Dauroh “Islamisasi Ilmu Sebagai Program Pendidikan dan Pembangunan

Ahad 15 September 2013, Institut Pemikiran Islam dan Pembangunan Insan (PIMPIN) Bandung menyelenggarakan Dauroh yang diberi tema “Islamisasi Ilmu Sebagai Program Pendidikan dan Pembangunan”. Acara yang menghadirkan Prof. Madya Dr. Khalif Muammar sebagai pembicaranya ini dihadiri oleh kurang lebih 30 peserta. Umumnya mereka yang hadir adalah para mahasiswa dari berbagai kota, seperti Jakarta, Bandung, dan Tasikmalaya.

Dalam pemaparannya, Dr. Khalif Muammar menyampaikan bahwa permasalahan terbesar kemunduran umat Islam saat ini ialah bersumber dari kerusakanilmu. Sehingga, mengharuskan persoalan keilmuan dijadikan konsentrasi utama dalam upaya membangun kembali peradaban Islam yang gemilang. Sebagaimana yang pernah berlaku dahulu di Andalusia, dimana kegemilangan peradaban Islam dibina bukan dicapaidengan kekerasan, melainkanbertumpu kepada ilmu dan pendidikan.

Dr. Khalif Muammar menyampaikan bahwa peradaban Islam ialah seperti sebuah pohon, yang saat ini pohon tersebut dalam keadaan kering, karena itu merupakan peran dan tanggung jawab setiap individu muslim untuk membuat pohon itu subur dan bermanfaat kembalidengan cara memberikan tumpuan utama pada akarnya.Sebab, ilmu layaknya akar sebuah pohon, pohon yang subur adalah yang akarnya menghujam ke bumi dan dahannya menjulang ke langit. Karenanya, memberi perhatian utama pada penyelesaian masalah kerusakan ilmu ini adalah berarti mempersiapkan akar yang kuat bagi pohon peradaban yang kelak tumbuh subur dan kokoh.

Permasalahan rusaknya ilmu yang berdampak pada kerusakan di berbagai bidang kehidupan ini adalah bersumber dari pemikiran individu yang sudah tidak lagi mengenali dan memahami konsep-konsep dasar yang terpancar melalui pandangan alam (worldview) Islam. Sehingga makna-makna fundamental yang menjadi elemen dasar pandangan alam Islam ditafsirkan melalui pandangan hidup Barat, yang pada tataran filosofis memiliki banyak perbedaan prinsipbahkan bertolak belakang dengan Islam, ditambah manajemen dan disiplin diri umat Islam yang lemah, sehingga membuat umat Islam tidak mampu memimpin di segala bidang.

Institusi pendidikan yang berorientasi pada keterampilan (skill) dan bukan ilmu (knowledge), menjadi permasalahan serius sebagai dampak dari kerusakan ilmu. Kurikulum yang dikotomis melahirkan sarjana-sarjana yang hanya berkutat pada bidangnya saja, tanpa memahami keterkaitan dengan bidang-bidang lain sehingga tidak menyadari letak dan peranannya dalam membangun peradaban Islam.Gagasan besarislamisasiini dianggapolehsebagiankalangansebagaiusaha yang tidak praktikal, sehingga tidak mendapatkan tempat yang semestinya. Sedangkan persoalan cabang (furu’) dibesarkan sehingga menjadi penyebabterjadinya pecah belah umat. Juga fanatisme yang menghinggapi berbagai kelompok maupun organisasi Islam,kian mengaburkan umat Islam dari persoalan pokok yang seharusnya menjadi konsentrasi utama.

Ditengah permasalahan umat yang begitu parah ini, Islamisasi Ilmu menjadi satu upaya yang harus diperjuangkan dalam proses pembangunan umat, juga sebagai bentuk perlawanan terhadap sekularisasi yang didengungkan Barat. Islamisasi mengharuskan setiap individu muslim menerima faham yang benar mengenai konsep-konsep yang terkandung dalam pandangan alam Islam,menghapus segala keragu-raguan dan kepalsuan, danmembasmi beragam penyakit dalam pikiran dan jiwa, sehingga darinya terbina insan-insan yang sadar letak dan peranan, beradab dalam setiap sisi kehidupan dan memahami hakikat tujuan penciptaannya.

Islamisasi ilmu juga meliputi perbaikan dalam institusi pendidikan, khususnya filsafat pendidikan dan matlamat (tujuan) akhir dari pendidikan itu sendiri. Yang berorientasi pada pembinaan insan dengan tujuan menghasilkan insan-insan yang sholeh, mengetahui letak diri dan tahu apa yang semestinya dilakukan.

Ini perlunya umat Islam kembali kepada tradisi keilmuan Islam, dengan cara mengkaji dan menggali kitab-kitab para ‘ulama dahulu yang telah menghabiskan seluruh masadalamhidupnya untuk mendalami ilmu dan menyebarkan melalui karya-karya yang ditulisnya.“Umat Islam seperti sebuah pohon yang tercabut dari akarnya, padahal akarnya ada pada kitab-kitab ‘ulama Islam masa silam.” Ungkap priakelahiran Bandung yang saat ini tengah menjabat sebagai koordinator akademik dan penyelidikan di CASIS-UTM.WaAllahua’lam. (Laporan : Sakinah Fitriyah/PIMPIN)

author
No Response

Leave a reply "Dauroh “Islamisasi Ilmu Sebagai Program Pendidikan dan Pembangunan"