kata qarada, qard dengan arti ‘pinjaman’. Pinjaman yang dimaksud dalam ayat ini tidak sama dengan pengertian hutang (dayn). Pinjaman di sini mengandung arti yaitu pengembalian sesuatu yang asalnya dimiliki oleh Sang Pemilik untuk dikembalikan lagi kepadaNya.[9] Ini menerangkan bahwa eksistensi manusia merupakan suatu pinjaman sementara dari Allah yang kelak (pinjaman tersebut) harus dikembalikan lagi kepadaNya.

 

Istilah-istilah yang digunakan dalam Al-Qur’an itu, menggambarkan satu bentuk hubungan antara manusia dengan Tuhan  yang serupa dengan hubungan perniagaan. Tetapi perniagaan antara manusia dengan Allah bukanlah perniagaan biasa seperti yang dilakukan antar sesama manusia, perniagaan dengan Allah ialah perniagaan tertinggi yang paling menguntungkan bagi manusia. Sebab, keuntungan yang didapat dari modal yang diperoleh, akan Allah berikan sepenuhnya kepada manusia berikut dengan balasan Allah atas keuntungan yang didapatkannya itu. Perniagaan yang tidak akan pernah rugi ini sebagaimana yang terkandung dalam firman Allah Swt dalam Qur’an Surah Fathir ayat 29-30.

 

Sedangkan sebaliknya, jika selama di dunia manusia tidak menggunakan modal berupa dirinya sendiri dan juga waktu yang telah diberikan dengan sebaik-baiknya, maka pada hari peradilan (yawmiddin), segalanya akan Allah minta pertanggung jawabannya untuk diberikan balasan dari perbuatannya itu. Dalam al-Qur’an, mereka disebut sebagai orang-orang lalai yang digambarkan seperti hewan ternak bahkan lebih rendah lagi (QS. Al-A’raf: 179), karena apa yang diberikan Allah pada manusia berupa Aql dan Qalb tidak diberikan pada hewan dan makhluk lainnya yang seharusnya menjadikan manusia taat dan tunduk pada segala perintah dan kehendak Allah yang sejatinya akan memberikan keuntungan bagi manusia itu sendiri.

 

Din juga bermakna penyerahan diri. Penyerahan diri yang dimaksud bukanlah seperti penyerahan diri budak kepada tuannya, atau penyerahan diri yang sifatnya sementara atau bahkan dengan terpaksa. Penyerahan diri yang sejati merupakan penyerahan diri yang didasarkan atas kesadaran ilmu dan mengehendaki dengan suka rela penyerahan dirinya dalam aspek lahir maupun bathin, penyerahan diri melalui hati yang diejawantahkan melalui tindakan dan perilaku. Penyerahan diri seperti ini pada kehendak, aturan dan hukum-hukum Allah Swt merupakan hasil dari seseorang yang melaksanan din. Hanya dengan cara ini seseorang meraih kebebasannya sebagai manusia yang menjadi jalan bagi kebahagiaan dirinya.[10]

 

Dalam kaitannya dengan makna din, ‘abid adalah istilah yang paling tepat untuk mewakili konsep penyerahan diri yang sepenuhnya. ‘abid (hamba) berbeda dengan khadim yang bermakna pelayan, ‘abd ditujukan pada seseorang yang menyadari keberhutangan dirinya pada Sang Pemilik, Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga apa yang dilakukannya dalam rangka mengabdi dan menyerahkan dirinya pada Allah Swt sesuai dengan aturan-aturanNya disebut sebagai ‘ibadah. Dengan ini jalan seorang hamba memenuhi tujuan dari penciptannya di dunia.[11]

Makna penyerahan diri juga terkandung dalam kata Islam. Islam yang berasal dari kata aslama mempunyai 3 pengertian: (i) sebagai kata benda; (ii) berserah diri (aslama) sebagaimana yang terkandung dalam Qur’an Surah Al-Nisa (4) ayat 125, dan; (iii) sebagai nama agama dimana hanya Islam-lah nama agama yang diberikan langsung oleh Allah Swt. Ini diantara yang membedakan Islam dengan agama-agama lainnya yang penamaannya berasal dari pemberian pengikut, hasil kesepakatan bahkan pemberian dari musuh agama tesebut. Ini menjelaskan bahwa hanya Islam-lah din yang ridhoi di sisi Allah sebagaimana firman Allah dalam Qur’an Surah Ali ‘Imran (3) ayat 19 yang artinya, “Sesungguhnya agama (ad-din) di sisi Allah adalah Islam…”

                Selanjutnya, din yang bermakna kuasa peradilan merujuk pada hari peradilan dan perhitungan seluruh manusia atas modal yang telah digunakannya selama di dunia. Hari ini disebut sebagai yawmiddin atau yawmul hisab. Salah satu pengetian din ialah juga  perhitungan yang benar (hisab al-sahih) yang memastikan ukuran atau timbangan sesuatu di tempatkan dengan tepat dan akurat.[12] Dalam konsep din juga terkandung istilah dayyan yang merupakan salah satu dari nama Allah (al-Dayyan) sebagai Hakim Agung yang akan membuat perhitungan dan pembalasan kelak di yawmuddin atas hasil perniagaan yang dilakukan manusia. Karenanya din juga bermakna konsep peradilan.

Din yang bermakna fithrah berarti kecenderungan alami yang menjadi bawaan setiap diri manusia sejak ia memberikan kesaksian pada masa sebelum kelahirannya di dunia. Sebagaimana dijelaskan melalui firman Allah Swt dalam Qur’an Surah Al-A’raf (7): 172 yang artinya, “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi…”. Penyerahan diri manusia atas segala aturan dan hukum-hukum Allah ialah bentuk dari pengejawantahan atas kesaksian yang pernah ia lakukan dahulu. Hal ini lah yang pada hakikatnya dituntut oleh dirinya sendiri sebagai pemenuhan dari fithrah dirinya yang melaluinya seseorang akan mendapatkan ketenangan.

Sebaliknya, bila seseorang memungkiri perjanjian dengan Tuhannya itu sehingga tidak mengindahkan aturan serta kehendak Allah dalam kehidupannya, maka sesungguhnya ia tidak akan memperoleh ketenangan melainkan kegelisahan yang tiada berkesudahan seperti gelisahnya orang yang tidak mengembalikan pinjaman kepada pihak yang memberikannya pinjaman. Ini seperti apa yang terjadi dalam masyarakat Barat yang memandang kehidupan sebagai suatu tragedi dengan memungkiri adanya yawmiddin dan alam akhirat sebagai kehidupan yang sejati setelah kehidupan di dunia ini berakhir.[13] Bentuk pemungkiran mereka pada hukum, aturan dan kehendak Allah ialah berarti bentuk perlawanan mereka terhadap fithrah diri mereka sendiri. Hal tersebut tidak akan mendatangkan ketenangan bagi diri mereka.  Sebaliknya, mereka akan memperoleh kegelisahan dan kekacauan karena telah membuat rugi dengan menzalimi dirinya sendiri.

Din, Madinah, dan Tamaddun

Kata kerja dana yang berasal dari kata dyn berkembang menjadi istilah muddun atau mada’in yang berarti kota-kota yang memiliki aturan kehidupan bermasyarakat dimana di dalamnya terdapat kegiatan perdagangan atau perniagaan yang juga diatur melalui undang-undang. Istilah din juga lah yang menjadi asal bagi lahirnya istilah madinah tepatnya madinatu’l-Nabiyy yang mana menjadi nama kota setelah Nabi Muhammad Shalallahu ‘alayhi wa sallam hijrah dari Mekkah.[14] Peristiwa ini bukan saja mengandung makna zahir sebagai perubahan nama kota yang sebelumnya bernama Yathrib menjadi madinah tetapi ia juga memuat makna terwujudnya sebuah kota yang diisi oleh penduduknya yang telah memeluk dan menegakkan din dalam diri mereka dan diamalkan melalui kehidupannya.

Hal ini dengan serta merta menolak upaya-upaya penyamaan antara konsep masyarakat madani dengan civil society yang lahir di Barat atas reaksi masyarakat Barat terhadap doktrin gereja.[15] Civil society yang mendasarkan kontrak sosial (social contract) sebagai panduan dalam pembuatan aturan dan undang-undang dalam bermasyarakat, bertolak belakang dengan konsep masyarakat madani dimana segala aturan dan landasan hukum yang dijalankan ialah bersumber daripada din al-Islam. Konsep madani menghendaki suatu kota mewujudkan suatu sistem sosial yang selaras dengan tuntutan din yang telah sebelumnya tegak pada diri para penduduknya.

Kerja-kerja dalam membina suatu kota agar menjadi kota yang sejahtera karena ketinggian adab dan budipekerti yang terpantul melalui pribadi-pribadi penduduknya disebut maddana yang selanjutnya membentuk istilah tamaddun sebagai perwujudan dari keadaan yang dituju itu secara bergenerasi.[16] Ini menunjukkan bahwa din melingkupi juga kehidupan sosial dalam masyarakat kolektif pada tataran negara dan peradaban yang terbentuk dari individu-individu yang telah berhasil mewujudkan din dalam kehidupan mereka. Inilah mengapa Islam mengutamakan individu yang berkualitas, yang bersungguh-sungguh dan benar-benar berusaha menegakkan din dalam diri mereka sebagai bentuk pengembalian hutang yang telah diberikan Allah Swt kepada manusia. Berbeda dengan masyarakat Barat yang menuntut terwujudnya masyarakat dan negara yang baik, tanpa menekankan pentingnya kualitas pribadi yang menjadi pembentuk utama bagi hadirnya masyarakat itu sendiri. Karena masyarakat yang baik hanya akan lahir dari kumpulan manusia-manusia yang baik pula, yang sadar akan peranannya dan kerap berusaha menunaikan tujuan penciptaannya di dunia. Karena itu peradaban yang maju dalam Islam diukur dari sejauh mana dinul Islam tegak dalam peradaban tersebut.

Wallahu a’lam bishshawab

(Sakinah Fithriyah/PIMPIN)

[1] Usep Mohamad Ishaq, Konsep Din, disampaikan dalam kuliah The Worldview of Islam Institut Pemikiran Islam dan Pembangunan Insan (PIMPIN) tanggal 22 November 2013. Selanjutnya ditulis menggunakan nama akhir pembicara dan tahun perkuliahan ini dilangsungkan.

[2] Ibid.

[3] Ibid.

[4] Ishaq (2013)

[5] Ibid.

[6] Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam: Faham Agama dan Asas Akhlak, (Kuala Lumpur: IBFIM, 2013), hlm. 3.

[7] Syed Muhammad Naquib al-Attas. Islam dan Sekularisme (Bandung: PIMPIN, 2011), hlm. 63.

[8] Ibid., hlm. 70.

[9] Ibid., hlm. 73.

[10] Ibid., hlm. 77.

[11] Ibid., hlm. 75.

[12] Syed Muhammad Naquib al-Attas. Islam dan Sekularisme (Bandung: PIMPIN, 2011), dalam catatan kaki no. 65 hlm. 74.

[13] Ishaq (2013)

[14] Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam: Faham Agama dan Asas Akhlak, (Kuala Lumpur: IBFIM, 2013), dalam catatan kaki no. 3 hlm. 7.

[15] Ishaq (2013)

[16] Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam: Faham Agama dan Asas Akhlak, (Kuala Lumpur: IBFIM, 2013), hlm. 8

author
No Response

Leave a reply "Ringkasan Mengenai Konsep Din"