Bahasa dan Nilai

1 comment 98 views

Seorang teman dalam salah satu milis mengirimkan tulisan tentang kehebatan orang Jepang sebagai bangsa yang tidak mengenal istilah “minder”. Salah satu contoh ketidakminderan mereka adalah soal bahasa. Mereka tidak merasa rendah diri meskipun tidak menguasai bahasa Inggris. Dengan keterampilan bahasa Inggris yang memprihatinkan mereka tetap mampu tampil sebagai bangsa terhormat. Bahkan peraih Nobel Fisika 2008 dari Jepang, Prof. Maskawa, ternyata tidak bisa berbahasa Inggris sehingga pidatonya saat penganugerahan hadiah Nobel disampaikan dalam bahasa Jepang.Kegigihan bangsa Jepang mempertahankan bahasa mereka menunjukkan keyakinan mereka pada nilai-nilai mereka sendiri. Berkebalikan dengan orang Jepang, orang kita justru malu kalau gagap bahasa Inggris dan sebaliknya bangga bila menguasainya. Sekarang, anak-anak yang masih TK saja sudah diajarkan bahasa Inggris, padahal semua orang di sekelilingnya berbahasa Indonesia. Di berbagai sudut kota kita lebih mudah menemukan ungkapan-ungkapan Bahasa Inggris ketimbang Bahasa Indonesia. Ini menunjukkan bahwa orang kita minder terhadap bahasanya yang mencerminkan ketidakyakinan dengan nilai-nilainya sendiri.

Benarkah bahasa terkait dengan nilai-nilai? Sebagai contoh, bangsa kita dikenal sebagai bangsa yang sangat kental dengan nilai-nilai kesopanan khususnya terhadap orang-orang yang lebih tua. Kita memanggil orang yang lebih tua dengan kakak, abang, akang, mas, mbak, teteh, uni, dan sebagainya sebagai rasa hormat kita kepada mereka. Begitu juga dalam masyarakat kita panggilan istri kepada suami selalu berkonotasi seorang yang lebih dihormati seperti "abang", "akang", "mas", "uda", “kanda”, dan tidak sebaliknya. Kita tidak pernah mendengar seorang istri memanggil "adik" pada suaminya. Atau sebaliknya, seorang suami memanggil "uni" atau "teteh" kepada istrinya.

Bahasa Inggris tidak mengenal istilah kakak, saudara yang lebih tua, seperti halnya Bahasa Indonesia. Kata brother dan sister hanya mencerminkan perbedaan jenis kelamin. Ini menunjukkan pandangan hidup egaliter yang (hampir) menyamaratakan derajat semua orang. Bahkan memanggil nama saja kepada guru atau orang tua sudah dianggap biasa, padahal kalau di Indonesia hal ini menunjukkan ketidaksopanan. Itu sebabnya paham demokrasi begitu diagungkan di Barat, karena inti dari demokrasi adalah persamaan derajat bagi semua orang.

Yang menarik lagi adalah bahasa Arab. Bahasa Arab kental sekali dengan ungkapan-ungkapan yang bernuasa mendoakan orang lain seperti assalamu’alaikum, rahimahullah, radhiyallahu 'anhu, dan banyak lagi. Selain itu banyak ungkapan yang menunjukkan kekuatan, dominasi, atau keagungan Allah seperti astaghfirullah, insya Allah, masya Allah, alhamdulillah, subhanallah. Ini menunjukkan karakter masyarakat yang sangat dekat dan sangat menggantungkan dirinya dengan Tuhannya, Allah SWT.

Hal ini berbeda dengan Bahasa Inggris yang minim dengan istilah sejenis. Paling-paling hanya “God bless you” atau “Jesus Christ”, dan ini pun cukup jarang digunakan. Ungkapan seruan “Jiiz” yang merupakan penyingkatan dari kata “Jesus” malah lebih sering berkonotasi gerutuan daripada pengagungan Tuhan. Ini menunjukkan bahwa masyarakat Inggris (dan juga Barat umumnya) tidak memiliki kedekatan hubungan dengan Tuhannya. Meskipun mereka mayoritas beragama Kristen, namun nilai-nilai sekular lebih mendominasi sehingga agama tidak penting bagi mereka. Bahkan kalau perlu agama disingkirkan saja sebagaimana kata filsuf panutan mereka, Paul Sartre, “Bahkan jika memang Tuhan ada, maka ia perlu disingkirkan sebab gagasan Tuhan ini mengekang kebebasan kita.”

Kesimpulannya, bahasa secara umum mencerminkan nilai-nilai yang kita anut. Oleh karena itu perhatikanlah bahasa! (Wendi Zarman, Peneliti PIMPIN)

author
One Response
  1. author

    pyan sofyan solehudin6 years ago

    bahasa katanya sebagai hasil kreatifitas tertinggi umat manusia. bahasa tidak lahir dari ruang kosong, tapi terbentuk dari nilai-nilai yang dianut pada sosial kemasyarakatannya…memang bahasa kita–bahasa Indonesia atau bahasa Sunda, Jawa, atau bahasa daerah lainnya–seperti adanya hirarkis, yang mungkin dalam pandangan Orientalis itu sebentuk Feodalisme.

    Maka Ajip Rosidi pun menyimpulkan bahwa sebenarnya Bahasa Sunda pada awal perkembanganya tidak mengenal hirarkis, seperti untuk yang lebih tua harus berkata ini, kepada yang muda sebaiknya itu (bahasa: halus, loma, kasar), tapi semenjak jawanisasi atau akibat ‘penjajahan’ oleh kerajaan Mataram, maka Bahasa Sunda pun ter-jawanisasi-kan…

    Mungkin menurut hemat sendiri, hirarkis tidak selalu berkonotasi buruk atau anti kemajuan seperti pandangan Orientalis. tapi hirarkis sangat perlu, seperti pendapat Naquib Al-Attas bahwa dunia Muslim sekarang telah mengalami dekadensi hirarkis ilmu. Hirarkis adalah pijakannya teorema emanasi atau maqam kesufian..

    Reply

Leave a reply "Bahasa dan Nilai"