Pengaruh Worldview Ateis dalam Psikologi Modern

Pengaruh Worldview Ateis dalam Psikologi Modern

Oleh: Rushdi Kasman, S.Psi. M.Pd

Peneliti PIMPIN, Dosen UIKA

 

Pendahuluan

Pada abad 19 Wilhelm Wundt (1879) membuka laboratorium psikologi pertama di Leipzig Jerman,[1] situasi tersebut menjadi titik awal kebangkitan Ilmu Psikologi Ilmiah. Sebuah era di mana ilmu psikologi tidak terikat lagi dalam bingkai keilmuan Filsafat, yang dianggap terlalu spekulatif dan tidak emperistik. Beragam konsep dan metode tergagas mewarnai kajian-kajian tentang “manusia” sebagai objek materialnya. Situasi ini kemudian melahirkan banyak pakar yang concern dalam pengkajian ilmu psikologi, seperti Stanley Hall, Alfred Binet, Sigmund Freud, Watson, Erich Fromm hingga Abraham Maslow. Akan tetapi, dalam perkembangannya, hanya terdapat tiga mazhab (three force) yang termahsyur dalam dunia Psikologi, yaitu Psikoanalisa yang digagas oleh Sigmund Freud, Behaviorisme oleh James Watson dan Humanistik oleh Abraham Maslow, namun saat ini ada sebuah aliran terbaru yang disebut-sebut sebagai mazhab ke empat dalam dunia psikologi kontemporer, yaitu Psikologi Transpersonal.             Pengaruh ketiga mazhab ini tidak sekedar mewarnai wacana dan konstelasi pemikiran keilmuan psikologi di Amerika dan Eropa (Barat), lebih dari itu pengaruhnya melintas batas benua, bangsa dan budaya. Maka, tidak mengherankan apabila disaat kita mempelajari ilmu psikologi modern --dalam bingkai kultur keindonesiaan-- dominasi pemikiran psikologi Barat dijadikan rujukan utama karena dianggap rasional, empiris, objektif dan ilmiah.

Ateisme dalam Psikologi Barat Modern; Kritik Worldview

Hegemonisasi Psikologi Barat dalam kencah pemikiran Psikologi Modern  tidak dapat dipungkiri. Hampir seluruh buku-buku rujukan Psikologi hampir seratus persen didominasi pemikiran para psikolog Barat. Situasi ini tentunya bisa berdampak buruk bagi seorang Muslim, sebab perkembangan psikologi barat bersifat statis dan sangat dipengaruhi worldview barat itu sendiri. Worldview atau pandangan Alam secara bahasa diartikan sebagai suatu pandangan seseorang dunia dan tentang kehidupan. Dalam kajian filsafat lebih merujuk pada pengertian pandangan hidup, filsafat hidup atau prinsip-prinsip hidup. Setiap orang, masyarakat, bangsa atau umat memiliki worldview, terlepas dari pengertian benar dan salah, luas dan sempit, serta mendalam dan dangkal.[2]

Menurut Ninian Smart, pakar kajian perbandingan agama, menjelaskan makna worldview sebagai, kepercayaan, perasaan dan apa-apa yang terdapat dalam pikiran orang yang berfungsi sebagai motor bagi keberlangsungan dan perubahan sosial dan moral.[3] sedangkan Alparsan Acikgence, menyatakan bahwa worldview itu terbentuk dalam pikiran manusia menurut ide-ide kultural, saintifik, keagamaan dan spekulatif melalui pendidikan atau upaya-upaya sadar untuk memperoleh ilmu atau keduanya sekaligus.[4]

Dalam Islam worldview memiliki arti tersendiri, menurut Sayyid Quthb worldview Islam adalah at tasawwur al islami, yang berarti akumulasi dari keyakinan asasi yang terbentuk dalam pikiran dan hati setiap Muslim, yang memberi gambaran khusus tentang wujud dan apa-apa yang berada dibalik itu.[5] Sedangkan menurut Syed Muhammad Naquib Al Attas, worldview Islam diartikan sebagai pandangan Islam tentang realitas dan kebenaran yang tampak oleh mata hati kita dan yang menjelaskan hakikat wujud; oleh karena sesuatu yang dipancarkan Islam adalah wujud yang total, maka worldview Islam berarti pandangan Islam tentang wujud (ru’yat al islam lil al wujud).[6] Cara pandang alam (worldview) memiliki peran mendasar dalam konstruk kerangka epistemologi suatu ilmu, tak terkecuali ilmu psikologi. Olehnya itu, latar belakang budaya dan kepercayaan masayarakat barat yang ateistik-sekularistik tentunya memiliki korelasi signifikan dalam mempengaruhi epistemologi ilmu psikologi modern (psikologi popular) yang berkembang saat ini.

Jika ditelusuri lebih mendalam, akar pemikiran yang terbangun dalam psikologi barat saat ini tidak terlepas-pisahkkan dari sejarah awal kelahirannya. Menurut Fritjof Capra, akar-akar historis (psikologi) biasanya ditelusuri kembali ke filsafat-filsafat Yunani kuno. Empedocles misalnya, mengajarkan suatu teori materialistic tentang jiwa, yang percaya bahwa semua pikiran dan persepsi itu tergantung pada perubahan tubuh. Sebaliknya Phytagoras dan Socrates menguraikan jiwa lebih kedalam ranah mistik. Plato secara rinci membahas menganai “kesadaran” (Conscious) sedangkan Aristotle mengembangkan pendekatan biologi dan materialistik yang kemudian banyak diadopsi oleh Kaum Stika. Pandangan tersebut kemudian mendapat serangan tajam dari kaum Plotinus yang memandang jiwa bersifat immateri dan kekal.[7] Pertentangan ini kemudian berlanjut hingga abad pertengahan. Pada abad ke 13, Thomas Aquinas memadukan sistem alam Aristoteles dan Gereja.[8] Kondisi ini berlangsung selama abad pertengahan. Paradigma Aquinas mengalami perubahan drastis pada akhir abad 16 dan awal abad 17. Pada masa itu, fisika dan astronomi mencapai puncaknya, yang digagas oleh Copernicus, Gelileo dan Newton. Pengaruh paradigma saintis a la Newton yang dianggap obyektif, empiris dan ilmiah ternyata berdampak hingga kedalam ilmu Psikologi. Pada awal abad 19, terinspirasi dari paradigma sains Newton, Wilhelm Wundt membuka Laboratorium Psikologi untuk menganalisis tingkah laku manusia dan binatang melalui metode eksperimen. Pada titik inilah, psikologi yang awalnya merupakan kajian holistik digiring kedalam ranah sains dan menghapus agama dalam kajiannya. Robert W. Crapps (dalam Baharudin) mengungkapkan, “During the formative decades of scientific psychology, religion did not occupy a significant place in the concern of researchers[9]

Epistemologi psikologi barat modern yang berkembang saat ini sangat positivistik dan humanistik-sekularistik. Kesemuanya terbentuk dari cara pandang alam (worldview) barat yang ateistik. Menurut Mulyadhi Kartanegara, psikologi barat telah mengalami reduksi dan degradasi yang parah[10] karena menafikan keberadaan Tuhan (Ateistik) sehingga berdampak terhadap pemahaman eksistensi (wujud) manusia semata-mata substansi materil belaka dan menjadikan manusia tidak lebih dari “robot” yang mudah dikontrol dan diprogram, bukan makhluk Allah yang kreatif dan berkehendak. Pengaruh worldview ateistik dalam psikologi barat modern sangat mudah dilacak melalui karya-karya pemikirnya.

Aliran Psikonalisa Sigmund Freud merupakan salah satu aliran atau madzhab psikologi terbesar, terkemuka dan masih digandrungi dalam diskursus kajian psikologi kontemporer. Selain dikenal dengan pemahaman potensi libido seksual (Id), psikoanalisa kental dengan paradigma ateistik. Freud pernah mengungkapkan, “sesungguhnya agama-agama manusia harus diklasifikasikan sebagai salah satu halusinasi dari halusinasi khalayak umum. Ia pun menambahkan, manusia layaknya anak kecil yang sangat membutuhkan kasih sayang seorang ayah. Karenanya, mereka menciptakan ide adanya Tuhan. Dengan demikian, Tuhan dalam persepsi mereka layaknya ayah.”[11] Bagi Freud, pandangan tentang kepercayaan terhadap Tuhan dan doktrin-doktrin agama hanyalah sebuah delusi dan ilusi.[12] Yang terkategorikan sebagai gangguan jiwa. Menurut Freud, hampir semua gangguan psikis adalah akibat konflik seksual. Maka terapinya digiring pada prinsip kesenangan dan prinsip realitas, tanpa harus memperhatikan norma-norma ketuhanan.

Tidak berbeda jauh dengan aliran Psikoanalisa, aliran Behaviorisme yang sangat mengagungkan objektifitas dan emperisme a la Thomas Hobbes dan La Miettrie, telah menafikan Tuhan dalam konsep pemahaman tentang manusia. Bagi Watson dan kawan-kawan, aspek empiristik merupakan identitas keilmiahan, sedangkan Tuhan merupakan wujud yang tidak dapat diinderawi secara empiris. Oleh karena itu, aliran behaviorisme tidak memasukan “faktor” Tuhan sebagai “pihak” yang menentukan perilaku manusia.[13] penafian Tuhan sebagai “wujud” mutlak yang menentukan perilaku manusia a la kaum Behavioris telah menempatkan manusia dalam derajat yang sangat rendah. Manusia dipandang sebatas makhluk yang mudah diprogram dan dikontrol, serta menyamaratakan antara manusia dengan binatang, sehingga menghilangkan unsur “jiwa” (An Nafsiyyah) sebagai substansi utama pada manusia itu sendiri.

Meskipun mendapat apresiasi yang cukup besar dari pakar psikologi barat dan timur, bukan berarti kedua paham psikologi terkemuka itu (psikoanalisa dan behaviorisme) tidak mendapat kritikan. Abraham Harold Maslow, adalah salah satu psikolog Amerika yang serius mengkritisi konsep manusia yang dikembangkan kaum Psikoanalisa dan Behaviorisme, yang terlalu neurosis dan mekanistik. Maslow kemudian menggagas sebuah paradigma terbaru dalam psikologi, yaitu psikologi  Humanistik. Sekilas, psikologi  Humanistik sangat humanis atau manusiawi, karena mengembalikan “manusia” pada tempatnya. Psikologi Humnistik memandang manusia adalah makhluk yang berkemampuan (potensi)[14], bukan robot atau individu yang neurosis atau sakit jiwa. Manusia adalah makhluk yang mandiri, sadar, menentukan dan pusat dari segalanya, yang dijuluki the self determining being. Ia merupakan the center of relatedness, kata Erich Fromm. Jadi, filsafat yang mendasari psikologi humanistik bercorak anthropo-sentris. [15]

Pandangan Anthropo-sentris (anthropo = manusia. sentris = pusat) psikologi Humanistik yang memandang manusia sebagai pusat dari segala-galanya dan sebagai ukuran kebenaran (relativisme) tentunya sangat berbahaya bagi aqidah seorang muslim, sebab dapat mengabsurdkan kebenaran mutlak (Allah). Tuhan dianggap tidak memiliki peran apapun dalam menentukan nilai benar-salah, baik-buruk dan nilai-nilai lainnya.

Selain itu, dalam konsep “hirarki kebutuhan Maslow” (Maslow’s Hierarchy of Needs) Maslow menempatkan Aktualisasi Diri (self actualization) sebagai kebutuhan tertinggi. Maslow berasumsi bahwa “para nabi yang mengalami pengalaman itu memiliki pengalaman yang sama dan menjadikan yang mengalami, menemukan dan mengembangkannya menjadi agama. Bagi Maslow, sumber pengalaman keagamaan itu dapat terwujud baik itu dalam ajaran agama teistik maupun non-teistik: baik itu Kristen, Yahudi, Islam dan lainnya, bahkan kaum atheistik sekalipun”.[16]

Jadi, meskipun Maslow berupaya mengembalikan pandangan tentang manusia ke tempat yang manusiawi, yang berbeda dengan pandangan kaum Freudian dan Behavioris, akan tetapi Maslow terjebak dalam pandangan yang anthroposentris dan over optimistic, yang menjadikan manusia sebagai ukuran segala-galanya dan menafikan Tuhan sebagai Zat yang berkehendak.

Cara pandang alam (worldview) pada psikologi modern yang berkembang saat ini, tidak dapat dipungkiri, sarat dominasi pemikiran psikolog barat yang subjektif, yang terpengaruh latar sosio-kulturalnya. Jauh dari klaim-klaim ilmiah, rasional, objektif dan empiris dan dipengaruhi pemikiran ateisme-sekular yang melatar belakangi budaya, kepercayaan dan keyakinan yang berkembang di barat. Oleh karena itu sebagai seorang Muslim maupun psikolog Muslim, kita perlu mengedepankan sikap kritis terhadap kerangka epistemologi dan metode psikologi modern atau psikologi popular yang berkembang saat ini, yang secara substantif terlahir dari cara pandang alam (worldview) yang jauh berbeda dengan worldview Islam. Hal ini bukan berarti kita bersikap nihilisme, menolak semua dari barat, akan tetapi kita ingin mengembalikan dan menempatkan eksistensi “Manusia/al Insaniyyah” kembali kepada kedudukan yang sepantasnya, sebagai insan kamil, insan yang bertauhid dan sebagai khalifah fil ardh, bukan makhuk yang berpenyakit, ateistik maupun mekanistik. Wallahu ‘alam ‘indallah.

Penulis

Rusdi Kasman

Mara’ji

Al Attas, Syed M. Naquib.2001. Prolegomena to Metahphysics of Islam, ISTAC: Kuala Lumpur.

Acikgence, Alparslan .Islamic Science, Kuala Lumpur.

Baharuddin.2007. Paradigma Psikologi Islami: studi tentang Elemen Psikologi dari Al Qur’an, Pustaka Pelajar: Yogyakarta

Bastaman, Hanna Dujmhana. 1994. Membangun Paradigma Psikologi Islami: Dari Anhtroposentris ke Anthroporelegiosus-Sentris, (editor Fuat Nashori), Sipress: Yogyakarta.

Goble, Frank G. 1987. Mazhab Ketiga: Psikologi Humanistik Abraham Maslow, Kanisius:Yogyakarta.

Capra, Fritjof.2004. The Turning Point: Science, Society and The Rising Culture. Diterjemahkan oleh M. Thoyibi, Titik Balik Peradaban: Sains, Masyarakat dan Kebangkitan Kebudayaan, Bentang: Yogyakarta

Kartanegara, Mulyadhi. 2005. Integrasi Ilmu: sebuah Rekonstruksi Holistik, Arasy Mizan: Bandung.

Najati, Utsman.2002. Ad Dirasat An Nafsaniyyah ‘inda ala ‘Ulamaa’ al Muslimin. Diterjemahkan oleh Gazi Saloom, Jiwa dalam Pandangan Para Filosof Muslim, Pustaka Hidayah, Bandung.

Purwanto, Yadi.2007. Epistemologi Psikologi Islami: Dialektika Pendahuluan Psikologi Barat dan Psikologi Islami, Refika Aditama: Bandung.

Taufiq, Muhammad Izzuddin.2006. At Ta’shil al Islami lil Dirasat an Nafsiyah. Diterjemahkan oleh Sari Narulita, Panduan Lengkap dan Prkatis Psikologi Islam, GIP: Depok

Zarkasyi, Hamid Fahmi.2010. Membangun Peradaban dengan Ilmu: Membangun Kembali Peradaban Islam secara Sinergis, Simultan dan Konsisten, Depok: Kalam UI

Sukanto MM.1994. Membangun Paradigma Psikologi Islami, (Editor Fuat Nashori), Sipress: Yogyakarta.


[1] Sebelum Wilhelm Wundt membuka laboratorium psikologinya, Abu Bakar Ar Razi (864-925 M) telah mendahuluinya, Beliau (Ar Razi) seorang dokter dan Psikolog, terkemuka di zamannya telah lebih dahulu membuka ruangan khusus untuk melakukan praktek  penyembuhan psikologis secara ilmiah di Rumah Sakit di Baghdad. Lihat: kitab Ad Dirasat An Nafsaniyyah ‘inda ala ‘Ulamaa’ al Muslimin, Penulis, Utsman Najati (terj: Jiwa dalam Pandangan Para Filosof Muslim, Pustaka Hidayah, Bandung, 2002)  dan  Ibrahim B Syed, Islamic Medicine: 1000 years ahead of its times, (article)

[2] Disarikan dari, Hamid Fahmi Zarkasyi: “Worldview sebagai Asas Epistemologi Islam” dalam Islamia, thn, II, No. 5, 2005, h. 10-12

[3] Hamid Fahmi Zarkasyi, Membangun Peradaban dengan Ilmu: Membangun Kembali Peradaban Islam secara Sinergis, Simultan dan Konsisten, Depok: Kalam UI, h. 143.

[4] Alparslan Acikgence, Islamic Science, h.15

[5] Op.Cit., h. 145

[6] Syed Muhammad Naquib Al Attas, Prolegomena to The Metaphysics of Islam, Kuala Lumpur: ISTAC, h. 2

[7] Fritjof Capra, Titik Balik Peradaban, Bentang: Yogyakarta, h. 1188-190

[8] Ibid., 43

[9] Baharuddin, Paradigma Psikologi Islami: studi tentang Elemen Psikologi dari Al Qur’an, Pustaka Pelajar: Yogyakarta, h. 3

[10] Mulyadhi Kartanegara, Integrasi Ilmu: sebuah Rekonstruksi Holistik, Arasy Mizan: Bandung, h. 179

[11] Muhammad Izzuddin Taufiq, At Ta’shil al Islami lil Dirasat an Nafsiyah (lihat terj. Panduan Lengkap dan Prkatis Psikologi Islam), GIP: Depok, h. 428

[12] Sukanto MM, Membangun Paradigma Psikologi Islami, Sipress: Yogyakarta, h. 40 dan Yadi Purwanto, Epistemologi Psikologi Islami: Dialektika Pendahuluan Psikologi Barat dan Psikologi Islami, Refika Aditama: Bandung, h. 107

[13] Ibid.

[14] Frank G.  Goble, Mazhab Ketiga: Psikologi Humanistik Abraham Maslow, Kanisius:Yogyakarta, h. 95

[15] Hanna Dujmhana Bastaman, Membangun Paradigma PSikolig Islami: Dari Anhtroposentris ke Anthroporelegiosus-Sentris, Sipress: Yogyakarta, h. 83.

[16] Lihat Edy Nasrul: “Meninjau Kembali Pengalaman Puncak Abraham Maslow” Islamia, thn. III, no 4, 2008, h. 108

No Response

Leave a reply "Pengaruh Worldview Ateis dalam Psikologi Modern"