Deislamisasi Bahasa

1 comment 190 views

Perhatikanlah sekeliling kita. Di televisi, radio, koran, buku, majalah, papan iklan, atau percakapan di situs pertemanan  internet. Semakin hari Bahasa Indonesia semakin kehilangan jatidirinya. Orang Indonesia mulai asing dengan bahasanya sendiri dan sebaliknya makin akrab dengan bahasa Inggris.

Jika kecenderungan ini dibiarkan berlanjut maka hal ini akan berpengaruh buruk terhadap perkembangan Islam di Indonesia. Bagaimana bisa?Menurut Izutsu, seorang pakar semantik kenamaan, tiap kosakata atau sistem konotatif, mewakili dan mewujudkan suatu pandangan alam (worldview) yang khas (Izutsu, 1993). Artinya, bahasa bukan sekedar alat komunikasi, tetapi juga merupakan sarana untuk menyebarluaskan pemikiran. Itu sebabnya dalam perkembangan sebuah peradaban selalu diikuti dengan penyebarluasan bahasa.

Syed Muhammad Naquib al-Attas, seorang pakar sejarah Melayu, menyebutkan bahwa Bahasa Melayu (Indonesia) adalah bahasa yang telah diislamkan. Bahasa ini telah direka-ulang oleh para ulama masa silam untuk keperluan dakwah. Jika bahasa telah diislamkan, maka Islam akan lebih mudah masuk ke dalam fikiran masyarakat Nusantara.

Untuk mengislamkan Bahasa Melayu, para ulama memasukkan kosakata kunci pandangan alam Islam ke dalam Bahasa Melayu, semisal ilmu, akal, ruh, adil, ilham, nafsu, yakin, fikir, faham, alam, sadar, dan lain-lain. Bahkan, para ulama juga memberi makna baru terhadap kosakata Sansekerta seperti pahala, dosa, surga, neraka, dan lainnya. Semua ini dalam rangka menyebarkan Islam kepada masyarakat.

Jika demikian halnya, maka membanjirnya kosakata Inggris ke dalam Bahasa Indonesia mengisyaratkan pengikisan pandangan alam Islam dalam Bahasa Indonesia –sebuah deislamisasi bahasa. Di satu sisi kosakata Islam semakin terpinggirkan, sedangkan di sisi lain kosakata kunci pandangan alam Barat seperti sekular, liberal, demokrasi, toleransi, rasional, pluralisme, humanis, feminis, dan moderat semakin mendapat tempat. Kata-kata ini semakin sering kita dengar dan dibincangkan dalam media massa, ruang kelas, rapat atau dalam perbincangan di warung kopi.

Kata-kata ini masuk ke dalam alam bawah sadar dan secara perlahan membentuk cara pandang baru dalam pemikiran umat. Bagi mereka yang terdidik dengan kerangka berfikir Islam yang mapan, hal itu dapat dihindari. Tapi masyarakat pada umumnya tidaklah demikian, kebanyakan mereka memiliki pemahaman Islam yang dangkal.

Deislamisasi bahasa ini juga menimbulkan kekacauan makna. Kekacauan makna ini pada akhirnya menimbulkan kebingungan. Orang menjadi bingung mana yang Islami dan mana yang tidak Islami. Sebagai contoh banyak orang terkecoh seakan-akan pluralisme agama sesuai dengan Islam. Hal ini karena pluralisme agama selalu dikaitkan dengan kerukunan beragama.

Namun, sedikit yang menyadari bahwa pluralisme agama membonceng faham relativitas agama. Bahwa semua agama itu sama saja, karena semua mengajak kepada kebaikan. Inilah sebabnya MUI menyatakan pluralisme agama bertentangan dengan Islam.

Contoh lainnya adalah mengenai istilah scientific dengan ilmiah. Dalam percakapan sehari-hari bila kita mengatakan “tidak ilmiah” itu berarti “tidak scientific.” Penyamaan ini sebenarnya menyesatkan.

Scientific yang berasal dari kata science dulunya bermakna pengetahuan secara umum. Makna ini lalu menyempit menjadi pengetahuan yang terkait dengan objek-objek inderawi (empirisme). Maka agama pun dikeluarkan dari science. Agama hanyalah dogma, karena membahas hal yang “tidak bisa dibuktikan”.

Sedangkan ilmiah (berasal dari kata ‘ilm/ilmu) bermakna lebih luas. Di dalam Islam ilmu mencakup objek inderawi maupun non-inderawi. Maka itu di dalam Islam, agama adalah ilmu yang diakui kebenarannya. Jadi, menyamakan scientific dengan ilmiah sama artinya dengan menyempitkan makna ilmu sebagaimana science.

Semua kenyataan ini tentunya tidak berarti disikapi dengan menolak bahasa Barat. Apalagi era globalisasi sekarang membuat kita sulit menghindari serbuan istilah asing. Namun, yang perlu diwaspadai adalah penyerapan istilah-istilah kunci dari bahasa asing tersebut serta pengaruhnya terhadap cara pandang kita. Sebab, jika hal ini diabaikan maka itu sama artinya membiarkan Islam terhapus dari fikiran umat Islam sendiri. (Wendi Zarman, Dosen Unikom, Peneliti PIMPIN)

author
One Response

Leave a reply "Deislamisasi Bahasa"