Tamaddun Islam di Alam Melayu: Perspektif Historis

Dalam acara seminar Kepemimpinan Muslim Muda Indonesia-Malaysia yang diadakan di Institut Pertanian Bogor, pada Rabu (06/11/2013) kemarin, Muhammad Zainiy Uthman, seorang profesor di Center for Advanced Studies on Islam, Science and Civilisation (CASIS)-Universiti Teknologi Malaysia, memaparkan mengenai Tamaddun Islam di Alam Melayu berdasarkan perspektif historis, dengan memusatkan Batu Bersurat Trengganu sebagai objek kajian dan syarahannya. Dimana melalui batu yang dipahatkan sekitar tahun 1303 Masehi atau sekitar abad ke-8 Hijriyah yang menjadikannya sebagai aksara Jawi tertua di Alam Melayu, dapat ditarik kesimpulan bagaimana keadaan Tamaddun Islam di alam Melayu saat itu.Tamaddun Islam di Alam Melayu: Perspektif Historis

 Islam telah merubah rupa dan jiwa suku-suku kaum di Alam Melayu menjadi satu bangsa salah satunya yaitu melalui peranan bahasa. Ini artinya, Islam bukan hanya merubah bentuk (rupa) tapi juga merubah makna (jiwa) masyarakat yang berada dalam wilayah tersebut dari kesan kebudayaan, agama dan falsafah hidup sebelumnya. Hal ini nampak dari bahasa yang digunakan dalam penulisan Batu Bersurat Trengganu yaitu bahasa Jawi yang ditulis dengan aksara Arab. Menurut Prof. Zainy, Jawi adalah sinonim nama bangsa dan bahasa Melayu sebagaimana hari ini.

 Melalui peranan Islam, bahasa Melayu mengalami perubahan dan perolahan dengan bertambah banyaknya perbendaharaan sehingga menjadi bahasa yang memiliki nilai sastra tinggi dan berdaya mengurai berbagai konsep berdasarkan pemikiran-pemikiran yang rumit sehingga membuatnya terpilih menjadi bahasa umum suatu bangsa sekaligus menjadi bahasa pengantar utama dalam penyebaran Islam di tanah Melayu.

 Hasil perolahan bahasa ini disajikan melalui tulisan Jawi yang saat itu menjadi tulisan resmi antarbangsa. Melalui ini, Prof. Zainiy menyimpulkan bahwa Islam telah melakukan globalisasi bahasa melalui tulisan.

 Meskipun dalam batu tersebut, ditemukan juga bahasa yang masih sarat oleh kesan kebudayaan sebelumnya (Hindu-Buddha) seperti penulisan Tuhan yang diwakili melalui istilah Dewata Mulyaraya, tetapi ini menjadi bukti bahwa proses Islamisasi dilakukan secara bertahap dengan mula-mula merubah makna atau konsep asal suatu istilah sebelum merubah dan menggantinya dengan istilah lain. Ini menandakan, proses perubahan worldview (pandangan alam) masyarakat Melayu saat itu lebih diutamakan untuk diIslamkan lebih dulu daripada aspek zahir lainnya.

 Melalui Batu Bersurat Trengganu ini juga terlihat bahwa dari segi ilmu pengetahuan, Islam sudah lebih dulu memimpin. Hal ini nampak dari penyertaan waktu pada tulisan dalam batu tersebut dimana letak kedudukan bulan sudah diketahui secara benar dan tepat. Menurut Prof. Zainiy, peradaban Islam saat itu sudah lebih menguasai ilmu astronomi dibanding dengan peradaban lainnya, bahkan kemajuan ini diperkirakan 300 tahun mendahului masa ‘keemasan’ Galileo.

 Prof. Zainiy menegaskan, bahwa apa yang berlaku di Alam Melayu pada masa awal kedatangan Islam memberikan pengaruh besar bukan saja pada persekitaran wilayah Kepulauan Melayu, melainkan juga peradaban dunia seluruhnya.

 “Islam di Alam Melayu adalah Islam global, karena sejarah Islam berarti juga sejarah dunia.” Tegasnya sebelum menutup sesi yang mengundang antusiasme para peserta ini.

 Rep: Sakinah Fithriyah

Editor: Sarah Mantovani

author
No Response

Leave a reply "Tamaddun Islam di Alam Melayu: Perspektif Historis"