Sains dan Islam: Sejarah, Konsep, dan Masa Depan

1 comment 348 views

Sekilas Sejarah Sains Dalam Peradaban Islam

Kontribusi Ilmuwan Muslim dalam bidang sains[2], khususnya ilmu alam (natural science)  amatlah besar, sehingga usaha menutupinya, memperkecil perannya, mengaburkan sejarahnya tidak sepenuhunya berhasil.  CIPSI (Center for Islamic philosophical studies and information) sebuah lembaga penelitian yang dipimpin oleh Prof. Mulyadhi Kartanegara telah meninventarisasi setidaknya ditemukan tidak kurang dari 756 ilmuwan Muslim terkemuka yang memiliki konstribusi dalam perkembangan sains dan pemikiran filsafat. Daftar ini baru tahap awal, dan tidak termasuk di dalamnya ribuan ‘ulamÉ’ dalam disiplin ilmu-ilmu shar‘iyyah. Saat ini,  sangat banyak rujukan berupa buku[3], jurnal ilmiah atau situs internet, yang bisa kita gunakan untuk mengetahui informasi ini. Bahkan ada beberapa lembaga yang khusus didirikan untuk melakukan inventarisasi kontribusi ilmuwan muslim dalam peradaban dunia[4]. Namun sayangnya sejarah kegemilangan ilmuwan muslim ini amatlah langka kita temui dalam buku-buku sains di lingkungan sekolah dan akademik. Sejarah sains biasanya disebutkan dimulai sejak zaman Yunani Kuno kira-kira 550 SM pada masa Phytagoras, kemudian meredup pada zaman Hellenistik sekitar 300 SM yang dipenuhi mitos dan tahayul, kemudian bangkit kembali pada masa Renaissance sekitar abad 14-17 M hingga saat ini. Dengan demikian sejarah sains “hilang” selama lebih dari 1500 tahun lamanya dari buku-buku pelajaran dan buku teks sains![5] Ada diantara kaum muslim sendiri memandang usaha untuk mengungkap sejarah sains dan penemuan ilmuwan Muslim sebagai usaha yang bersifat apologetik dan hanya nostalgia semata. Namun pandangan sinis seperti ini sangat tidak benar, sebab menemukan akar sejarah adalah penting bagi peradaban manapun di dunia ini, terlebih bagi peradaban yang ingin bangkit dari keterpurukan.Cobalah renungkan, apa yang ada di benak anda ketika mendengar kata "kamera"? Banyak pelajar, mahasiswa atau bahkan guru dan dosen Muslim yang mungkin tak kenal sama sekali, bahwa perkembangan teknologi kamera tak bisa dilepaskan dari jasa seorang ahli fisika eksperimentalis pada abad ke-11, yaitu  Ibn al-Haytham. Ia adalah seorang pakar optik dan pencetus metode eksperimen. Bukunya tentang teori optik,  al-ManÉÐir (book of optics), khususnya dalam teori pembiasan, diadopsi oleh Snellius dalam bentuk yang lebih matematis. Tak tertutup kemungkinan, teori Newton juga dipengaruhi oleh al-Haytham, sebab pada Abad Pertengahan Eropa, teori optiknya sudah sangat dikenal. Karyanya banyak dikutip ilmuwan Eropa. Selama abad ke-16 sampai 17, Isaac Newton dan Galileo Galilei, menggabungkan teori al-Haytham dengan temuan mereka.  Juga teori konvergensi cahaya tentang cahaya putih terdiri dari beragam warna cahaya yang ditemukan oleh Newton,  juga telah diungkap oleh al-Haytham abad ke-11 dan muridnya Kamal ad-DÊn abad ke-14. Al-Haytham dikenal juga sebagai pembuat perangkat yang disebut sebagai Camera Obscura atau “pinhole camera”. Kata "kamera" sendiri, konon berasal dari kata "qamara", yang bermaksud "yang diterangi".  Kamera al-Haytham memang berbentuk bilik gelap yang diterangi berkas cahaya dari lubang di salah satu sisinya.  Dalam alat optik, ilmuwan Inggris, Roger Bacon (1292) menyederhanakan bentuk hasil kerja al-Haytham, tentang kegunaan lensa kaca untuk membantu penglihatan, dan pada waktu bersamaan kacamata dibuat dan digunakan di Cina dan Eropa.

Dalam bidang Fisika-Astronomi, Ibnu Øatir, ilmuwan Muslim yang mempelajari gerak melingkar planet Merkurius mengelilingi matahari. Karya dan persamaan Matematikanya sangat mempengaruhi Nicolaus Copernicus yang pernah mempelajari karya-karyanya.  Ibn Firnas dari Spanyol sudah membuat kacamata dan menjualnya keseluruh Spanyol pada abad ke-9.Christoper Colombus ternyata menggunakan kompas yang dibuat oleh para ilmuwan Muslim Spanyol sebagai penunjuk arah saat menemukan benua Amerika. Ilmuwan lain, Taqiyyuddin (m. 966) seorang  astronom telah berhasil membuat jam mekanik di Istanbul Turki. Sementara ZainuddÊn Abdurrahman ibn MuÍammad ibn al-Muhallabi al-Miqati, adalah ahli astronomi masjid (muwaqqit – penetap waktu) Mesir, dan penemu jam matahari. Ahmad bin Majid pada tahun 9 H atau 15 Masehi,  seorang ilmuwan yang membuat kompas berdasarkan pada kitabnya berjudul Al-FawÉ’id.

Ilmuwan Muslim lain,  Abdurrahman Al-Khazini, saintis kelahiran Bizantium atau Yunani adalah seorang penemu jam air sebagai alat pengukur waktu. Para sejarawan sains telah menempatkan al-Khazini dalam posisi yang sangat terhormat. Ia merupakan saintis Muslim serba bisa yang menguasai astronomi, fisika, biologi, kimia, matematika dan filsafat. Sederet buah pikir yang dicetuskannya tetap abadi sepanjang zaman. Al-Khazani juga seorang ilmuwan yang telah mencetuskan beragam teori penting dalam sains.  Ia hidup di masa Dinasti Seljuk Turki. Melalui karyanya, KitÉb MizÉn al-×ikmah,  yang ditulis pada tahun 1121-1122 M, ia menjelaskan perbedaan antara gaya, massa, dan berat, serta menunjukkan bahwa berat udara berkurang menurut ketinggian. Salah satu ilmuwan Barat yang banyak terpengaruh adalah Gregory Choniades, astronomYunani yang meninggal pada abad ke-13.

Nama lain yang sangat terkenal adalah Abu RayÍan al-Biruni dalam TahdÊd ×ikÉyah Al-MakÉn. Ia adalah penemu persamaan sinus dan menyusun dan menyusun sebuan ensiklopedi Astronomi Al-QanËn Al-Mas‘Ëdiy, di dalamnya ia memperkenalkan istilah-istilah ilmu Astronomi (falak) seperti zenith, ufuk, nadir, memperbaiki temuan Ptolemeus, dia juga mendiskusikan tentang hipotesis gerak bumi. Ia menuliskan bahwa bumi itu bulat dan mencatat “daya tarik segala sesuatu menuju pusat bumi”, dan mengatakan bahwa data astronomis dapat dijelaskan juga dengan menganggap bahwa bumi berubah setiap hari pada porosnya dan setiap tahun sekitar matahari.

Abdurrahman Al-Jazari, ahli mekanik (ahli mesin) yang hidup tahun 1.100 M, membuat mesin penggilingan, jam air, pompa hidrolik dan mesin-mesin otomatis yang menggunakan air sebagai penggeraknya, Al-Jazari sebenarnya telah mengenalkan ilmu automatisasi. Al-Fazari, seorang astronom Muslim juga disebut sebagai yang pertama kali menyusun astrolobe. Al-Fargani atau al-Faragnus, menulis ringkasan ilmu astronomi yang diterjemahkan kedalam bahasa Latin oleh Gerard Cremona dan Johannes Hispalensis. Muhammad Targai Ulugh-Begh (1393-1449), seorang pangeran Tartar yang merupakan cucu dari Timur Lenk, diberi kekuasaan sebagai raja muda di Turkestan, berhasil mendirikan observatorium yang tidak ada tandingannya dari segi kecanggihan dan ukurannya. Observatorium ini adalah yang terbaik dan paling akurat pada masanya, sehingga menjadikan kota Samarkand sebagai pusat astronomi terkemuka.

Ketika itu sudah terbit Katalog dan tabel-tabel bintang berjudul Zijd-I Djadid Sultani  yang memuat  992 posisi dan orbit bintang.  Tabel ini masih dianggap akurat sampai sekarang, terutama tabel gerakan tahunan dari 5 bintang terang yaitu Zuhal (Saturnus), Mustary (Jupiter), Mirikh (Mars), Juhal (Venus), dan Attorid (Merkurius). Kitab ini sudah mengkoreksi pendapat Ptolomeus atas magnitude bintang-bintang. Banyak kesalahan perhitungan Ptolomeus. Hasil koreksi perhitungan terhadap waktu bahwa satu tahun adalah 365 hari, 5 jam, 49 menit dan 15detik, suatu nilai yang cukup akurat. Ilmuwan lain lagi bernama Al-Battani atau Abu Abdullah atau Albategnius (m. 929). Ia mengoreksi dan memperbaiki sistem astronomi Ptolomeus, orbit matahari dan planet tertentu. Ia membuktikan kemungkinan gerhana matahari tahunan, mendisain catalog bintang, merancang jam matahari dan alat ukur mural quadrant. Karyanya De scientia stellarum, dipakai sebagai rujukan oleh Kepler, Copernicus, Regiomantanus, dan Peubach. Copernicus mengungkapkan hutang budinya terhadap al-Battani.

Dalam bidang pengobatan dan kedokteran, peradaban Islam mencatatkan sejarah yang gemilang, hal ini disebabkan karena pengobatan sangat erat kaitannya dengan agama.[6] Berbagai bidang dalam ilmu pengobatan dan kedokteran dipelajari, seperti ilmu obat-obatan, ilmu bedah, ophtamology, internal medicine, hygiene dan kesehatan masyarakat, anatomi dan fisiology, bahkan dalam Islam terdapat disiplin ilmu yang khas yang disebut dengan “Ïib an-NabÉwy” atau “pengobatan cara Nabi”. Sebagai contoh, misalnya karya monumental Ibn SÊnÉ al-QanËn fi aÏ-Ùib yang merupakan buku teks bagi bagi pendidikan kedokteran di Eropa selama beratus-ratus tahun sebelum mereka mengalami kebangkitan sains. Dalam bidang ilmu bedah ada tokoh ilmu bedah Abu’l QÉsim al-ZahrÉwi dengan karya ilmu bedahnya KitÉb al-taÎrif (The book of concession), ia juga menciptakan berbagai alat bedah yang masih digunakan para dokter bedah hingga saat ini. Dua ahli kedokteran ar-Razi (865-925) atau Rhazes dan Ibn SÊnÉ (980-1037) adalah pelopor dalam bidang penyakit menular. Ar-Razi telah mempelopori penemuan ciri penyakit menular dan memberikan penanganan klinis pertama terhadap penyakit cacar, dan Ibn SÊnÉ adalah salah satu pelopor yang menemukan penyebaran penyakit melalui air.

Adalah tidak mungkin mengungkap seluruh kontribusi ilmuwan Muslim dalam ruang yang begitu terbatas dalam makalah ini, namun sekurangnya gambaran yang diberikan di atas, dan referensi yang bisa ditelusuri lebih lanjut bisa menambah pengetahuan kita tentang sejarah sains di dunia Islam.

Prestasi dan kontribusi para ilmuwan Muslim ini perlu dikenalkan di sekolah- di sekolah-sekolah. Bukan untuk mengecilkan peran ilmuwan lain dari agama dan keyakinan lain. Tapi untuk mengungkap kebenaran sejarah sains, bahwa perkembangan  sejarah sains tidak meloncat begitu saja dari zaman Yunani ke Barat modern. Ada peran luar biasa dari peradaban Islam di situ yang tidak mungkin dan terlalu besar untuk diabaikan.

Faktor-Faktor Pendorong Tumbuhnya Sains Dalam Peradaban Islam

Ada banyak aspek yang menyebabkan sains atau komunitas ilmuwan berkembang, namun sekurangnya dapat dirangkum pada tiga faktor utama yang saling berkaitan: pertama, adanya suatu worldview dari masyarakatnya yang mendukung, worldview ini dapat berupa suatu pandangan hidup, agama, filosofi, dan lain-lain. Kedua, apresiasi dari masyarakat, yakni sikap dan penghargaan masyarakat terhadap para ilmuwan. Ketiga, adanya patronase dan dukungan dari penguasa.

Pertama, dorongan sebuah worldview dalam kemajuan sains merupakan unsur paling penting. Dalam Islam, worldview ini terpancar dari sumber utamanya yakni al-Qur’Én dan Sunnah. Motif agama dalam mempelajari sains ini dapat kita temui dari pengakuan seorang ilmuwan terkemuka al-Khawarizmi:

“Agamalah yang mendorong saya menyusun karya tulis singkat dalam hal hitungan dengan memakai prinsip operasi hitung seperti penambahan dan pengurangan, yang     bermanfaat untuk pengguna aritmatika, biasa diibaratkan para pria yang terlibat dalam    persoalan benda pusaka, warisan, perkara hukum, dan perdagangan serta dalam segala             kesepakatan kerja atau yang bertalian dengan pengukuran dalamnya tanah, penggalian         kanal, perhitungan geometri dan segala jenis objek dan yang ditekuninya.”

Para ilmuwan muslim pada umumnya tidak pernah menjadikan harta dan jabatan sebagai tujuan untuk pencarian ilmu. Sebaliknya, harta dan jabatan adalah sarana untuk pencarian ilmu. Ibnu Rusyd, Ibn Hazm, dan Ibn Khaldun adalah ilmuwan yang berasal dari keluarga kaya. Kekayaannya tidak menghentikan mereka dalam pencarian ilmu. Sebaliknya, al-JÉhiÐ, Ibn Siddah, Ibn Baqi, all-Bajji, adalah beberapa contoh ilmuwan yang miskin, namun kemiskinan tidak menghalangi kegairahan mereka terhadap ilmu. Jadi jelas bahwa harta dan kekayaan bukan tujuan mereka, ada dan tidak adanya harta tidak mengurangi gairah mereka terhadap ilmu. Ada suatu motif yang lebih luhur dalam pencarian mereka terhadap ilmu. Sikap dan pandangan para ilmuwan Islam ini tentu lahir dari sebuah konsep tentang ilmu, lebih luas lagi dari sebuah pandangan hidup, yakni worldview Islam.

Kedua, sikap masyarakat yang menghargai ilmu dan ilmuwan sesungguhnya lahir dari masyarakat yang sadar akan pentingnya ilmu. Sekali lagi, dorongan ini pun lahir dari motif agama. Penghormatan (adab) mereka yang khas terhadap ‘ulamÉ’ merupakan sesuatu yang unik dan sulit ditemui dalam masyarakat manapun, penghormatan yang bukan berasal dari pengkultusan individu, namun berasal dari suatu kesadaran akan mulianya ilmu dan mereka yang membawanya. Sebagai contoh ketika Imam al-RÉzi mendatangi Herat untuk berceramah, seluruh penduduk kota menyambutnya dengan sangat meriah bagaikan suatu hari raya, dan masjid raya pun penuh sesak dipenuhi jama‘ah yang hendak mendengarkannya.[7] Ini menunjukkan betapa besar penghargaan masyarakat kepada seorang ilmuwan. Masyarakat pada umumnya sangat antusias menyaksikan suatu ceramah umum, diskusi, debat terbuka, dan forum-forum ilmiah yang dibuka untuk umum. Para orang tua sangat ingin menjadikan anaknya sebagai ‘ulamÉ’, dan hal itu merupakan cita-cita yang paling mulia. Banyak diantara para ‘ulamÉ’ yang sudah dititipkan kepada ‘ulamÉ’ terkemuka sejak mereka masih sangat kecil dengan harapan agar anaknya menjadi seorang ilmuwan terkemuka.

Ketiga, peran dukungan atau patronase dari penguasa, misalnya berupa dana, merupakan hal yang tidak bisa diabaikan. Imam Asy-SyÉfi‘i dalam ad-DiwÉn pun menegaskan bahwa salah satu syarat untuk memperoleh ilmu adalah adanya harta untuk memenuhi fasilitas penuntut ilmu. Bentuk-bentuk patronase yang dialami oleh ilmuwan muslim adalah : undangan untuk memberikan orasi ilmiah di istana dan didengarkan oleh para penguasa; pembangunan sarana pendidikan seperti akademi, observatorium, perpustakaan, rumah sakit, madrsah, dll; penyelenggaraan event ilmiah seperti seminar; pemberian beasiswa; pemberian insentif pada karya-karya para ilmuwan.

Ketiga faktor di atas, jika ditelisik lebih dalam sebenarnya bermuara pada suatu semangat ilmiah yang bersumber dari suatu pandangan hidup tertentu. Suatu pandangan hidup yang meletakkan ilmu di posisi yang amat mulia, sehingga tak pantas jika seseorang melakukan pencarian ilmu semata-mata untuk mencari harta dan jabatan. Pandangan hidup itu ialah tidak lain dari Islam.

Posisi Sains Dalam Islam

Istilah sains dalam Islam, sebenarnya berbeda dengan sains dalam pengertian Barat modern saat ini, jika sains di Barat saat ini difahami sebagai satu-satunya ilmu, dan agama di sisi lain sebagai keyakinan, maka dalam Islam ilmu bukan hanya sains dalam pengertian Barat modern[8], sebab agama juga merupakan ilmu, artinya dalam Islam disiplin ilmu agama merupakan sains.

Untuk memahami posisi sains atau ilmu dalam Islam, kita harus memahaminya secara bahasa. Terdapat hubungan yang erat antara ilmu (‘ilm),  alam (‘alam), dan al-KhÉliq. Untuk menggambarkan secara singkat hal ini, marilah kita lihat kata ‘ilm, sebuah istilah yang digunakan dalam bahasa Arab untuk menunjukkan ilmu. Kata ‘ilm yang berasal dari akar kata yang terdiri dari 3 huruf, ‘a-l-m, atau ‘alam. Arti dasar yang terkandung dalam akar kata ini adalah ‘alÉmah, yang berarti “petunjuk arah”. Al-Raghib al-Isfahani (1997, s.v. “‘a-l-m”) menjelaskan bahwa al-‘alam adalah “jejak (atau tanda) yang membuat sesuatu menjadi diketahui’ (“the trace (or mark) by wich something is known”/”al-atsar alladzi yu’lam bihii syai’”).

Franz Rosenthal memberikan pandangannya yang menarik, the meaning of “to know” is an extension, peculiar to Arabic, of an original concrete term, namely, “way sign.”…the connection between “way sign” and “knowledge” is particulary close and takes on especial significace in the Arabian environment.[9]

Jadi kita melihat ada keterkaitan yang erat antara way sign (petunjuk arah) dengan knowledge (ilmu atau pengetahuan). Kemudian‘a-l-m juga ternyata akar kata bagi istilah yang sudah menjadi bahasa Indonesia, yaitu alam atau dalam bahasa arab ‘Élam yang secara umum berarti jagat raya-alam semesta yang mencakup apa yang ada di luar kita ÉfÉq atau makrokosmos (al-‘Élam al-kabÊr)  dan juga termasuk apa-apa yang ada di dalam diri kita atau anfËs atau mikrokosmos (al-‘Élam al-Îagir), yang dapat dipelajari dan diketahui. Hal ini juga disebutkan dalam al-Quran dan al-Hadits, bahwa semua benda dan kejadian di alam raya (universe) merupakan ÉyÉt Tuhan (tunggal, Éyah), yaitu petunjuk-petunjuk dan simbol-simbol Tuhan. Contoh dari ayat-ayat Tuhan itu adalah ali-Imran 190; Yunus 5-6; al-Hijr 16, 19-23, 85; an-Nahl 3, 5-8, 10-18, 48, 65-69, 72-74, 78-81; al-Anbiya 16; al-Naml 59-64; Ghafir, al-Mu’min 61; al-Mulk 2-5, 15, dan Fushilat 53.

Menurut DR. Mohd Zaidi Ismail, seorang pakar sains islam, ilmu Fisika yang merupakan bagian utama dalam natural science, dalam tradisi keilmuan dan sains Islam disebut sebagai ‘ilm al-tabÊ’ah (the science of nature). Kata al-ÏabÊ’ah diambil dari akar kata Ï-b-’a atau Ïab’a, yang berarti “kesan atas sesuatu (ta’Ïhir fii…), “penutup (seal), atau “jejak (stamp)” (khatm), maka ia menyiratkan “sifat atau kecenderungan yang dengannya makhluk diciptakan” (al-sajiyyah allatii jubila ‘alayha). Semua arti tersebut “mengasumsikan” adanya Sang Pencipta yang dengan cara-Nya mencipta (sunnatullah), membuat aturan (order), dan keberlangsungan (regularity) sejalan dengan universe sebagai kosmos-bertentangan dengan ketidakteraturan/chaos-dan memungkinkan adanya ilmu dan prediksi. Kemampuan memprediksi sebagai salah satu karakteristik Natural Science menjadi mungkin karena desain akliah (intelligent design) dan ketertiban yang terus-menerus pada alam, sesuatu yang tersimpulkan dalam konsep Islam, SunnatuLLÉh.

Dengan demikian maka alam ini dan kejadian-kejadian yang membentuknya dalam al- Qur’Én disebut sebagai ayat-ayat AllÉh (yaitu, petunjuk dan simbol-simbol Tuhan), demikian pula kalimat-kalimat dalam al- Qur’Én pun disebut dengan istilah yang sama yakni ayat. Hal ini menunjukkan bahwa keduanya, baik alam maupun al-Qur’Én adalah ayat yang berasal dari sumber yang sama, perbedaannya adalah bahwa alam adalah ayat yang diciptakan, sementara yang al- Qur’Én adalah ayat yang diturunkan (tanzil atau wahyu). Dengan demikian, bagi seorang ilmuwa muslim, seharusnya kegiatan sains pada dasarnya menjadi suatu usaha untuk membaca dan menafsirkan kitab Alam sebagaimana halnya ia membaca dan menafsirkan al- Qur’Én. Pandangan yang seperti inilah yang melandasi ilmuwan Muslim terdahulu.

Syed Muhammad Naquib al-Attas, seorang pakar pendidikan Islam juga menekankan hal ini dalam bukunya Prolegomena To The Metaphysics of Islam[10]:

“Alam raya seperti digambarkan dalam Kitab Suci al-Quran tersusun dari bentuk-bentuk simbolik (Éyat), seperti kata-kata di dalam sebuah kitab. Benar, bahwa alam raya adalah bentuk lain dari kenyataan ilahiyah yang dapat dipadankan dengan kitab suci al-Quran, hanya saja kitab alam yang besar ini merupakan sesuatu yang diciptakan, alam menyatakan  dirinya dalam bentuk yang banyak dan berbagai yang berwujud secara simbolis atas dasar bahwa semua itu diungkapkan terus-menerus mengikuti Titah Penciptaan Ilahi. Kata sebenarnya adalah simbol, dan untuk menegetahuinya dengan sebenar-benarnya, adalah dengan mengetahui apakah kata tersebut mewakili sesuatu, menyimbolkan sesuatu, dan memberi makna sesuatu. Jika kita menganggap sebuah kata seolah-olah memiliki realitasnya yang tersendiri, maka kata tersebut tidak lagi merupakan petunjuk atau simbol karena ia kini diperlakukan sebagai sesuatu yang menunjuk pada dirinya sendiri, dan ini bukanlah sesuatu yang sebenarnya.”

“Maka demikian pula studi mengenai alam, atau menganai apapun, mengenai setiap objek ilmu dalam alam ciptaan ini. Jika kata seperti “apa sebenarnya” dipahami sebagai hakikat yang berdiri sendiri, secara esensi dan eksistensi, seolah-olah ia adalah sesuatu yang pasti dan mampu untuk berada dengan sendirinya, maka studi tersebut tidak memiliki tujuan yang benar dan pencarian ilmunya menyimpang dari kebenaran, dan akhirnya validitas ilmu tersebut menjadi pertanyaan. [Hal ini] karena sesuatu “seperti yang sebenarnya” (as it really is) lain dari “apakah sesuatu itu” (what it is) dan itulah makna yang dimaksud (for as it really is a thing is what it means). Maka, sebagaimana studi mengenai kata sebagai kata membuat kita menyimpang dari kebenaran yng mendasarinya, keasyikan filsafat dan fisika atas benda sebagai benda mengarahkan kita pada kepercayaan umum yang salah bahwa benda-benda itu wujud di luar akal-fikiran sebagai kumpulan partikel-partikel yang terus ada dalam masa tertentu dan bergerak dalam ruang, seolah-olah partikel-partikel ini materi utama alam. Sedangkan, pada hakikatnya, isi “materi” terdiri dari rangkaian kejadian (a series of event; a’raad, sing. ‘arad), dan fenomena fisik adalah proses-proses yang setiap detilnya terputus.”

“Pada hakikatnya sesuatu itu, seperti juga kata, adalah sebuah petunjuk (tanda) atau simbol, dan petunjuk atau simbol adalah sesuatu yang dzhair dan tak terpisahkan dari sesuatu yang lain yang tak dzahir. Sehingga tatkala yang pertama itu sudah dapat ditangkap, dan yang bersifat dengan sifat yang sama dengan yang pertama itu tadi dapat diketahui. Oleh sebab itu kami telah mendefisnisikan ilmu secara epistemologis sebagai sampainya arti sesuatu itu ke dalam jiwa, atau sampainya jiwa pada arti sesuatu itu. “Arti sesuatu itu” berarti artinya benar, dan apa yang kami anggap sebagai arti yang ”benar” itu, pada pandangan kami ditentukan oleh pandangan Islam (Islamic vision) tentang hakikat dan kebenaran sebagaimana yang diproyeksikan oleh sistem konseptual al-Quran.”

Jadi bagi seorang saintis Muslim, melakukan kegiatan sains (mempelajari, meneliti dan mengajarkannya) pada intinya menjadi suatu usaha untuk membaca, memikirkan, mengartikan kitab alam yang terbuka secara benar.  Dengan demikian seorang ilmuwan tidak dapat tidak untuk memperhatikan kitab yang diturunkan dalam setiap aktivitasnya memperhatikan kitab ciptaan.

Dalam aktivitas membaca sebuah tulisan, seseorang harus membaca huruf-huruf yang merangkai sebuah kata dan menyusun suatu kalimat. Akan tetapi pembaca yang benar tidak hanya bisa membaca kata-kata, tetapi yang lebih utama adalah memahami maksud dan makna dari kata dan kalimat tersebut. Jika seseorang menganggap bahwa sebuah kata seolah-olah memiliki realitasnya yang berdiri sendiri, maka kata tersebut menunjuk kepada dirinya sendiri, yang mana hal tersebut bukan dirinya yang sebenarnya. Lantas kata tersebut akan berhenti berfungsi sebagai petunjuk atau simbol. Jadi yang terpenting dari kegiatan membaca adalah menangkap makna di balik kata dan huruf atau simbol. Menarik sekali analogi dari seorang pakar Islamisasi Sains Mohd. Zaidi Isma’il:

Misalnya seseorang sedang mengitari suatu daerah, kemudian menemukan peringatan yang ditulis dengan cat warna merah : ”AWAS ANJING GALAK!”, Jika dia cukup bijaksana, apa yang diharapkan untuk dilakukan adalah dia akan bereaksi pada pesan tersebut dengan meninggalkanya secepat mungkin, karena khawatir akan anjing galak. Tetapi misalnya yang dia lakukan justru menghabiskan waktunya dengan melihat komposisi kalimatnya, mengukur bentuk dan ukuran dari tiap huruf, mengamati warnanya, dan bayangannya, maka kewarasannya tentulah akan dipertanyakan. Dengan demikian jelaskan, bahwa kata sebagai sebuah simbol akan bermanfaat jika ia menunjuk kepada arti dan pesan yang ia sampaikan. Jika tidak, menjadi terpesona akan suatu kata, seseorang akan menghabiskan waktunya meneliti segala sesuatu di sekitar kata tersebut, tetapi kemudian kehilangan makna kata itu yang merupakan raison d’etrenya.

Demikian halnya juga ketika membaca alam raya ini yang disebut dalam al-Qur‘Én sebagai petunjuk (tanda-tanda) dan simbol-simbol dari AllÉh, sebagaimana ayat-ayat di dalamnya, maka kegiatan mempelajari, meneliti dan mengajarkan pelajaran sains alam tidak boleh hanya dipahami sebagai sesuatu yang tersediri, seolah keberadaanya berdiri sendiri “science for the sake of science”, tapi makna di sebalik alam raya inilah yang jauh lebih penting yakni Penciptanya. Dengan demikian kegiatan mempelajari alam, tujuan akhirnya adalah mengenal AllÉh SWT (ma‘rifatuLlÉh), yang harus dipandu dan dinaungi oleh kitab AllÉh yang lain, yakni al-Qur’Én.

Pandangan Islam tentang sains, dan adanya keselarasan atau kesepadanan antara kitab yang diturunkan dengan kitab ciptaan akan memberikan dampak dan akibat, baik secara teoretis maupun praktis, terhadap tujuan utama pendidikan dan pembelajaran sains dalam suatu masyarakat Muslim. Inilah mengapa para saintis muslim, seperti yang sudah kita ulas di atas, menjadikan aktivitas ilmiahnya sebagai ibadah, bukan hanya suatu jargon dan basa-basi belaka, namun dilandasi suatu pemahaman mendalam.

Realitas Saat Ini

Kondisi sains di dunia islam saat ini tercermin dari sistem pendidikannya. Arus sekularisasi telah membawa dampak hilangnya tujuan utama dari mempelajari sains dalam Islam, sebagaimana yang diutarakan dalam rintihan Muhammad Iqbal terhadap kondisi pendidikan saat ini:

Pendidikan tak lagi mengenal tujuannya. Karena pupusnya kegairahan, terrenggutnya jiwa dari keindahan alam, tiada bunga mekar di rantingnya. Anak-anak muda telah dididik menjadi itik! Bila ilmu tidak membawa kehangatan pada hidup, maka hati tidak akan menemukan kebahagiaan dalam ilham yang dibawa ilmu. (Javid Namah-Iqbal)

Tujuan utama sains yang sesungguhnya sejalan dengan tujuan pendidikan nasional: “menghasilkan manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri,..” hanya nampak dalam jargon, ia tidak nampak dalam akhlaq dan adab guru, murid, kurikulum, tata-tertib, aturan, dan hirarki ilmu dalam suatu lembaga pendidikan. Penyebabnya adalah kesalahan membaca sejarah dan mengadopsi bulat-bulat sistem pendidikan Barat. Tercerainya akhlaq dari sains atau pendidikan secara umum telah menghasilkan suatu generasi yang secara intelektual cerdas, profesional, namun dalam masalah ketaqwaan, moral dan pemahaman agama berada pada tingkat remaja atau kanak-kanak.

Sekularisasi terdiri dari tiga komponen yang saling berhubungan dan integral: Penghilangan pesona alam (yaitu rasa hormat dan kagum terhadap alam) (the disenchantment of nature), desakralisasi politik (the desacralization of politics), dan pelunturan nilai-nilai (the deconsecration of values), yang kita cermati dalam hal ini adalah aspek pertama. Dalam analisanya, penghilangan pesona alam adalah komponen yang paling dasar dalam dimensi sekularisasi sebagai sebuah program filsafat dan sudah barang tentu palin ditentang oleh pandangan Islam tentang alam. Penghilangan rasa hormat dan kagum terhadap alam, bila dipahami dan dipropagandakan sedemikian rupa, bertujuan pada akhirnya untuk menghilangkan pola pikir yang melepaskan nilai spiritual, dalam hal ini adanya Pencipta dari alam; menghilangkan penghargaan manusia terhadap alam hingga pada tahap memperlakukan alam dengan perilaku kasar dan penuh kebencian; menghancurkan harmonisasi antara manusia dengan alam. Sebaliknya, bagi seorang saintis muslim yang konsep keilmuannya berpusat pada kata kunci “AllÉh”, sulit diterima bahwa seseorang yang memegang teguh sistem tersebut justru mempropagandakan dan mengajarkan kepada para siswa dan mahasiswanya suatu sistem keilmuan dan sains yang orientasinya sekular, yang mencerabut unsur spiritual atas alam. Seseorang, dengan pemahaman seperti di atas, akan memperlakukan obyek ilmu secara berbeda. Paling sedikit dia tidak akan memperlakukan obyek tersebut sebagai “hanya obyek” yang dia dapat perlakukan semaunya. Karena sebagai petunjuk, berbagai macam obyek secara eksistensi dan epistemologis tidak pernah lepas dari Tuhan. Dengan memperlakukan mereka sebagai benda belaka, sebagai obyek tanpa arti lain, adalah menolak kenyataan bahwa mereka adalah petunjuk. Dan ilmuwan manapun yang melakukan hal ini sementara dia menyatakan diri sebagai Muslim, sebenarnya tidak memahami apa yang dikatakannya. Inilah masalah dan realitas paling mengkhawatirkan yang terjadi di dunia Islam saat ini.

Bahkan, dalam kondisi yang tengah dalam kehilangan orientasi yang benarpun, ummat Islam khusunya di Indonesia, masih sangat tertinggal dari negara lain. Sebagai contoh saja, rasio jumlah doktor per 1 juta penduduk di indonesia adalah 65, bandingkan dengan Israel yang mencapai 16500 atau India yang mencapai 1300. Buruknya kemampuan membaca anak-anak Indonesia berdampak pada penguasaan bidang ilmu pengetahuan dan matematika. Hasil tes yang dilakukan Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) pada 2003 terhadap para siswa kelas II SLTP 50 negara di dunia menunjukkan prestasi siswa-siswa Indonesia hanya mampu duduk di peringkat ke-34 dalam kemampuan bidang matematika. Siswa Indonesia hanya diberi nilai 411 di bawah nilai rata-rata internasional, 467. Sementara itu, hasil tes bidang ilmu pengetahuan hanya mampu menduduki peringkat ke-36 dengan nilai 420 di bawah nilai rata-rata internasional, 474.

Adanya fenomena hijrahnya para ilmuwan muslim ke negeri-negeri Barat merupakan masalah lain akibat hilangnya orientasi dalam mencari ilmu, dan tidak adanya penghargaan dan patronase dari penguasa dan masyarakat muslim saat ini. Dikabarkan bahwa dalam masa 10 tahun saja (1970 – 1980), Mesir telah kehilangan 950 orang yang berhasil meraih gelar doktor dalam berbagai profesi yang sulit diraihnya. Mereka menolak kembali ke negeri asalnya setelah selesai studi di AS. Di negara Pakistan, 3000 dokternya bekerja di luar negeri, sementara jumlah dokter di Pakistan tak lebih dari 15.600 orang. Di Pakistan pada masa itu satu orang dokter bekerja rata-rata untuk 7400 orang masyarakat, bahkan hingga 1:25.000 di daerah pedalaman. Bandingkan rasio ini untuk AS pada masa yang sama, satu orang dokter bekerja rata-rata untuk 400 orang. Mahasiswa Irak yang ditugaskan belajar ke luar negeri oleh pemerintahnya, 81-82% diantaranya menolak pulang kembali. Fenomena ini sebenarnya banyak kita temui di negara kita sendiri.

Kemungkinan Solusi

Sejarah, sebagaimana asal katanya berasal dari kata shajarah, bermakna pohon. Sebuah pohon memiliki akar, batang, dahan, ranting dan buah atau bunga. Kesalahan membaca sejarah, seringkali terjadi karena kita hanya mengamati dan mengaggumi buahnya, kita jarang mengamati akarnya. Kita begitu kagum dengan ilmuwan atau saintis muslim yang cemerlang dan gemilang, namun gagal memahami, mengapa dan bagaimana mereka dihasilkan dari suatu “pohon” peradaban. Akibatnya solusi yang dilakukan juga solusi permukaan, bukan solusi yang mendasar. Solusi terhadap masalah sains modern dalam dunia Islam haruslah solusi yang mendasar, solusi epitemologis, yaitu” islamisasi sains modern”. Suatu istilah yang menimbulkan kontroversi hebat di kalangan umat Islam sendiri, terutama para akademisi. Salah satu penyebabnya juga tidak lain karena penolakan dari kalangan akademisi akibat kesalahfahaman terhadap makna islamisasi dan makna sains atau ilmu.[11] Beberapa usaha telah dilakukan untuk melaksanakan proses islamisasi dalam berbagai jenis cabang ilmu. Namun sayangnya mereka yang memulai usaha proyek besar tersebut tidak berusaha memahami terlebih dahulu apa yang dimaksudkan dengan islamisasi. Al-Faruqi misalnya menekankan pada kesatuan ilmu pengetahuan dan beranjak dari tawÍid, dan yang pertama dilakukan adalah dengan melakukan islamisasi disiplin-disiplin ilmu modern dan buku-buku teks. Sardar menekankan pada sintesa sains dengan nilai-nilai, Bucaile melakukan metoda justifikasi dengan mencari kesesuaian temuan sains modern dengan nash-nash al-Qur’an. Hasilnya, sebagai contoh, kecenderungan baru atas nama “islamisasi sains” bermunculan. Reaksi dari proses islamisasi ini menimbulkan pro dan kontra, diakibatkan oleh kesalahfahaman pada konsep islamisasi ini. Islamisasi sains modern bukanlah terbatas pada menjustifikasi temuan sains modern dengan dalil al-Qur’Én atau hadÊth meskipun hal tersebut memang salah satu unsurnya dan memiliki landasan, juga bukan sebatas nostalgia pada kebesaran ilmuwan muslim terdahulu, meskipun hal tersebut sangat penting diketahui. Bukan pula sekadar melakukan islamisasi buku teks meskipun buku teks yang Islami sangat kita perlukan.Terlebih lagi jika ada yang berfikir bahwa islamisasi sains berarti nuklir islami, pesawat islami, elektron islami, tentu hal tersebut sangat keliru.

Selain tokoh-tokoh lainnya, gagasan islamisasi sains modern dari Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas sangat menarik dan perlu mendapat perhatian kita, sebab ia adalah salah satu tokoh awal yang mencetuskan ide ini ketika ummat Islam dihadapkan pada peradaban Barat. Sedangkan al-Attas berangkat dari hal yang lebih mendasar yakni bahwa islamisasi sains modern adalah hasil dari suatu pandangan alam (worldview).  Menurut al-Attas islamisasi sains sebenarnya ‘hanyalah’ konsekuensi dari proses islamisasi secara umum, ia mendefinisikan islamisasi sebagai: Islamisasi adalah pembebasan manusia dari hal-hal gaib, dongeng, animistis, tradisi kebudayaan-bangsa yang bertentangan dengan Islam, dan kuasa sekular dari pikiran dan bahasanya. Dengan demikian, islamisasi sains modern haruslah dimulai dengan islamisasi fikiran dan cara pandang, yakni dengan menanamkan pandangan alam (worldview)  Islam dalam fikiran saintis. Pandangan alam ini berisi sekumpulan konsep-konsep tentang Tuhan, alam, ilmu, manusia, Wahyu,  Nabi, sistem nilai dan lain-lain.

Islamisasi ini harus pertama-tama dilakukan terhadap pendidikan tinggi atau pendidikan dewasa, hal ini tidak bermakna pendidikan anak-anak atau remaja tidak penting. Namun pelaku pendidikan anak-anak dan remaja tidak lain adalah manusia dewasa juga. Jadi yang pertama kali harus dibenahi adalah pendidikan tinggi (SMU ke atas). Metoda ini pula yang dilakukan para Nabi ÎallaLlÉhu ‘alayhi wasallam ketika mendidik para sahabat raÌiaLlahu ‘anhum, sasaran utama da’wah Nabi ÎallaLlÉhu ‘alayhi wasallam terutama orang-orang dewasa dan bukan anak-anak. Perwujudan suatu universitas Islam yang sesungguhnya mendesak dilakukan, namun hal ini bukan saja memerlukan biaya dan dukungan masyarakat muslim, namun lebih penting dari itu adalah diperlukannya sejumlah besar ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu yang memiliki worldview, mabda, tashawwur yang Islami, yang memahami makna dan tujuan pendidikan.

Produk utama dari islamisasi sains ini adalah seorang manusia yang beradab, yang bukan saja ahli dan profesional dalam bidangnya, namun juga memiliki akhlak dan adab yang baik dan benar. Fikiran seorang saintis yang telah tertanam padanya suatu pandangan alam islam akan menghasilkan produk sains islam yang menghasilkan maslahat bagi masyarakat, dan memberi manfaat yang besar. Ia juga mampu memilah mana dari sains modern yang bisa diambil karena tak bertentangan dengan pandangan alam Islam, mana bagian yang bisa dibersihkan dari unsur yang bertentangan, dan mana bagian yang harus ditolak karena bertentangan. Itulah yang dinamakan Islamisasi. (Mohamad Ishaq, Peneliti PIMPIN)

Wallahu a’lam biÎawÉb

 

Footnote


[1] Disampaikan dalam acara Muslim Scientist Institute : Restorasi Kejayaan Ilmuan Muslim, ITB Bandung April 2011.
[2] Istilah science atau sains atau ‘ilm, memiliki pengertian berbeda dalam konsep Islam dengan konsep Barat. Islam memandang agama atau keyakinan adalah suatu ilmu (sains), tidak demikian dengan pandangan umum Barat.
[3] Contoh yang baik misalnya: buku karya S.H. Nasr “Islamic Science An Illustrated Study”, atau  karya Mehdi Nakosten “History of Islamic Origins of Western Education”
[4] Misalnya yang cukup representatif: www.1001inventions.com, atau www.muslimheritage.com
[5] Contohnya saja kita temukan dalam kebanyakan buku-buku pelajaran Fisika SMU, sejarah tentang ilmu optik selalu meloncat dari Euclid pada tahun 300 SM kepada Willebrord Snellius (1580–1626), sedangkan dua tokoh penting yaitu Ibn al-Haytham (965-1040) dan Ibn Sahl (940-1000) luput dari pembahasan, mereka berdua yang merupakan guru-murid ini disebut sebagai “the father of the modern optics”.
[6] Nasr, Seyyed Hossein. Islamic Science An Illustrated Study. World of Islam Festival Publishing Company Ltd.
[7] Kartanegara, Mulyadhi. Reaktualisasi Tradisi Ilmiah Islam. Penerbit Baitul Ihsan, hlm. 16.
[8] Disebut Barat modern karena, dalam pandangan Barat pun pada awalnya sains (scientia) tidak dibatasi pada cakupan sains seperti saat ini, science juga mencakup divine science. Secara bahasa, awalnya scientia, logos, knowledge adalah sama yakni pengetahuan.
[9] Rosenthal, Franz, “Triumphant of Knowledge”, hlm. 10.
[10] Al-Attas, Syed Muhammad Naquib al-Attas. Prolegomena To The Metaphysics of Islam. ISTAC. hlm. 133-134)
[11] Salah satu contoh saintis terkemuka yang menolak islamisasi sains adalah pemenang Nobel bidang Fisika Abdussalam dan banyak lagi dari mereka baik di dalam maupun di luar negeri

Sumber Gambar:
http://ordinaryalin.wordpress.com/2011/05/05/sejarah-peradaban-islam-dinasti-umayyah/mezquita_de_cordoba_mihrab/

author
One Response
  1. author

    jasa seo6 years ago

    Ma kasih buanyak pa ats infonya.

    Reply

Leave a reply "Sains dan Islam: Sejarah, Konsep, dan Masa Depan"